Apa Susahnya Menjaga Badan Tetap Fit?

Untuk Aktif Menjelajar Dunia, Dibutuhkan Tubuh Yang Sehat (Sumber: dokpri)

Sehat itu mahal. Sayangnya banyak orang yang menganggap sepele hal ini. Biasanya kita baru ‘ngeh’  ketika tubuh sudah menuntut bolak balik masuk rumah sakit. Saat itulah baru terasa pentingnya menjaga kesehatan tubuh.

Kesadaran akan pola hidup sehat semakin banyak dianut masyarakat kita. Terbukti beragam pilihan diet sehat sekarang banyak berkembang. Sebut saja diet OCD yang dipopulerkan Dedy Corbuzier, diet keto, atau diet rendah lemak. Bagi para penganutnya, diet yang mereka pilih diklaim paling terbaik untuk pola hidup yang mereka jalani.

Saya termasuk yang telat sadar untuk menjaga pola hidup ini. Saya sih merasa tak ada yang salah dengan kondisi badan ini. Saya gak ngerokok, gak minum alkohol dan gak pernah begadang atau keluar malam. Bagi saya itu cukup ‘sehat’ untuk dijalani.

Tapi saya lupa, ada pola makan dan olahraga yang harus juga diperhitungkan dalam hidup ini. Dalam hal keduanya, saya terhitung lalai.

Kesadaran itu muncul begitu saja. Bukan tanpa sebab tentunya, tapi dipacu oleh kondisi teman yang sudah harus bolak balik rumah sakit karena ‘ada yang tak beres’ dengan tubuhnya.

Yap, diusia yang masih terhitung 36 tahun, salah satu teman saya mengalami strok ringan. Tak sampai kaku gak bisa bergerak, tapi cukup melumpuhkan aktifitasnya yang segudang. Kesimpulan dokter cukup sederhana, ia mengabaikan dua hal penting, pola makan teratur dan olahraga secukupnya. Pada titik ini, saya setali tiga uang dengannya.

Bercermin dari pengalaman hidup teman tersebut, saya coba cek kondisi badan. Tak perlu sampai general check up, saya menyadari ada sesuatu yang salah dengan tubuh saya belakangan ini.

Gampang capek, badan seringkali pegal-pegal,  nafas ngosngosan dan celana kesempitan. Takaran kuantitatif paling gampang adalah cek berat badan. Dan omg,… berat saya mencapai 72 kg. Angka yang tak pernah saya raih sebelumnya.

72 Kg Terlalu Berat Buat Saya (Sumber: dokpri)

Btw, tinggi badan saya Cuma 165 cm, dan kalau menurut rumus sederhana berat badan ideal, harusnya berat saya ada dikisaran 55-60 kg laah. Selama ini range berat badan saya ada di angka 60-64 kg. Angka yang menurut saya sendiri sudah ideal.

Dan kini, berat badan saya tembus 72 Kg. Dengan bayangan tak ingin mengalami kejadian seperti apa yang dialami teman dekat tersebut, saya harus berubah. Saya harus menjaga pola makan dan olahraga saya.

Sejak saat itu saya berusaha lebih care terhadap tubuh ini.  Apa yang saya lakukan?

Saya tak mau ambil pusing dengan jenis diet yang lagi ngetren saat ini. Karena masih banyak kontroversi yang menyertai diet-diet yang sedang berkembang saat ini, saya memutuskan tak memilih satu diantaranya. Lagipula kalau dicermati, masing-masing diet tersebut cukup eksklusif, terlalu banyak pantangannya dan selektif memilih jenis makanan. Pikir-pikir pasti berat dikantong.

Saya lebih memilih cara jaman saya anak-anak . pernah dengar empat sehat lima sempurna? Ini sepertinya lebih reasonable buat saya. Diet yang dulu dipopulerkan Prof. Dr. Poerwo Soedarmo tahun 1950 ini ternyata sekarang telah dirubah dengan nama pola gizi seimbang. Apapun itu intinya kurang lebih cukupi asupan nutrisi dan pola hidup sehatmu.

Diagram Pola Gizi Seimbang (Sumber: kompas.com)

Kalau dicermati dari skema pola gizi seimbang tersebut, selain dari takaran jenis-jenis makanan yang kaya beragam nutrisi yang dibutuhkan tubuh, juga dibarengi dengan olahraga dan minum yang cukup. Intinya, ada 4 prinsip yang harus dipegang disini, yaitu: membiasakan makan makanan sehat yang beragam, pola hidup bersih, pola hidup aktif dan berolahraga, serta pantau berat badan.

Oke Noted! Lalu bagaimana aksi saya menerapkan 4 prinsip tersebut. Biar pun belum sempurna, setidaknya saya berusaha laah menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Gak pake ribet, saya beberin saja disini yaa, kurang lebih beginilah gaya hidup saya saat ini:

Membiasakan makan makanan sehat yang beragam

Saya sedang gandrung makan makanan rumahan. Kebetulan istri termasuk orang yang kalau makan dalam piringnya harus ada sayur-sayuran. Jadi Insya Alloh soal sayuran pasti terpenuhi tiap hari. Untuk lauk atau sumber proteinnya, saya sedang gandrung makan tempe. Dalam seminggu, mungkin ada empat hari dalam piring saya tersaji tempe. Lumayan buat substitusi kalau gak ada daging atau telur. Daging mahal cuyyy….

Tempe jadi makanan favorit menyehatkan (Sumber: dokpri)

Kalau dikantor, saya lebih senang makan siang di warung makan sederhana, dan mengurangi makan di gerai cepat saji. Selain makanannya hommy dengan lebih beragam, juga menghemat kocek di kantong. Apalagi tanggal tua.

Meskipun tak rutin ada setiap hari, dalam seminggu saya berusaha mengkonsumsi buah-buahan. Makin banyaknya kios penjual buah-buahan cukup membantu aksesibilitas saya memperoleh buah-buahan. Kalau tak sempat makan buah, saya sering membeli jus buah. Ini cukup membantu untuk asupan buah saya.

Yang sedang jadi concern saya saat ini adalah mengurangi asupan gula. Yes, dalam diagram pola gizi seimbang pun dianjurkan untuk menjaga asupan gula, garam dan minyak. Berat memang, ..tapi ya harus diusahakan. Kini saya lebih sering mengurangi porsi nasi dalam piring saya dan memilih menambah jatah sayuran. Kalau kebetulan lagi ada acara nginep di hotel, saya lebih memilih bahan makanan substitusi nasi. Kentang katanya lebih rendah gula dibanding nasi.

Kentang bisa menjadi substitusi nasi yang rendah gula (sumber: dokpri)

Soal asupan air minum, saya termasuk yang irit minum. Entah tak pernah haus atau malas minum, terkadang sehari saya minum hanya kalau habis makan saja. Tentu saja ini tak bagus. Alarm kurang air secara sederhana biasanya saya dapat kalau sudah sembelit dan sariawan/bibir pecah-pecah. Bagi saya ini warning.

Untuk mensiasati disiplin dalam menjaga asupan air putih 8 gelas sehari, saya mensiasatinya dengan menyajikan air minum kemasan ukuran gelas di meja ruang kerja saya. Ini cukup membantu saya mengukur sudah berapa gelas saya minum.

Untuk berdisiplin Minum 8 Gelas Sehari, Saya mengukur dengan minum AMDK Gelas (Sumber: Dokpri)

 

pola hidup bersih

Kalau soal ini, rasanya saya sudah tak bermasalah. Rumah selalu dipel setiap hari, dan saya mengerjakan bagian menyapu ataupun ngepel. Ini sekaligus mengaktifkan badan untuk berolahraga.

Jujur yang paling susah adalah membiasakan diri untuk mencuci tangan setiap memulai dan mengakhiri aktifitas makan. Terkadang saya jorok langsung makan saja, tanpa mencuci terlebih dahulu. Saya mensiasatinya dengan menempel poster cuci tangan di dekat meja makan. Ini cukup efektif buat warning diri agar lebih disiplin mencuci tangan.

Pola Hidup Aktif dan Berolahraga

Hal yang paling saya abaikan dalam hidup saya selama ini mungkin olahraga. Dalam setahun, boleh dihitung jari kapan saya menyempatkan diri secara sengaja untuk olahraga. But, mengingat dampak buruknya manakala ada teman yang jatuh sakit parah, saya harus memaksakan diri untuk berolahraga.

Btw, soal hidup aktif dan olahraga ternyata bukan soal melakukan olahraga resmi olimpiade saja. Ternyata hal-hal kecil pun yang membuat tubuh kita gerak juga bisa dikategorikan bergerak aktif.

Seperti saya bilang sebelumnya, saya mengepel dan menyapu rumah jika saya pulang cepat atau saat hari libur. Ini lumayan menggerakkan tubuh saya. Termasuk mencuci motor atau mobil pun saya lakukan sendiri, demi membuat tubuh ini bergerak aktif dan berkeringat.

Nah kalau soal olahraga resmi, sekarang saya sedang merutinkan diri untuk berlari setiap hari sabtu. Olahraga ini terhitung murah dan menyenangkan. Biasanya saya lari di taman kota. Selain banyak teman, adanya tumbuhan besar disekitar taman cukup memberi oksigen lebih saat saya berolahraga.

Saya juga mulai membiasakan diri untuk bike to work. Well, sebenarnya kebiasaan ini sempat saya rutinkan saat kuliah di negeri sakura. Di sana mah rata-rata setiap orang bersepeda, jadi saya semangat untuk bersepeda. Sepulang ke Indonesia, sempat sih menggiatkan diri bersepeda dengan bekal sepeda yang dibawa dari Jepang. Tapi belakangan karena Cuma sendiri, saya sempat tersendat. Kini, saya mulai membiasakan diri lagi. Selain bersepeda ke kantor, untuk sekedar urusan pergi ke masjid atau mampir ke toko di komplek perumahan, saya juga membiasakan bersepeda.

Merutinkan kembali bike to work (sumber: dokpri)

Kalau tidak sempat membawa sepeda, kalau ke kantor membawa kendaraan, saya sengaja parkir di tempat yang jauh dari kantor. Lumayan membiasakan diri agar jalan kaki walau beberapa menit. Ini cukup membantu saya untuk bergerak aktif.

Untung juga ruang kerja saya ada di lantai 2 yang harus menaiki tangga. Bukankah ini cukup membantu untuk mengaktifkan badan saya?

Pantau berat badan

Ini mungkin bagian yang masih jarang saya lakukan. Selain memang tak ada timbangan di rumah, saya cukup mengandalkan feel diri sendiri untuk mengukur berat badan. Kalau dirasa celana sempit, atau badan terasa berat dibawa gerak, ini alarm buat saya soal kelebihan beban. Yaa, mungkin nanti saya harus memaksakan diri membeli timbangan badan.

Nah, itu beberapa langkah yang saya lakukan dalam menjaga badan tetap fit. Sederhana kan? Bagi saya yang paling susah adalah konsistensi diri biar secara rutin melakukan hal-hal tersebut diatas. Tapi Alhamdulillah, selama ini saya merasa fit dan selalu segar beraktifitas. Semua karena menerapkan gaya hidup pola gizi seimbang tersebut.

So, bagaimana dengan anda?

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *