Godaan terbesar dalam menulis adalah bisikan untuk berhenti sejenak, kemudian molor lebih lama….

Saya mulai aktif menulis sejak tahun 2014.  Dibandingkan dengan teman-teman lain, saya mengakui kalau saya bukanlah penulis yang produktif. Kalau mau lihat statistiknya, jumlah tulisan saya di blog ini saja kurang dari 100 artikel, begitu pun di kompasiana, masih juga dibawah angka 100. Buku? Saya baru menelurkan satu buku kompilasi yang pengerjaannya dikeroyok dengan teman-teman blogger lainnya. Ini bukanlah pencapaian yang bisa dibanggakan.

Sebagai penulis part time yang nulis cuma kalau mood, dan ada waktu, saya akui saya masih menghadapi hambatan untuk konsisten menulis. setidaknya ada dua masalah utama yang menjadi barrier saya dalam menulis.

Pertama, saya tak punya banyak waktu. Ini mungkin sebatas alasan saja, karena sebagai orang yang menulis baru sebatas info, saya tak terlalu ngoyo buat nulis. Apalagi ditambah kesibukan kerja, yang membuat energi lebih banyak dicurahkan untuk pekerjaan. Bagusnya, seiring perjalanan waktu, saya menemukan waktu terbaik buat nulis ini. Seperti yang saya bilang dalam artikel Kapan Waktu Terbaik Buat Nulis?, saya menemukan kenyamanan menulis pada dini hari menjelang shubuh. So, harusnya saya sih bisa mengatasi masalah soal waktu ini.

Kedua, malas. Saya ini terhitung orang yang moody, kadang semangat kadang malesnya minta ampun. Termasuk dalam menulis. kalau penyakit malas datang, ya sudah saya biasanya stuck untuk menulis. jujur, sampai sekarang saya belum bisa mengatasi sepenuhnya penyakit malas ini. Saya masih mencari formula terbaik untuk mengatasinya.

Salah satu solusi buat rasa malas ini adalah meningkatkan motivasi diri dengan mengingat momen-momen yang menyenangkan sebagai impact dari aktifitas menulis ini. Caranya? Saya kumpulkan dokumentasi pencapaian yang bisa dibilang mengesankan buat saya. Misalnya, saya buka-buka kembali screen shoot pengumuman pemenang lomba blog competition, dimana saya jadi juaranya tentunya. Buka-buka foto yang memajang saya saat menerima hadiah juara nulis. Kemudian, melihat-lihat komentar pembaca yang bisa merasakan manfaat dari tulisan saya… saya sih berharap semua itu bisa jadi mood booster saya dalam menulis. Tapi suer, sampai sekarang metode ini masih angina-anginan, kadang berhasil kadang tetap saja malas melanda.

Begitulah adanya saya,…kamu bagaimana?

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *