Raksa Online: Asuransi Mobil Yang Gak Pake Ribet

  “Saya memilih Raksa Online karena simpel, kalau mau klaim cukup kirim whatsapp dan mereka akan datang untuk survey, mereka kemudian akan merekomendasikan bengkel dan janjian mau ke bengkelnya kapan,…selebihnya mereka yang mengurus semuanya” – King, Costumer Raksa Online Apa yang diharapkan dari sebuah perusahaan jasa atau layanan? Tentu saja kemudahan, respon cepat dan jaminan…Continue Reading “Raksa Online: Asuransi Mobil Yang Gak Pake Ribet”

Memaknai Negeri Nusantara di Tanah Paman Sam

Sebagai bangsa yang pernah dijajah ratusan tahun, salah satu penyakit akut warisan penindasan kolonial adalah perasaan inferior dibanding negara lain. Meskipun sudah 71 tahun merdeka, masih banyak yang mengelu-elukan apa yang dimiliki negara lain dan mengerdilkan bangsa sendiri. Masyarakat kita sering menganggap hebat bangsa asing. Tengok saja, selepas masa reformasi, alih-alih membangun bangsa Indonesia dengan…Continue Reading “Memaknai Negeri Nusantara di Tanah Paman Sam”

 

RISHA itu cantik, sederhana, dan punya daya tarik tersendiri untuk memikat banyak orang. Kalau kamu sudah kenal dekat dengannya, yakin deh bakal kepincut. Tapi ia sepertinya masih malu-malu, sehingga tak begitu atraktif menarik perhatian banyak orang.  

Saya masih ingat, pertama kali berkenalan dengannya di Graha Wiksa Praniti, Bandung pada tanggal 7 Mei 2015. Saat itu saya dikenalkan dengan RISHA oleh para peneliti di Puslitbangkim (Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman) yang berada di bawah Balitbang Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat). Kebetulan saya diperkenalkan dengannya dalam acara Kolokium Puslitbangkim Kementerian PUPR. Dia itu cantik, sederhana dan mudah dibongkar pasang.

Jangan keliru, RISHA disini bukanlah cewek, meskipun namanya memang feminin. RISHA adalah singkatan dari Rumah Instan Sederhana Sehat. Sebuah inovasi pembangunan rumah sehat hasil kerja peneliti di Puslitbangkim tersebut. RISHA diharapkan bisa menjadi solusi penyediaan perumahan yang sehat dengan biaya yang murah.

pus
Rumah Konsep RISHA (sumber: puskim.pu.go.id)

Iya, sebagai negara dengan jumlah penduduk lima besar di dunia, salah satu konsekuensi permasalahan dari membludaknya jumlah penduduk di Indonesia adalah semakin tingginya kebutuhan akan rumah sehat yang biaya pembangunannya dapat dijangkau masyarakat. Mengutip data dari Bappenas, saat ini Backlog atau kekurangan rumah di negeri ini mencapai 13,5 juta unit dan pada saat yang sama, kebutuhan akan rumah baru mencapai 800 ribu unit setiap tahunnya. Ini tentu saja menjadi PR tersediri bagi pemerintah.

RISHA kemudian lahir untuk menjawab masalah tersebut. Dikembangkan sejak 2004, RISHA dirancang sebagai rumah yang dibangun secara knock down. Layaknya permainan lego, rumah RISHA dibangun dengan menyambungkan panel-panel beton menggunakan baut, tanpa perlu semen dan bata. Asyiknya, karena bisa dibongkar pasang, panel-panel RISHA bisa digunakan kembali saat akan merenovasi atau malah pindahan rumah. Konsep sambung menyambung panel ini begitu praktis, dimana tiap panel beton bisa berfungsi sebagai pondasi, balok, kolom, sloop, dan kuda-kuda. Ekonomis banget yaa?

ruma.com1
Panel-Panel RISHA siap dirangkai (sumber: rumah.com)

Untuk membangun sebuah rumah tipe 36, RISHA dapat selesai disusun hanya dalam tempo 3 hari dengan pekerja kurang dari 5 orang. Cepat kan? Total biaya yang diperlukan untuk membangun rumah setara tipe 36 ini sekitar 35-40 juta rupiah. Murah banget kan? Perbandingannya dengan rumah yang dibangun secara konvensional bisa sekitar 1:1,5. Wow, hari gini dengan uang segitu bisa dapat rumah?

RISHA sendiri telah mendapat sertifikasi SNI. Panel-panel RISHA terbuat dari beton bertulang (precast concrete) yang kuat dan tahan gempa. Karena itulah, Rumah berkonsep RISHA ini digunakan untuk merenovasi rumah-rumah di Aceh saat terjadi gempa tsunami, hampir satu dekade yang lalu. Oh ya, panel-panel ini bisa digunakan untuk membangun rumah dua tingkat lho.

Saya masih ingat, waktu itu salah seorang peneliti di Puslitbangkim menyebut bahwa RISHA dikembangkan dengan prinsip BMW. Biaya Murah, Mutu terjamin, dan Waktu pembuatan yang cepat.

Asyiknya lagi, Puslitbangkim kemudian membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menjadi aplikator rumah RISHA ini. Aplikator ini nantinya yang akan memproduksi panel-panel untuk konstuksi rumah RISHA, termasuk mereka yang akan membangun rumah dengan konsep RISHA. Bukankah ini akan membuka lahan pekerjaan baru? Ada banyak warga yang bisa direkrut untuk menjadi pekerjanya. Total di Indonesia kini ada lebih dari 60 aplikator RISHA.

Tahun lalu, saya juga diajak mengunjungi salah satu aplikator sekaligus pusat pelatihan bagi calon aplikator RISHA. TLG (The Little Giant) begitu nama aplikator ini, berada di desa Cimanggung, Sumedang. Saat berkunjung, saya sempat bercakap-cakap dengan pekerja disana. Rata-rata mereka asalnya pengangguran di desa itu. Kini, adanya aplikator TLG, mereka bisa mendapatkan penghasilan tetap. Dari sini terlihat RISHA ternyata bisa berpotensi untuk membuka lapangan kerja baru.

Oh ya, kalau teman-teman tahu kampung deret yang digagas Jokowi selama menjabat sebagai Gubernur Jakarta, bangunannya menggunakan konsep RISHA lho. Terlihat kan bagaimana produk inovasi keluaran Balitbang PUPR ini bisa menyulap daerah yang tadinya kumuh menjadi lebih sehat. Tentu saja ini jadi contoh bagaimana inovasi Balitbang PUPR bisa berpotensi menyulap suatu kawasan lebih baik lagi.

fakta risha
Infografis Seputar RISHA (sumber: dokpri)

Kenapa Sepi Peminat?

Dengan segala kelebihan RISHA yang disebutkan diatas, harusnya Indonesia sudah bisa bebas masalah backlog perumahan. Kurang apa coba? RISHA itu mudah membangunnya, murah biayanya, kuat dan dijamin mutunya. Faktanya, penetrasi RISHA terbilang rendah dan kita masih saja berkutat dengan kekurangan rumah layak huni. RISHA memang banyak dibangun, tapi kebanyakan diprakarsai oleh kementerian PUPR saja, selaku ‘pemilik’ si cantik RISHA. Sementara masyarakat umum belum begitu melirik. Faktanya, Hunian kumuh masih banyak tersebar dan ribuan orang masih berkutat ingin mendapatkan rumah sehat.

Kenapa RISHA tak banyak dilirik? Menurut saya ada beberapa faktor yang sepertinya menjadi penyebab mengapa RISHA belum juga sukses dalam implementasinya.

Pertama, RISHA kurang begitu popular di masyarakat. Tak banyak orang yang begitu mengenal akan konsep rumah instan sistem knock down ini. Padahal, minat orang untuk memiliki hunian yang murah namun memenuhi standar rumah sehat sedemikian tinggi.

Tahun lalu, Saya pernah menulis di blog saya tentang reportase kunjungan ke acara kolokium Puslitbangkim di Graha Widya Pinasti, dan focus tulisan tersebut lebih banyak mengulas RISHA. Di sana, banyak teman-teman yang berkomentar dan bertanya soal RISHA, penasaran ingin mengetahui lebih jauh soal RISHA. Buat saya ini evidence kalau banyak orang yang ingin tahu lebih banyak soal RISHA. Fakta ini juga saya temui saat blogwalking ke berbagai situs yang membahas soal RISHA, saya sering menemui banyak orang yang bertanya soal RISHA.

Kedua, RISHA belum menarik minat pengembang untuk mengaplikasikannya. Sebagai pihak penyedia perumahan, Developer perumahan bisa menjadi sarana untuk semakin mengenalkan RISHA serta memenuhi kebutuhan warga akan rumah tinggal. RISHA meskipun diklaim sudah banyak dibangun dalam jumlah ribuan, tapi sebarannya belum merata ke berbagai daerah. Padahal, bisa dipastikan di setiap kota/Kabupaten pasti terdapat pengembang perumahan. Tak perlu jauh-jauh, dikota saya, Purwakarta, saya belum menemukan ada rumah ataupun perumahan berkonsep RISHA . jumlah aplikator yang kurang dari 100 di seluruh Indonesia bisa menjadi bukti jika RISHA ini sedikit peminat.

Ketiga, masyarakat kita sepertinya belum terbiasa dengan sistem pembangunan rumah secara bongkar pasang. Masyarakat kita belum terbiasa untuk membangun rumah secara temple menempel layaknya puzzle atau lego tersebut. Terlebih, kita masih ragu dengan kualitas terhadap produk yang bisa jadi secara instan dalam waktu cepat. Mana bisa bangun rumah kurang dari seminggu? Mana bisa ada rumah kuat tanpa perlu menggunakan semen untuk perekatnya?

Padahal, merujuk pada cara pembangunan di negara-negara eropa ataupun Jepang, model bangun rumah secara bongkar pasang ini sudah lazim diaplikasikan. Bahkan kini di negera-negara tersebut pembangunan rumah sudak lazim menggunakan sistem prefabrikasi ini, dimana bahan sudah dibuat di pabrik dengan ukuran standar, dan si pembangun rumah tinggal menempel-nempelnya saja. Tugas besar Kementerian PUPR adalah bagaimana meyakinkan masyarakat bahwa rumah berkonsep RISHA ini kuat dan aman bagi mereka. Ini bukan hal mustahil, mengingat dahulu pun batako sempat gak dianggap oleh masyarakat dibanding bata merah. kini, banyak yang menggunakan batako sebagai bahan rumah mereka.

Keempat, masalah desain rumah RISHA. Iya, meskipun cantik, ada beberapa kekurangan dari model RISHA ini. Sambungan-sambungan panel beton yang menggunakan baut tampak sedikit mengganggu estetika. Tonjolan bentuk baut yang terlihat diluar menjadikan rumah ini sedikit kurang asyik dilihat. Ibarat wajah cantik seorang gadis, penampakan baut-baut ini layaknya jerawat yang membuat wajah tak sedap dipandang.

ipans wordpress
Baut-Baut Sambungan Panel Sedikit Mengganggu Estetika Rumah (sumber: ipans.wordpress.com)

What to do?

Untuk mengatasi beberapa problem diatas, sepertinya kementerian PUPR yang menaungi Puslitbangkim harus melakukan beberapa upaya agar RISHA menjadi lebih atraktif. Dengan mempertimbangkan berbagai kendala seperti tersebut diatas, mungkin beberapa poin dibawah bisa dipertimbangkan.

Pertama, promosi RISHA lebih intensif. Kementerian PUPR sepertinya perlu melancarkan berbagai strategi untuk memperkenalkan RISHA pada masyarakat. Jika dibandingkan dengan komposter yang juga dikembangkan Puslitbangkim, RISHA memang kalah populer. Tapi bukan tak mungkin kan untuk bisa mendongkrak popularitasnya? Bagi saya, aspek pemilihan nama RISHA yang begitu catcy sudah menunjukkan bahwa para peneliti di Puslitbangkim memang kreatif dan inovatif. Ayolah, pastti banyak cara buat memperkenalkan RISHA.

Salah satu cara beriklan yang efektif, mungkin konsep RISHA bisa digunakan untuk membangun bangunan-bangunan di ruang publik. Semisal, bangunan masjid, gazebo atau bangku taman bisa dibangun dengan menggunakan panel-panel RISHA. Di desa Cimanggung, saya menemukan prototif taman kecil yang terdiri dari bangku meja, gazebo serta tempat MCK yang berkonsep panel-panel RISHA ini. Tampilannya tetap kece kok! Panel-panel beton yang terkesan kaku namun tegas, terlihat unik ketika disulap menjadi bangku dan meja taman lho…

bangku taman

mck sehat desa sindang pakuon sumedang
Taman Warga Desa Cimanggu, Sumedang berkonsep RISHA (sumber: dokpri)

Bagaimana jika hal ini diterapkan di taman-taman kota? Tahu kan, taman kota kini sedang menjadi tren di mana-mana sejak demam Ridwan Kamil yang menyulap Bandung dengan berbagai taman tematiknya. Tinggal bikin MoU saja dengan para walikota atau Bupati untuk membangun taman mereka berkonsep RISHA, yakin deh masyarakat nantinya akan penasaran dengan panel-panel ini.

Kedua, membuat kebijakan insentif pembiayaan perumahan model RISHA. Ya, salah satu faktor yang membuat para developer alergi terhadap konsep RISHA ini adalah soal pembiayaan. Kabar yang saya peroleh saat berbincang dengan salah satu peneliti RISHA, katanya bank-bank di Indonesia belum mau menyalurkan dana mereka terhadap pengembang yang mau menggunakan konsep RISHA ini. Pihak Bank belum yakin akan kekuatan dari rumah yang dibangun dengan panel-panel temuan peneliti Puslitbangkim ini. Padahal kan sudah sudah ada garansi SNI ya?

Hal inilah yang menyebabkan para developer menjadi tak melirik RISHA. Perlu pendekatan yang efektif dari pihak Kementerian PUPR agar pihak bank mau menggulirkan dana mereka untuk membiayai pembangunan perumahan dengan konsep RISHA ini. Soal kebijakannya seperti apa, yaa saya gak tahu. Teknisnya mah saya serahkan pada para ahli perbankan atau dari kementerian PUPR sendiri. Hehehe…

Ketiga, mengintensifkan kerjasama dengan berbagai instansi, baik itu Pemda, NGO maupun pihak swasta dalam berbagai proyek terkait pembuatan bangunan atau perumahan. Salah satu contoh sukses adalah ketika Jakarta dibawah kepemimpinan Jokowi yang membuat kampung deret Petogogan yang menggunakan konsep RISHA ini. Bukan tidak mungkin kan bisa dibangun berbagai kampung deret di kota-kota lainnya. Toh banyak pemda yang sedang getol-getolnya memperbaiki infrastruktur mereka, termasuk soal pengentasan kawasan kumuh serta penyediaan rumah sehat bagi warganya. Selain itu, banyak NGO dunia ataupun pihak swasta melalui dana CSR mereka yang membangun bantuan perumahan atau bangunan publik bisa dibujuk untuk menggunakan konsep RISHA. Bisa kan sekolah, masjid, atau bangunan kantor bisa dibangun dengan konsep RISHA?

Saya sih yakin kalau semakin banyak bangunan publik dibangun dengan konsep RISHA, akan banyak orang yang tertarik untuk menerapkannya juga dalam membangun rumah mereka. Tahu sendiri, sifat orang Indonesia tuh latah,… apa yang dipakai banyak orang akan ditiru mereka. Pada akhirnya, jika banyak bangunan yang menggunakan konsep rumah RISHA, ke depannya sistem knock down atau prefabrikasi akan menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat kita.

tempo co
Kampung Deret Petogogan, Contoh Perumahan Berkonsep RISHA (sumber: Tempo.co)

Keempat, mengembangkan desain panel-panel RISHA agar lebih menarik lagi. Iya, soal baut-baut sambungan panel ini sedikit men-distract tampilan bangunan rumah RISHA secara keseluruhan. Jangan lupa, orang Indonesia selain latah juga fashionable lho. Soal baut yang kelihatan sepele malah bisa membuat orang jadi mundur untuk memakai konsep RISHA ini. jadi, please perlu rekayasa dikit lagi bagaimana caranya biar tampilannya nanti bisa lebih cantik lagi.

Pada akhirnya, saya sih yakin kalau ke depannya akan lebih banyak lagi rumah-rumah RISHA terbangun di berbagai pelosok negeri ini. Suatu hari nanti, kita tak akan lagi menemui rumah tidak layak huni, atau pemukiman kumuh. Iya, semua berkat RISHA dan inovasi dari balitbang PUPR ini.

 

 

 

 

 

q

Tulisan ini didedikasikan untuk mengenang terbitnya Bulet-Bulet In Himahome sewaktu Jaman Kuliah dulu. Masih ada yang inget gak ya?

Ketika Rangga, Cinta, Karmen dan yang lainnya Reunian di Layar Lebar dalam film AADC2, di dunia nyata sejumlah alumni Kimia UPI Angkatan Tahun 1999 (selanjutnya saya nyebut kita yaa…) pun tak mau kalah mengadakan acara reunian juga. Jika AADC2 mengambil setting di Yogyakarta, maka kita mah cukup ngariung di AWC, Alam Wisata Cimahi. Tanggal 6 Mei 2016 kemudian kita pilih sebagai waktu yang dirasa tepat, karena bertepatan dengan libur panjang, dengan harapan bakal banyak yang datang. Dan Alhamdulillah, setelah saya menghitung jari yang datang, ada 27 dari 120 alumni yang menyempatkan datang.

Ketika 14 tahun lalu Cinta mengejar-ngejar Rangga yang mau berangkat ke New York selepas lulus SMA, kita mah sedang anteng-antengnya menuntut ilmu Kimia (cieeehhh…)  di Kampus Jl. Setiabudhi  Bandung.

Gak kerasa yaa teman, waktu demikian cepat berlalu….

Tentu saja, kita reunian bukan terinspirasi oleh film AADC2, karena kalau gitu pasti kumpulnya di Bioskop, bukan di Alam Wisata. Kita ngumpul atas inisiatif spontan teman yang rela bersusah payah mengkoordinir para alumni yang terpencar di berbagai belahan sisi dunia. Ada yang masih di Bandung, ada yang ke Tangerang, Jakarta, Purwakarta, Bogor, Serang bahkan nyebrang ke Singapura.

Nuhun pisan  Purwanti dan Pupeta yang rela repot-repot membuat reuni ini jadi kenyataan.

Tentu, tak seperti Cinta yang mempertanyakan kenapa Rangga gak pernah ngasih kabar selama 14 tahun berlalu, padahal media social merajalela. Kenapa mereka gak kontakan di facebook, twitter, WA dsb? Aneh. (naon sih, masih soal AADC wae…). kita aja komunikasi jalan terus kok via group WA. Eh, masih ada yang belum tahu kita punya group alumni di WA? Hey,…kalian anak Kimia UPI angkatan 99 yang belum gabung di group WA, kemon gaisss gabung,….

Kita reuni bukan buat mempertanyakan soal cinta-cintaan seperti film AADC2… (OMG, masih aadc-an…skip skip!)

Kita kumpul bukan buat mempertanyakan kenapa si A jadian nikah sama si B (ada banyak pasangan A dan B di angkatan kita ternyata…); Atau kenapa si C dulu keukeuh meu sama si D, dan si D-nya keukeuh gak mau…hehehe

Bukan, bukan soal itu…. Karena soal jodoh mah emang rahasia Tuhan, kita gak bisa mengintervensi. Masa-masa pertanyaan itu mah sudah lewat,….

Kita kumpul untuk menyambung tali silaturahmi (ini mulai serius bahasannya…), kita mau saling bertanya kabar, bertanya sudah punya berapa anak,…bertanya soal petualangan hidup sekian tahun ini, bercanda lagi mengenang masa-masa kebersamaan dahulu, kemudian ketawa-ketawa dengan gaya khas masa-masa kuliah dulu.

Kita saling rindu. Kita saling penasaran adakah teman-teman sudah berubah?

aa

Tentu saja perubahan paling mencolok terlihat dari tampilan fisik kita. Ada yang makin ganteng seperti saya,… (mau protes? Udahan nih nulisnya…), ada yang tambah lebar badannya seperti Fahruroji atau Holid, ada yang tambah banyak huis-nya seperti Riza,…hehehe

2
Yang Nambah Lebar Badannya Ada,…Yang Nambah Ganteng Banyak….

Kalau ibu-ibu mah Insya Allah berdasarkan pengamatan saya mah pada tambah cantik-cantik semua, biarpun tambah lebar juga badannya.

a8
Oke, Emak-emak Mah Tambah Cantik deh….

Tapi ada juga lho yang gak berubah dari kita. Apa? Rasanya soal sifat mah mungkin gak berubah yaa,…

Semisal, Holid yang masih tetap ceriwis ngegodain dini sambil ber-haha hihi, Resito yang masih rajin ngoceh tebar pesona sampai bikin sang istri selalu tersipu malu, atau pak guru Endang yang bawaannya seriusan melulu,… atau Riza yang tetap ngomel-ngomel gara-gara nilai Manajemen Kewirausahaannya dapet E dari Bu Yayan padahal udah ikutan MLM nya, coba kurang naon deui?

Atau Ilham yang tetap penasaran soal si Cepi, emang ini anak kimia ya? Kimia Naon? Hahaha….

Atau Wangka yang …. Haaa, anak ini kemana gak datang?????

Beruntunglah ada pak Endang yang mampu me-lead permainan (ice breaking yaa?) untuk mencairkan kembali kebersamaan kita. Bawaan pak guru ini emang pas buat memimpin games, gak kalah sama si akang-akang dari tim outbond.

1
Aksi Pak Esun Gak Kalah Sama Mario Teguh,…Supeerrrrr

Pun demikian pak Endang rela jadi mumi untuk ditimpukin air sama ibu-ibu yang sepertinya bernafsu melampiaskan kekesalan mereka terhadap suaminya lewat permainan timpuk-timpukan air. Hiks…

ENDANG
Muka-muka Bahagia Nyiksa Calon Korban Timpukan Air
5
Terapi Melampiaskan Kekesalan Pada Suami,…

Begitulah, meskipun terselip rasa haru ketika dalam sesi do’a pak Ilham sempat menyinggung soal rekan yang sudah berpulang menghadap yang kuasa Abah dan Oli,…(semoga Allah SWT menerima mereka di tempat terbaik disisi-Nya,..amiennn..) tapi secara keseluruhan acara reunian kemarin emang rame bin seru. Biarpun tak banyak yang datang, tentu tak mengurangi keseruan acara reuni ini.

Soal pemilihan tempat, makanan, games outbond, naik ATV, semua oke… soal hadiah-hadiahnya juga oke.

Puas? Aku sih iyes,… entah kata Mas Anang, eh kata kalian.

Jadi, semoga saja ini bukan menjadi reuni terakhir kita. Mari kita rencanakan kembali pertemuan Reuni jilid berikutnya dengan lebih rame. Lebih matang, lebih terkonsep, dan lebih akbar.

a1
Pak Toto mah emang Pede na Selangit…
a2
Ngegosip mah jalan terus…
a3
Kira-kira beginilah kerempongan obrolan mereka….

Semoga tulisan ini bisa bikin kalian yang kemarin datang tetap kangen dengan pertemuan-pertemuan kita ke depannya (yang entah kapan lagi…). Sementara buat kalian yang gak bisa datang kemarin, semoga jadi ngiler nyesel datang dan nanti bisa menyempatkan diri buat datang.

7
Yakin Gak Nyesel Gak Datang?

Kalau diadain reuni lagi, janji pada mau datang gak?

a7
Keceriaan Juga Terpancar Dari Mereka Yang Anteng Bermain Selama Emak Bapaknya Reunian

 

Disclaimer:  Foto-foto diambil dari FB nya ibu Pupeta, mohon ijin yaa dipakai disini.

simulasi 6

Ditengah gempuran berbagai korporasi bermodal besar, ada banyak individu yang berbisnis dengan daya modal seadanya. Dengan mengandalkan konsep konvensional, tanpa target muluk-muluk mereka hadir melayani warga. Tanpa disadari, banyak dari mereka memberi peran penting bagi masyarakat yang menjadi konsumennya. Ini adalah salah satu kisah diantaranya.

Perkenalkan, namanya Mang Ade. Demikian kami mengenalnya. Keberadaannya selalu dinanti, ketiadaaannya selalu dicari. Tanpanya, hidup kami akan terasa repot. Tanpa banyak yang menyadari, ia menjadi orang penting. Ia telah menjadi penolong bagi warga perumahan dimana saya tinggal. Ya, ia adalah tukang sayur di komplek perumahan kami.

Sebagai seorang pedagang, konsep bisnisnya sungguh sederhana. Cukup menyediakan bahan kebutuhan pokok bagi warga komplek perumahan dan menggelarnya di pagi hari saat aktifitas kehidupan baru dimulai. Ia mengerti, kebutuhan paling awal bagi ibu-ibu di pagi hari adalah bahan masakan.

mang ade.jpg
Mang Ade Saat Menggelar Jualannya

Dengan ditemani sang istri, setiap pagi ia selalu menggelar dagangannya di sekitar ruko kompleks perumahan. Beraneka sayur dan daging yang dibutuhkan warga ia gelar disini. Hanya berselang setengah jam dari jam sholat Shubuh, ia sudah dikerumuni oleh beberapa ibu-ibu yang mencari bahan untuk memasak.

Selepas pembeli berkurang, tugasnya belum selesai. Ia akan segera memindahkan sayuran yang tersisa pada bakul di motornya. Dari sini ia kemudian berkeliling ke blok-blok rumah di komplek kami, menawarkan sayurannya door to door, karena ternyata ada juga warga yang lebih memilih menunggunya datang menghampiri rumah mereka.

Saya, yang telah tinggal di perumahan ini selama 10 tahun lebih, tahu banyak bagaimana perkembangan usahanya. Dari yang mulanya hanya menjajakan beberapa item sayuran, kini variasi dagangannya semakin banyak. Perkembangan paling mencolok yang saya lihat adalah motor yang kini menjadi andalannya dalam berjualan. Dulu, ia menggunakan motor bebek Grand Astrea,…yang entah keluaran tahun berapa (saking tuanya usia motor tersebut). Kini, motornya telah berganti, masih merk yang sama, tapi berubah menjadi type keluaran terbaru.

motor mang ade.jpg
Motor Tunggangan Mang Ade

Beberapa waktu lalu saya sempat menanyakan soal motornya. Bukan tanpa alasan ia mengganti motornya dengan keluaran terbaru. Selain karena sering mogok, ia juga perlu memastikan bisa berbelanja ke pasar dan segera menggelar dagangannya secara tepat waktu. Menurutnya akan sangat merugikan apabila ia terlambat menggelar dagangannya di setiap pagi hari. Selain potensi kehilangan pembeli, ia kasihan pada ibu-ibu yang bisa kelabakan tak punya bahan untuk keperluan memasak mereka.

Dari sini pikiran saya menerawang. Kelihatannya ia hanya seorang pedagang kecil yang berusaha mencari nafkahnya dengan menjajakan sayuran. Sepertinya sepele. Tapi dibalik itu, jasanya sangat besar bagi warga. Andai tak ada dia, kami bisa saja kerepotan menyiapkan kebutuhan makanan sehari-hari.

Terlalu lebay? Mungkin. karena sebenarnya bisa saja kami membeli sayuran di supermarket. Atau pergi ke pasar tradisional. Kedua tempat tersebut tak begitu jauh dari kompleks perumahan kami. Pasar hanya sekitar 5 Km, dan supermarket terdekat pun tak jauh dari kisaran jarak segitu.

Well, sebenarnya bisa saja tiap hari kami pergi ke kedua pilihan tempat tersebut untuk sekedar berbelanja kebutuhan masakan kami. Kalau malas, bisa juga membeli sekaligus untuk keperluan stok seminggu penuh.

To be honest, buat tiap hari belanja ke pasar atau supermarket, ini termasuk pemborosan buat saya. Boros waktu plus boros uang juga dong buat bensin kendaraan kita. Tambahannya, males juga dong tiap pagi harus pergi ke pasar. Kemudian, saya dan isteri termasuk malas membeli stok sekaligus. Selain tidak lagi segar sayuran yang disimpan tersebut, kami termasuk penganut paham spontanitas dalam mempersiapkan masakan yang akan kami masak.  Kami lebih senang menentukan akan masak apa hari ini berdasarkan apa yang tersedia di jualan Mang Ade. Yakin deh, banyak juga orang yang setipe seperti kami. Itulah mengapa, keberadaan penjual sayur seperti Mang Ade ini menjadi begitu penting bagi kami.

Menuntaskan rasa penasaran, saya menanyakan kembali bagaimana bisa mendapatkan uang untuk membeli motornya. Dijawabnya ia bisa membelinya dengan menyisihkan sebagian keuntungannya dari berdagang. Sedikit demi sedikit akhirnya bisa terkumpul cukup untuk membeli motornya.

Wow, keren!

Katanya lagi, ia kini sedang menabung sedikit demi sedikit. Selain untuk menambah modal ke depannya, katanya menabung bisa mempersiapkan segala keperluannya di masa depan. Cita-citanya ingin memiliki warung sendiri. Entah kapan terwujud, ia sedang mencicil mimpinya dengan menabung di Bank.

Soal ini, saya 100% setuju. Menabung merupakan aktifitas penting bagi perencanaan keuangan kita. Selain pelan-pelan memupuk mimpi, tabungan tentu saja berguna sebagai dana cadangan, apabila sewaktu-waktu perlu sesuatu yang diluar perkiraan.

Ah, tapi bukankah ada cara cepat untuk menambah modalnya. Kenapa pula tak mengajukan pinjaman kredit ke Bank? Mang Ade Cuma menggeleng, katanya mustahil Bank mau memberi pinjaman modal buat usaha selevel dia. Tak mungkin ada katanya.

Tunggu dulu mang! Setahu saya kini banyak kok institusi perbankan yang menggulirkan kreditnya untuk UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah). Bahkan ada satu Bank, yaitu Bank BTPN yang memfokuskan visi usahanya pada pengembangan mass market. Hebatnya, Bank BTPN ini juga melibatkan nasabahnya untuk turut membantu para pelaku usaha mass market ini. salah satunya melalui salah satu produk tabungan yang dikeluarkan Bank ini.

Apa hubungannya menabung dengan pemberdayaan usaha mikro atau mass market ini? iya, produk tabungan BTPN ini  rupanya memiliki program khusus pemberdayaan bagi mikro atau kecil yang termasuk usaha mass market.

Simpelnya sih, dana yang kita tabungkan akan digulirkan untuk program pemberdayaan mereka yang bergerak di usaha level UMKM. Selain berupa bantuan kredit, pemberdayaan juga diberikan dalam bentuk pemberian seminar kewirausahaan . Dari sini, diharapkan mereka bisa memperoleh bekal ilmu untuk pengembangan usaha mereka.

Oke, apa sih produknya? Namanya tabungan Taseto Mapan dari BTPN Sinaya. Dari websitenya, www.menabunguntukmemberdayakan.com  kita  bisa mendapatkan simulasi bagaimana pengembangan uang yang kita simpan di tabungan ini sesuai perencanaan keuangan kita. Misal nih, saya sempat membuat simulasi dengan plan menabung 1 juta setiap satu bulannya,dengan target selama 4 tahun. Nah, dari simulasi ini kita diberi tahu nanti diakhir periode target berapa uang yang akan kita dapatkan. Asyik kan, ini bisa membantu perencanaan keuangan kita.

Oh ya, soal bagaimana menggunakan simulasinya gak ribet kok. Cukup masukkan data kita, atau kalau mau, kita bisa login dengan akun Facebook kita. Seterusnya tinggal mengikuti langkah langkah yang ada di website tersebut. So Simple

SIMULASI4
Hasil Simulasi Tabungan BTPN yang Saya Lakukan

Di situs ini pula, ada banyak informasi mengenai kiprah pengusaha skala mikro dan kecil yang sudah terbantu dengan program pemberdayaan BTPN ini. Mulai dari pembuat kue onde-onde, warung nasi, hingga usaha pembuatan kripik singkong. Ah, semoga saja nanti Mang Ade juga bisa menjadi salah satu dari mereka yang mendapat bantuan pembedayaan dari bank ini.

Bank BTPN memang termasuk salah satu institusi perbankan yang concern pada pengembangan mass market. Sampai tahun 2012 saja, sudah lebih dari 800 ribu pelaku usaha mass market yang dibina melalui berbagai aktivitas dan pelatihan. Terkait hal ini, BTPN ternyata memiliki program Daya, yang fokus pada isu ini. dan jenis tabungan Taseto Mapan ini termasuk dalam salah satu aplikasi dari program daya ini.

Bagi saya, produk tabungan BTPN Sinaya Ini termasuk istimewa. Saya setuju, kini sudah saatnya bank perlu melirik usaha sejenis UMKM ini. Kasih modal buat pengembangan usaha mereka. Banyak model bagaimana sebenarnya pemberdayaan bagi jenis usaha ini akan mampu menopang kestabilan ekonomi negara. Menurut data kompas.com, total dana yang telah digulirkan BTPN untuk pengembangan jenis usaha mass market selama tahun 2011 saja mencapai 30 triliun rupiah.

Kok mau sih BTPN memberikan modal pada jenis usaha kecil ini? apa untungnya? Bagaimana pula dengan resiko kredit macet dari ketidakmampuan mereka mengembalikan kredit yang diambilnya?

Jangan salah, biarpun tergolong jenis usaha dengan perputaran modal yang bisa dibilang ‘gurem’, namun secara total justru jenis usaha inilah yang banyak menguasai perekonomian kita. Menurut data Bappenas, total UMKM yang ada di negeri ini mencapai 57,9 Juta usaha, paling banyak dibanding negara-negara lain di dunia. Sektor UMKM ini memberi kontribusi PDB sebesar 58,92 persen dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 97,30 persen. Jadi, boleh dibilang kekuatan ekonomi Indonesia ada di sektor UMKM ini.

Soal kredit macet? Ternyata rasio kredit macet di Bank BTPN pada tahun 2011 dari penyaluran kredit bagi pelaku UMKM ini hanya 0,7 persen. Sangat sangat kecil.

Jadi teringat bagaimana badai krisis ekonomi tahun 1998 telah merontokkan bisnis para konglomerat. Tapi katanya jenis usaha UMKM ini tak terhempas badai krisis, malah menjadi sektor penyelamat ekonomi  negara ini dengan menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat ditengah banyaknya PHK melanda industi besar yang  kolaps ditejang krisis moneter.

Lagipula, kita perlu juga berkaca pada kesuksesan program pemberdayaan masyarakat kecil yang dirintis peraih nobel Muhammad Yunus dengan Grameen Bank-nya di Bangladesh. Konsepnya yang berani memberi modal bagi masyarakat miskin berhasil mengangkat perekonomian mereka tanpa membuat Bank itu sendiri menjadi bangkrut. Konsep Grameen Bank ini kemudian menjadi role model pemberdayaan bagi masyarakat kecil.

grameenfoundationorg
M Yunus ditengah Nasabah Grameen Bank (Sumber: grameenfoundation.org)

Nah, bagi teman-teman yang memiliki niat ingin membantu pengembangan UMKM di negeri ini, tak ada salahnya menabung di produk tabungan Sinaya BTPN ini. Saya juga punya niat yang sama kok untuk membuka tabungan ini. Ini tak lain karena melihat sendiri bagaimana sebuah usaha kecil di depan saya sehari-hari bisa akan bisa terbantu dengan jenis program pemberdayaan serupa yang digagas BTPN ini.

Yuk, nabung dan bantu pemberdayaan usaha sejenis Mang Ade dan kawan-kawannya!

Referensi:

BTPN Konsisten ke “Mass Market”. http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/02/29/08482588/BTPN.Konsisten.ke.Mass.Market.

Jumlah UMKM Indonesia Terbanyak dibanding Negara Lain. http://jejakmu.bappenas.go.id/berita/87-jumlah-umkm-indonesia-terbanyak-dibanding-negara-lain

Ilustrasi Foto Header dan Simulasi: www.menabunguntukmemberdayakan.com

 

Continue Reading "Secuil Kisah Mang Ade: Potret Usaha Mikro dan Peranannya"

Akhirnya nulis lagi di blog ini… sudah cukup lama saya mengabaikan blog ini, terlalu keasyikan posting-posting di kompasiana dan mengabaikan blog pribadi ini. Haha, iya kemarin-kemarin saya memang sangat terobsesi nulis di kompasiana, sampai-sampai sedikit mengabaikan psoting di blog ini. sampai tadi,…tiga jam lalu, saya iseng kembali membuka blog ini. Ternyata ada komen baru di…Continue Reading “Hai, Saya Balik Lagi!”

Cara Menabung dengan Uang Pas-pasan

Dulu setiap menghadapi lebaran, saya selalu merasa khawatir. Bukan apa-apa, sebagai pegawai rendahan dengan beban kebutuhan hidup yang tinggi, THR yang diperoleh dari tempat kerja tidak bisa menutupi kebutuhan menjelang lebaran tersebut. Tahu sendirilah, tradisinya orang Indonesia itu lebaran adalah momen untuk membeli baju baru, siapin amplop buat anak dan keponakan, kemudian harus mudik ke…Continue Reading “Cara Menabung dengan Uang Pas-pasan”

(Memori Miyazaki the series) Berfoto bareng sensei merupakan agenda wajib bagi kita sebagai mahasiswa asing di University of Miyazaki. Apalagi didukung dengan ponsel IPhone yang super tajam, membuat sesi foto menjadi fardhu hukumnya. Hehe… Sesi foto ini selalu dilakukan pada saat perkuliahan terakhir. Nah, biasanya momen perkuliahan terakhir ini menjadi momen special buat mpok-mpok dari…Continue Reading “Take Picture with Sensei”

Merokok Itu Keren

Siang itu, di sebuah angkot yang saya tumpangi, lima anak laki-laki berseragam SMP sedang asyik bercanda bersama. Di tengah percakapan mereka, salah seorang anak mengeluarkan sebungkus rokok merk terkenal. Tanpa merasa malu, anak tersebut menyalakan rokoknya seraya mengajak teman-temannya. “kemon bro, lo belum keren kalo gak ngerokok” demikian ucapnya. Seolah mengamini, satu persatu temannya menyalakan…Continue Reading “Merokok Itu Keren”

Comment about Student Life in University of Miyazaki

Ups, hari ini saya mau posting essay singkat saya tentang pengalaman selama menjadi mahasiswa di University of Miyazaki, Jepang. Kemarin diminta sama sensei untuk membuat essai 200-300 kata tentang pengalaman tersebut, untuk diberikan kepada para kandidat mahasiswa dari afrika dalam program ABE project. Kayaknya semacam referensilah buat mereka dalam memilih universitas jepang mana yang akan…Continue Reading “Comment about Student Life in University of Miyazaki”