4 Tahun Indonesia Kreatif: Kamu Mau Apa Anak Muda?

Pak Andoko Darta, Memaparkan Program Pemerintah terkait 4 Tahun Indonesia Kreatif

Jadi anak muda Indonesia saat ini sungguh beruntung. Mau jadi apa pun, Pemerintah sudah memberi banyak fasilitas. Mungkin hanya butuh kemauan dan ketekunan saja untuk menjadi apa yang mereka mau.

Namanya Tedi Abdul Nur Wahid. Hari Kamis, 22 November 2018 kemarin adalah hari bersejarah baginya. Hari itu, ia di wisuda sebagai sarjana jebolan teknik sipil, Universitas Gadjah Mada.

Apa istimewanya orang wisudaan? Ngapain juga saya ceritain di blog ini?

Tunggu dulu Ferguso,… ada cerita seru dibalik kisah wisudaan anak ini.

Kisah Sukses Beasiswa Bidik Misi

Tedi berasal dari keluarga tak mampu di kampung Coblong, daerah pelosok di wilayah Purwakarta. Bapaknya adalah kuli kasar yang kadang senin bekerja dan kamis tak bekerja. Ibunya membuka warung seadanya dengan pendapatan tak menentu. Dengan penghasilan yang kembang kempis, kedua orang tuanya harus menghidupi Tedi dan ketiga adiknya.

Secara matematis, sulit rasanya untuk Tedi untuk bisa meraih pendidikan tinggi. Saya masih ingat, sekali waktu Bapaknya sempat berucap bahwa ia cukup sekolah sampai SMA saja, untuk kemudian bekerja demi membantu ekonomi keluarga.

Beruntung Tedi adalah tipe anak yang bermental baja. Sadar ekonomi keluarganya pas-pasan, ia tetap memupuk asa untuk meraih pendidikan tinggi. Ia sadar, hanya dengan pendidikan tinggi ia bisa membantu ekonomi keluarganya.

Dengan mental baja, ia tekun menuntut ilmu. Sadar bahwa Bapaknya tak bisa membiayai ongkos sekolah, seragam maupun biaya hidup hariannya, selama SMA ia memilih nyantri di pesantren dekat sekolahnya, dengan asumsi biaya hidup gratis dari pesantren serta tak perlu ongkos angkot.

Ketika tiba kelulusan SMA, ia kemudian mengetahui informasi soal Beasiswa Bidik Misi, program pemerintah yang memberikan biaya full gratis bagi anak-anak berprestasi dari keluarga tidak mampu. Dengan semangat ingin meraih pendidikan tinggi, ia kemudian membidik Pendidikan di Teknik Sipil UGM dengan biaya dari beasiswa bidik misi ini.

And here he goes… tahu-tahu ia sudah diwisuda saja kemarin.

Btw, kamu penasaran kenapa saya ceritain kisah anak ini? Iya, saya adalah kakak asuh anak muda luar biasa ini.

==

Kisah diatas bisa jadi cerminan bagi siapa saja dalam meraih cita-cita. Mantra “Man Jadda Wa Jadda” sungguh-sungguh berlaku. Asal kita punya kemauan keras, jalan akan terbuka lebar.

Sengaja saya ingin mengangkat kisah Tedi diatas di tulisan ini. Hari ini, Jum’at 23 November 2018, saat saya mengikuti kegiatan flash blogging 4 tahun Indonesia Kreatif, saya mendapat paparan soal kerja pemerintah dalam memberi sarana untuk warganya dalam memperbaiki taraf hidupnya, termasuk biaya pendidikan warganya.

Ikutan nongkrong di acara Flashblogging

Adalah Pak Andoko Darta, Tenaga Ahli Kementerian Komunikasi dan Informatika RI yang  memaparkan apa yang disediakan pemerintah untuk mendukung pembangunan manusia Indonesia.

Tahu gak sih kenapa negara kita konsen membangun ekonomi kreatif? Ada alasan khusus yang saya sendiri baru tahu kenapa pemerintahan Jokowi fokus pada ekonomi kreatif. Salah satunya adalah untuk menghindarkan diri dari jebakan betmen yang dalam bahasa Inggris disebut, “Middle Income Trap”, atau dengan kata lain negara dengan penghasilan menengah.

Saat negara lain sudah melesat pendapatannya, kita masih stagnan dengan pendapatan yang segitu-segitu saja.

Dari situ kemudian Jokowi fokus membangun ekonomi kreatif. Kenapa? Karena pola lama yang menggantungkan pembangunan pada industri migas, tambang maupun yang lainnya tak berhasil. Coba saja, sekarang kita sudah krisis migas karena sudah habis disedot, atau hutan-hutan yang hilang habis dibabat atas nama pembangunan. Hasilnya? Kita masih segini-segini aja.

Dari sini, pemerintah kemudian fokus pada pembangunan ekonomi kreatif. Hasilnya? Kata Pak Andoko, kontribusi ekonomi kreatif meningkat setiap tahunnya sebesar 5,78 persen. Angka ini diatas kontribusi sector ekonomi lain, termasuk migas, kehutanan maupun yang lainnya.

Terus, ada 4 perusahaan start-up Indonesia yang masuk dalam 7 perusahaan unicorn terbesar di Asia Tenggara. Siapa tak kenal Gojek, Tokopedia, Bukalapak dan Traveloka? Keempat usaha rintisan ini sekarang bernilai lebih dari 1 Milyar Dollar.

Untuk mendukung pembangunan ekonomi kreatif tersebut, pemerintah fokus pada 2 hal. Pembangunan Infrastruktur dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Nah, pada titik ini saya teringat dengan kisah Tedi dan Wisudaannya diatas.

Tedi adalah salah satu anak yang terselamatkan cita-citanya dengan fasilitas beasiswa yang disediakan oleh pemerintah.Ya, Beasiswa Bidik Misi dalah salah satu program beasiswa yang dianggarkan pemerintah.

Sebagai catatan, anggaran untuk beasiswa ini selalu meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2014 saja, pemerintah menganggarkan 126 Triliun Rupiah, sedangkan pada 2018 ini sudah melejit menjadi 147 Triliun Rupiah. Demi apa? Tentu saja demi menghasilkan manusia Indonesia yang berkualitas seperti kisah Tedi diatas.

Lebih lanjut, Pak Andoko menjabarkan bahwa untuk anak muda Indonesia, sebenarnya bisa menjadi siapa saja yang mereka mau dan pemerintah sudah memberi fasilitasnya. Terkait ini Pak Andoko mengutip hasil riset mengenai tipe-tpe anak muda.

Menurut riset, ada 6 (enam) tipe anak muda, Kreator, Peduli, Pahlawan, Eksplorer, Cendekiawan, dan Orang Biasa. Mau jadi apapun, pemerintah menyediakan fasilitasnya.

Infografis Program Pemerintah Untuk Anak Muda Indonesia

Semisal, untuk menjadi seorang Kreator, mereka yang ingin mendirikan start-up bisa memeanfaatkan fasilitas BeKraf (Badan Ekonomi Kreatif) berupa channel Go StartUp Indonesia yang mempertemukan calon pengusaha start up tersebut dengan para investor. Buat mereka yang ingin mendirikan usaha kecil dengan modal minim, ada program PNM yang memberi kucuran dana hinggal 10 juta rupiah.

Buat mereka yang ingin menjadi Eksplorer yang senang jalan-jalan, pemerintah banyak membangun berbagai infrastruktur yang memudahkan kita buat melancong. Sebut saja, bandara udara yang semakin cakep, atau jalan tol yang semakin panjang.

Buat yang ingin menjadi pahlawan, semisal atlet, ada jaminan menjadi PNS di kementerian Pemuda dan Olahraga buat yang berprestasi, atau kucuran bonus hingga satu miliar untuk peraih medali pada event internasional, seperti Asian games kemarin.

Mau jadi cendekiawan? Ini apalagi, diatas saya sudah cerita soal kucuran dana beasiswah hingga triliunan. Yang paling gampang adalah soal peraih beasiswa LPDP dari kementerian keuangan yang sudah ribuan. Kini buat sekolah ke luar negeri semakin mudah saja.

Kurang apa lagi coba?

Mungkin yang diperlukan anak muda saat ini adalah kemauan dan tekad kuat untuk menjadi apa yang mereka mau. Soal fasilitas, Pemerintah telah memberi berbagai kemudahan melalui program-program pembangunan yang dilaksanakan, baik fisik maupun non fisik seperti apa yang saya ceritakan diatas.

Saya sudah memberi contoh bagaimana seorang anak muda bernama Tedi bisa menjadi sarjana dengan memanfaatkan fasilitas beasiswa Bidik Misi.

Pertanyaannya, kamu sudah tahu mau jadi apa?

Ofi Gumelar

8 thoughts on “4 Tahun Indonesia Kreatif: Kamu Mau Apa Anak Muda?

  1. Yang sulit itu proses mendapat beasiswanya Kang. Begitu kata pemuda (lulusan SMK dj tempat saya) pertama karena tidak tahu informasi detail, jadi kalau nanya sama pihak tertentu justru malah dimintai duit duluan. Jelas si anak bukan maju, malah kapok.
    Kedua sosialisasi ke daerah memang tidak sampai. Kalaupun sampai tidak full. Itu tadi masih banyak oknum yg ngambil kesempatan dari kesempitan. In formasi sengaja disimpan, kalau pun ada, tidak buat orang lain, tapi keluarga sendiri dulu, atau siapa yang berani bayar itu tadi.
    Ini pengalaman asli di Cianjur Selatan Kang
    Yang urusan birokrasi dll jauuuh harus ke kota kabupaten dengan jarak kendaraan 3-7 jam. Ongkos PP 150ribu. Itu buat ngurus syarat2 saja. Sementara melihat kerumitan itu saja, jangankan orang tua yg hanya petani, para guru sekolah saja malas mengurusnya…

    1. Ini PR buat pemerintah, ternyata masih ada oknum yang manfaatin hal-hal yang seperti ini. Jelas ini gak boleh terjadi. Kebetulan pengalamannya sangat beda dengan anak ini teh, di Purwakarta ceritanya tak seperti yang diceritakan teteh diatas. Boleh dibilang disini sosialisasinya bagus, semua well informed. Guru disekolah sangat membantu, dan cerita kutipan seperti yang disebut teteh tak terjadi pada kasus anak ini. Saya tahu soalnya saya mengawal proses ngurus-ngurusnya sejak awal.

  2. Alhamdulillah…. Terimakasih sebuah penuturan yang sederhana akan tetapi penuh makna dan sarat informasi.
    Tidak perlu mengangkat sebuah kisah yang super heroik akan tetapi berangkat dari cerita sederhana bisa menjadi inspirasi buat kita semua. Terimakasih teruslah berkarya kang Ofi…

Leave a Reply to Okti Li Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *