Belajar Bisnis Ala Waroeng Steak & Shake

Owner Waroeng Steak & Shake Berbagi Cerita Soal Bisnis

Hari minggu kemarin, 18 November 2018, saya bersama istri pergi ke Bandung dalam rangka ikutan kegiatan seminar bisnis yang diampu oleh owner Waroeng Steak and Shake, Mas Jhodi dan Mbak Aniek. Yaaa, jauh dilubuk hati kami berdua sebenarnya terselip keinginan untuk berbisnis, cuma sampai sekarang belum kesampaian juga.

Demi menguatkan niat kami, rasanya perlu dong diperkuat mental dan niat ini dengan ikutan seminar bisnis. Siapa tahu bisa segera take action…bukan Cuma sekedar niat saja. Oh ya, seminar bertajuk BEDUA (Belajar Dunia Usaha) dilaksanakan di gerai terbaru Waroeng Steak and Shake di bilangan jalan BKR, Bandung. Ini adalah outlet ke 78 Waroeng Steak and Shake se-Indonesia. Keren yaa…

Acaranya sendiri diadakan pagi hari mulai jam 8.20 WIB. Makanya, selepas jam 6 pagi kami berdua sudah berkendara menembus jalan tol Cipularang demi mengejar tidak telat. Kan mental pebisnis itu salah satunya tepat waktu bro,… hehehe!

Kalau boleh direview, sebenarnya mas Jhodi dan Mbak Aniek gak banyak bercerita tentang teknis bisnis kuliner itu seperti apa. Mereka lebih banyak sharing pada soal cerita bagaimana perjalanan mereka memulai bisnis kuliner hingga usahanya bisa sedemikian maju.

Buat mempersingkat tulisan, berikut poin-poin penting yang saya dapatkan dari cerita mereka berdua dalam membangun bisnis. Siapa tahu menambah semangat juga buat kamu yang membaca tulisan ini.

Rex Marindo, Owner Warung Upnormal, Jadi Bintang Tamu Acara Seminar BEDUA

Bisnis itu dipikirin. Ini adalah poin penting bagaimana mereka berdua membangun bisnisnya. Tahu kan ada idiom yang bilang, “udah kalau mau bisnis mah langsung action aja,…gak usah kebanyakan mikir!” ini ada benarnya sih,… cuma buat menjaga dan mengembangkan bisnis yang sudah di-actionkan itu perlu dipikirin. Mau seperti apa strategi marketingnya, bagaimana pola rekrutmennya,…buka cabang lagi apa nggak, dan sebagainya.

Dari sini juga mas Jhodi berpesan, kalau ngerekrut karyawan itu harus yang juga mikirin bisnis yang kita jalanin. Bukan sekedar mengoperasionalkannya saja. Bukan apa-apa, bukankah bisnis kita juga jadi lahan nafkah mereka? Naik tidaknya pendapatan mereka juga tergantung dari perkembangan bisnis kita. Iya juga sih,…

Kompak bagi-bagi tugas. Sebagai bisnis yang dibangun oleh suami istri, disini memang perlu ada kerjasama yang baik. Ego masing-masing harus dikesampingkan. Mereka berdua mencontohkan bagaimana peranan masing-masing dijalankan. Mas Jhodi kebagian yang mikirin konsep, sementara Mbak Aniek yang take action di lapangan. Mas Jhodi menyebut kalaupun ada konsep, ia perlu bikin proposal dulu kepada sang istri untuk disetujui soal pendanaannya, mengingat sang istrilah yang memegang keuangan perusahaan.

Soal ego juga jadi nasihat penting yang disampaikan Mbak Aniek. Katanya, istri tuh jangan membantah atau menyepelekan ide-ide yang disampaikan oleh suami, …intinya jangan bikin down dia laah dengan pemikiran-pemikirannya. Yang ada justru harus didukung. Kalau pun dirasa kurang pas, penyampaian argumentasinya harus diusahakan gak bikin suami tersinggung.

Nah, konsep ini sebenarnya berlaku bukan hanya buat di bisnis yaa,..dalam kehidupan sehari-hari juga rasanya tetap harus berlaku.

Intip Strategi Tetangga. Salah satu strategi pengembangan bisnis Waroeng Steak & Shake adalah senantiasa belajar dari bisnis kuliner lain yang perkembangannya pesat. Mas Jhodi gak segan buat belajar dari bisnis kuliner baru maupun lama yang terbukti melesat terus usahanya.

Asyiknya lagi, karena udah banyak duit dia mah gak tanggung-tanggung, langsung beli frenchisenya saja buat kemudian dipelajari sistemnya dari dalam. Sebagai contoh, saat ini Mas Jhodi beli hak usahanya Warung Upnormal dan Bebek Slamet.

Setidaknya dari Upnormal, Mas Jhodi belajar bagaimana mendesain outlet yang cocok buat anak muda, yang bikin betah orang buat nongkrong di warung. Sedangkan dari Bebek Slamet, ia belajar bagaimana soal efisiensi pengelolaan outlet. Bayangin aja, satu outlet Bebek Slamet yang sehari bisa beromset 100 ekor bebek cuma dijaga oleh 3 orang karyawan saja, Itu Sudah include yang masak maupun yang menyajikan hidangan.

Jangan Napsu Ambil Margin. Ini salah satu rahasia perkembangan bisnis Waroeng Steak & Shake. Ternyata margin yang diambil dari usaha mereka tak lebih dari 7 persen saja. Kecil ya, ….memang. Ini mungkin strategi bagaimana mereka berdamai dengan harga jual steak agar tetap bisa menjangkau kalangan menengah ke bawah. Tahu kan kalau Waroeng itu target marketnya adalah mahasiswa. Tahu meureun mahasiswa berapa daya belinya? Mungkin yang penting mah traffic banyak,…margin bakal mengikuti kemudian.

Rasa itu Yang Utama. Nah, soal bisnis kuliner, rasa dan menu menjadi andalan mereka. Memang outlet yang cakep dan nyaman bisa jadi prioritas utama, tapi tanpa dibarengi dengan rasa dan menu yang menarik, mana ada konsumen mau balik lagi.

Kedua suami istri ini bercerita bagaimana mereka bereksperimen dalam menciptakan menu yang ditawarkan. Contohnya, bagaimana Mas Jhodi rela mencicipi makanan bekas tamu yang gak habis, demi menginvestigasi apa yang kurang dari hidangan mereka.

Oh ya, soal menu mereka juga belajar mengamati bagaimana orang Indonesia itu gak bisa jauh-jauh dari yang namanya tepung. Itu lah alasannya kenapa mereka menyajikan steak yang ada tepungnya. Selain untuk menekan harga, juga karena alasan tepung yang krispi dan krauk krauk itu disukai banyak orang Indonesia.

Hmm, banyak sebenarnya yang mereka berdua sampaikan, tapi intinya mungkin ada di beberapa poin diatas. Satu hal yang pasti, saya melihat bagaimana kekompakan mereka berdua dalam menjalankan bisnisnya.

Bakat bisnisnya juga bahkan menular ke anak-anak mereka. Ternyata, acara seminar bisnis BEDUA ini EO nya adalah anak mereka sendiri. Saya melihat bagaimana kedua anak mereka pontang panting menyiapkan segala keperluan seminar,…mulai dari menata kursi, menjadi resepsionis tamu, hingga juru kamera. Semua dilakukan oleh anak-anak Mas Jhodi dan Mbak Aniek. Kereennn…

Sepulang dari acara ini, saya langsung mikir,… “Ah, gw kebanyakan mikir, bisnisnya gak jadi-jadi!”

Sesi Wajib Sehabis Acara Seminar

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *