Dari NgeTweet Jadi Buku

Dino Patti Djalal dan Buku Kumpulan Tweetnya (sumebr: merdeka.com)

Ada banyak cara membuat buku. Kalau tidak bisa membuat satu buku yang secara spesifik membahas  satu tema dari secara utuh berlembar-lembar, kita bisa membuat buku kumpulan tulisan atau istilahnya antologi. Kumpulannya mah bisa berupa apa saja, entah itu artikel non fiksi, cerpen, puisi bahkan tweet. Iya, kumpulan tweet kini bisa dikompilasi menjadi sebuah buku yang menarik. Salah satunya ada di buku yang ditulis Dino Patti Djalal yang berjudul Nasionalisme Unggul, Bukan Hanya Slogan.

Saya mendapatkan buku ini setelah mengikuti lomba essay yang diselenggarakan beliau saat mencalonkan diri sebagai kandidat presiden melalui konvensi Partai Demokrat saat perhelatan pilpres 2014 lalu. Salah satu yang membuat saya kagum dengannya adalah karena ia representasi anak muda yang cerdas dengan karier mentereng. Tak bisa dipungkiri, beliau salah satu role model saya dalam meniti karier.

Nah, selepas mengirim essay tersebut, saya mendapatkan kado istimewa berupa buku yang ditulisnya. bukunya sendiri unik, bentuknya kecil seperti buku saku Pramuka seukuran buku surat Yassin yang bisa dimasukkan ke saku baju (ya iya laah, namanya juga buku saku …).

Senang sih, karena buku ini simpel dibawa kemana-mana.

Yang membuat menarik ternyata buku ini adalah kumpulan tweet Dino Patti Djalal yang memang sejatinya inspiratif. Ia banyak ngetweet tentang nasionalisme, ide-idenya untuk membangun Indonesia, serta motivasi bagi para pemuda dalam berkarya. Saya suka dengan tweet-tweetnya.

Satu lah yang menarik bagi saya dari buku ini adalah saya tak perlu dipusingkan dengan kalimat-kalimat dalam paragraph panjang dari satu artikel. Setiap membuka satu lembar buku, kita akan disodori dengan satu tweet beliau di satu sisi, sementara di sisi lain tak lupa disisipkannya foto aktifitas beliau yang berhubungan dengan isi tweetnya.

yang jelas sih, isinya gak ngebosenin. Biar pun sudah tamat membaca kumpulan tweet-tweet beliau di buku ini, saya selalu membacanya kembali. Terkadang saya bawa hanya sekedar untuk menemani perjalanan jauh saya di mobil atau kereta api.

Saya juga sering membacanya manakala sedang ngedrop dengan kejenuhan menghadapi rutinitas kerjaan. Entah mengapa, rasanya ada banyak semangat dan energi yang dipancarkan dari tweet-tweet tersebut.

Selepas mendapatkan buku ini, saya jadi tertarik untuk memfollow akun twitter beliau.

Ini sebenarnya bisa jadi inspirasi bagi saya dan kamu (iya,..kamu) yang punya cita-cita ingin membuat buku tapi gak kelar-kelar karena masih berkutat dengan ide dan tak tahu mau nulis apa. Ah kenapa tak membuat buku kumpulan tweet kita saja?

Hmm, rasanya patut dicoba deh. Bagaimana menurutmu?

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *