Begini New Normal Saya di Masa Pandemi Covid-19

Begini New Normal Saya di Masa Pandemi Covid-19

“Terkadang perbuatan ringan menjadi besar pahalanya karena besarnya niat.”

Gara-gara kebijakan work from home yang diterapkan kantor demi memutus mata rantai penyebaran Corona viruses Diseases 2019 (Covid-19), sudah lebih dari dua bulan saya berdiam diri di rumah saja. Demikian pula anak saya, harus rela belajar di rumah saja alih-alih di sekolah.

Jujur saja, selama dua bulan me-lockdown diri di rumah, saya pernah merasa bosan. Wajar sih, kita yang biasanya banyak beraktivitas kesana kemari, tiba-tiba harus menyetop semua itu. Kamu bagaimana? Apakah merasakan hal yang sama? Bosan di rumah saja?

Kemarin-kemarin saya merasakan hal tersebut. Bosan, kesel, mager gak puguh semua bercampur jadi satu. Tapi kemudian, saya berdamai dengan kondisi ini. Mau bagaimana lagi, demi kebaikan bersama saya harus memaksakan diri betah di rumah saja. Supaya gak bosan, saya coba mengubah cara pandang terhadap keharusan berdiam diri di rumah ini. Bagaimana caranya?

Pertama, saya mencoba bersyukur terhadap kondisi ini. Dengan kebijakan Work From home, saya jadi punya banyak kelapangan waktu. Saya jadi punya waktu untuk merekatkan kembali kebersamaan dengan keluarga di rumah, demi mengganti waktu-waktu kemarin yang habis terpakai untuk ukuran pekerjaan.

Kedua, saya mencoba meluruskan niat. Bismillah, saya ingin aktivitas selama di rumah saja ini bernilai ibadah, supaya berkah dan ada value pada setiap aktivitas yang saya lakukan. Bukankah rasul telah menyebutkan bahwa segala sesuatu itu berawal dari niat?

 “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Betapa pentingnya niat ini karena ia akan menentukan hasil. Beda niat, maka hasilnya pun akan beda, demikian pula kalau niatnya salah maka hasilnya akan salah. Maka, demi menjalankan niat baik itu, saya mencoba memperbanyak niat baik. Soal ini, Ulama Yaman Sayyid Muhammad bin Alwi Alaydrus memberi panduan tentang sejumlah niat baik saat diam di rumah yang ditulis dalam kitab berjudul Niyyatul Julusi fil Bait.

Sesuai tuntunan kitab tersebut, beberapa niat yang saya terapkan selama di rumah saja antara lain sebagai berikut: niat mengharap ridha Allah (Allah menjadikan bagimu rumahmu sebagai tempat tinggal, QS An-Nahl 80), niat membantu anggota keluarga lain (Ummul Mukminin Aisyah berkata, “Rasulullah saat di rumah dalam kesibukan membantu istrinya. Apabila tiba waktu shalat, beliaupun pergi shalat, HR Bukhari Muslim), niat melaksanakan perintah Rasulullah (Sahabat bertanya, “Apa saja yang membuat seseorang peroleh kebahagiaan dalam hidupnya?” Rasulullah bersabda, “Peliharalah lisanmu, lapangkanlah rumahmu (dengan amal kebaikan), dan menangislah terhadap dosa yang engkau lakukan HR Abu Daud), niat menghidupkan cahaya bagi rumah kita (Terangilah rumah kalian dengan shalat dan membaca Al-Quran, HR Baihaqi), niat mengikuti anjuran Kepala daerah (Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian, QS An-Nisa 59), dan niat menunjukkan empati atas musibah kaum muslimin(Barang siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin maka dia bukan bagian dari mereka, HR Al Hakim).

Demikianlah, diawali dengan niat baik dan rasa syukur tersebut, saya kemudian menjalani hari-hari di rumah saja dengan perasaan senang. Tak ada lagi rasa bosan menghinggapi. Kebetulan pula masa berdiam diri di rumah saja ini berbarengan dengan bulan ramadan, semoga saja pahalanya menjadi berlipat ganda.

Ketiga, tentu saja lakukan aktivitas harian dengan berpijak pada niat tersebut. Demi beradaptasi dengan keadaan, tentu ada rutinitas baru (new normal) yang saya lakukan di masa pandemi Covid-19 ini. Lalu, seperti apakah rutinitas harian saya selama masa me-lockdown diri ini? Di luar aktivitas sholat wajib, berikut beberapa hal yang menjadi aktivitas harian saya saat ini.

Aktivitas harian saya di pagi hari dimulai dengan berdonasi. Saya pernah membaca keterangan soal kebaikan dan keutamaan bersedekah di waktu shubuh.  Di momen ramadan ini, saya meniatkan diri untuk mengamalkan sekedah shubuh ini. Karena itulah sebelum memasuki bulan ramadan, saya sudah mengalokasikan sejumlah uang untuk berinfak.

Sayangnya karena kita masih dalam masa pandemi Covid-19, saya tak bisa keluar rumah, pun demikian masjid juga ditutup. Beruntung saat ini ada banyak Yayasan amal yang membuka rekening khusus untuk Zakat, Infaq, Shodaqah dan wakaf seperti Dompet Dhuafa. Caranya pun gak ribet, cukup transfer sejumlah uang ke rekening mereka, dan Insya Allah niat sedekah kita sudah terlaksana dengan baik.

Jadi begitulah, selepas sholat shubuh, saya langsung bergegas mengambil handphone dan bersedekah via m-banking ke Dompet Dhuafa. Simpel banget kan?

Kemudahan berdonasi di Dompet Dhuafa via M-Banking (Sumber: Dokpri)

Soal penyalurannya pun saya tak khawatir. Lembaga ini terkenal punya kredibilitas dan akuntabilitas yang baik. Mereka kerap memposting di akun media sosialnya tentang program-program bantuan, sebut saja bantuan Sembako untuk masyarakat terdampak Covid-19, bantuan APD untuk tenaga medis, maupun urunan THR bagi masyarakat miskin.

Kalau mau spesifik, tinggal kasih keterangan saja mau disalurkan kemana. Lagipula mereka punya rekening khusus untuk setiap programnya. Kalau saya sih bebas saja, semua programnya juga terasa sangat penting kok.

Salah Satu Program Dompet Dhuafa (Sumber: IG @ddsulsel)

Yang menenangkan lagi, setiap kali kita transfer, selalu ada report balik berupa sms maupun bukti kuitansi penerimaan dalam bentuk pdf yang dikirim via email. Adem kan?

Laporan SMS Dari Dompet Dhuafa (Sumber: Dokpri)
Kuitansi Donasi Dikirim Ke Email Pribadi (Sumber: Dokpri)

Saya berharap, aktivitas ini jadi jalan saya mekaksanakan niat menunjukkan empati atas musibah kaum muslimin.

Selepas shubuh, saya biasanya beres-beres rumah. Ini saya lakukan di rentang waktu sebelum masuk jam kerja. Yaa,… sampai jam 7an laah. Saya kebagian menyapu, ngepel, bersih-bersih debu dan kalau ada waktu cuci mobil. Aktivitas yang sangat jarang dilakukan dalam masa normal.

Biasanya tiap pagi kami selalu bergegas, mandi dan persiapan berangkat kerja sambil antar anak sekolah. Urusan beres-beres rumah selalu jadi urusan istri. Alhamdulillah, kini dengan kelapangan waktu yang saya miliki, saya bisa membantu istri di rumah. Semoga saja apa yang saya lakukan bisa jadi implementasi dari niat membantu anggota keluarga lain sekaligus meneladani apa yang dilakukan rasul.

Membantu Membereskan Rumah, Jadi New Normal Saya (Sumber: Dokpri)

Dari jam tujuh sampai jam empat, saya mengalokasikan waktu untuk work from home. Iya, inti utama berdiam diri di rumah saja pada dasarnya adalah untuk tetap bekerja meskipun harus di rumah. Dengan menyulap meja kerja di kamar untuk menjadi area kerja, saya beraktivitas dalam rentang waktu tersebut untuk bekerja.

Work From Home, Menjadi New Normal di Masa Pandemi (Sumber: Dokpri)

Komunikasi data biasanya dilakukan melalui sambungan internet dengan memanfaatkan beragam aplikasi. Paling mudah kami biasanya berkomunikasi lewat

Tentu saja, tak semua jam kerja tersebut saya habiskan untuk pekerjaan. Ada masanya kerjaan tersebut sudah beres hanya dalam hitungan jam saja. Biar gak bosan, saya gunakan kelonggaran waktu tersebut untuk melakukan sesuatu yang bernilai kebaikan.

Membaca Buku, Jadi Alternatif Untuk Menghilangkan Kejenuhan Selama WFH (Sumber: Dokpri)

kalau lagi santai, saya biasanya membaca buku koleksi saya. kebetulan ada banyak buku yang belum saya tamat membacanya. Pilihan lain kalau lagi malas membaca, saya biasanya nonton youtube. Menonton konser musik atau film bisa jadi alternatif demi menghindari kebosanan. Atau biar berfaedah, saya kerap menonton channel Tedx. Ada banyak ilmu yang bisa diserap di sana. Yaa, hitung-hitung upgrade skill laah…

oh ya, saya juga sedang keranjingan ikutan kelas online. di masa pandemi Covid-19 ini ada banyak yang menyelenggarakan kelas online ini, baik berbayar maupun gratisan. Kalau memungkinkan, saya kerap mengikuti kegiatan ini. Lumayan buat meningkatkan kapasitas diri. Kelasnya sendiri biasanya dilakukan melalui aplikasi zoom. Wah seru juga ternyata, selain menambah skill bisa berkenalan dengan banyak teman dari kota lain di Indonesia.

Mengikuti Kelas Online, Jadi Ajang Upgrafe Skills dan Silaturahmi (Sumber: Dokpri)

Selepas work from home, saya biasanya menutup hari dengan olahraga ringan. Ini juga termasuk new normal di masa pandemi covid-19 yang patut saya syukuri. Di hari biasa mana sempat saya Olahraga? Sekarang dengan adanya kelonggaran waktu tersebut, saya punya kesempatan untuk menjaga kebugaran tubuh ini.

Olahraga yang saya pilih sih yang simpe saja, yang tidak memerlukan banyak alat. Saya memilih senam Tabata. Itu lho, senam yang terhitung paket Komplit baik itu kardio maupun aerobic dalam satu set gerakan senam yang singkat. Dengan panduan instruktur di channel youtube, saya bisa mengikuti gerakan senam ini dengan mudah. Tak perlu banyak durasi, cukup 10 sampai 15 menit lumayan bikin badan berkeringat.

Senam Tabata, Aktifitas Sore Hari Semasa Pandemi (Sumber: Dokpri)

Selama bulan ramadan, aktivitas senam biasanya saya lakukan di waktu menjelang maghrib. Jadi, saat tubuh haus dan letih, waktu berbuka sudah menjelang. Kalau sudah begitu, langsung saja saya segarkan dengan hidangan berbuka yang sudah disiapkan istri. Hmm,… yummy.

Dengan rutinitas baru seperti yang saya ceritakan di atas serta dengan niat beribadah, Alhamdulillah kini tak ada lagi rasa bosan menghinggapi. Setiap kali lintasan rasa itu datang, simpul neuron di otak saya mengirim sinyal untuk mengingat niat baik saya di awal masa Work from home ini.

Yang saya rasakan, dengan work from home ada banyak keuntungan yang saya peroleh. Ikatan keluarga jadi makin kuat, skill makin terasah, dan mudah-mudahan nilai ibadah di setiap aktivitas saya semakin meningkat.

Tentu saja, saya tetap berharap agar pandemi Covid-19 itu bisa Segera diatasi. Sementara itu, demi kebaikan bersama, demi mendukung Pemerintah dan mengikuti ketentuan Allah, cukuplah kita berdiam diri dulu di rumah. Bukan begitu?

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition “Ceritaku Dari Rumah” yang diselenggarakan oleh Ramadan Virtual Festival dari Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan”

Ofi Gumelar

18 thoughts on “Begini New Normal Saya di Masa Pandemi Covid-19

  1. Alhamdulillah, dapat insight baru nih. Setuju sih, kalau niatnya ibadah bisa jadi panduan buat kita dalam beraktivitas.

  2. Wah seru juga kak rutinitasnya. Biarpun di rumah terus, yang penting dibikin hepi aja ya kak. Eh kalau niatnya ibadah, semoga apapun aktivitasnya yang prnying bisa dapat pahala kebaikan

  3. new normal saya selama pandemi ini adalah belajar menggambar kartun lewat kelas online. lumayan mengasah kreativitas

  4. Inspiratif kang, soal donasi di waktu shubuh bisa dicontek nih. Gak perlu repot-repot juga ternyata, cukup m-banking aja ya?

  5. Baru ngeuh soal niat selama dirumah aja. Setuju sih, terkadang amalan hati ini selalu terlupakan. Wah, saya harus mereset ualgn niat saya nih

  6. Alhamdulillah nambah penyegaran nih buat pemikiran yang rada” butek dari kemarin karena cukup jemu juga dengan keadaan ini, tapi abis baca artikel kang ofi ada sentilan juga buat saya, makasih ya dah dikasih kesempatan buat baca, berkah buat kita semua, aamiin

Leave a Reply to Ofi Gumelar Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *