Diet Plastik Saat Idul Adha, Bisakah?

Timbunan Sampah Plastik di Sungai (Sumber: liputan6.com)

Dalam hitungan kurang dari 24 jam, umat Islam di Indonesia akan merayakan Idul Adha. Hari besar bagi muslim seluruh dunia ini merupakan puncak prosesi ibadah Haji di tanah suci. Hari itu pula, muslim yang mampu dianjurkan untuk berkurban.

Di negara kita, kebiasaan ibadan kurban ini kurang lebih setelah hewan kurban disembelih kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar yang kurang mampu. Sayangnya, pada ritual ini terselip kekhawatiran akan mencemari lingkungan. Kok bisa?

iya, kebiasaan kita yang membagikan daging kurban dalam kantong plastik (kresek) lumayan mengganggu saya. saya membayarangkan secara serentak berbagai daerah di Indonesia mendadak membutuhkan kantong kresek dalam jumlah yang banyak.

Saya gak bermaksud naif, dulu juga saya berusaha cuek aja. Tapi demi mantan anak kampus yang ngambil jurusan kimia, terus bekerja di instansi lingkungan, jelas saya rada-rada mikir soal plastik ini.

Tahukah kamu kalau plastik termasuk material yang susah terurai di alam? Tahukah kamu kalau limbah plastik yang terbawa ke laut berpotensi mematikan biota laut disana? Yang simpel aja deh, kalau lihat berita banjir di Jakarta atau kota besar lain, boleh dicek salah satu penyebabnya pasti dari timbunan plastik yang menyumbat saluran air atau sungai.

Jika dianalogikan sebagai penyakit, boleh dibilang plastik ini serupa kolesterol yang menumpuk di pembuluh darah dan menghambat alirannya. Tahu akibatnya? serangan jantung!! Iya, kalau di lingkungan mungkin ia serupa banjir.

btw, saya sudah menulis kegelisahan ini beberapa hari lalu di kompasiana. Dalam artikel yang berjudul “Kapan Kita Merdeka Dari Plastik?” tersebut saya coba menyentil kesadaran berdiet plastik dengan contoh yang sederhana.

Besok, saat kita merayakan prosesi kurban, saya coba menyentil lagi tentang diet plastik ini. Bukan apa-apa, kebutuhan kantong plastik saat itu pastilah sangat tinggi. Semakin banyak orang yang berkurban, saya pikir akan semakin banyak juga kebutuhan plastik ini.

Himbauan Tidak menggunakan Plastik Hitam Saat Idul Adha (sumber: unknown)

Nah, bisakah kita diet plastik besok hari? saya pikir bisa, semua kembali kepada niat kita juga kan? Oh ya, beberapa hari ini beredar meme tentang himbauan menggunakan plastik berwarna hitam untuk mengirim daging kurban. Hiii, ternyata kantong plastik ini punya efek karsinogen, memacu timbulnya kanker.

Besek atau Pipiti, bisa jadi alternatif substitusi Kantong Plastik (Sumber: FB Intan Rosmadewi)

Terus gimana dong buat diet plastik saat idul adha tersebut? mungkin kita bisa mengganti kantong plastik ini dengan material lain yang lebih ramah lingkungan. Yuk dicek,…

  1. Gunakan Besek. Ya, besek atau kalau di daerah sunda mah dikenal dengan pipiti, adalah sejenis wadah-wadahan yang terbuat dari anyaman bambu. Selain aman, besek ini bisa dipakai ulang untuk menyimpan barang lain. Ibu saya biasa menyimpan bumbu dapur di pipiti. Istri saya juga begitu.
  2. Pakai daun pisang. Ini cara yang tradisional banget untuk mengirim daging. Daun pisang relatif mudah didapat di pasar-pasar tradisional. Beberapa gerai supermarket pun ada kok yang menjualnya.
  3. Gunakan Daun Jati. Yes, daun jati yang cukup lebar bisa digunakan juga kok buat transporter daging. Di daerah Cirebon daun jati biasa digunakan untuk membungkus kuliner khas mereka.
  4. Sistem Kupon. Yes, panitia kurban bisa mengirim kupon dan menghimbau masyarakat untuk membawa wadah sendiri dalam mengambil daging jatah mereka. Kalau pun mereka membawa plastik, minimal panitia tidak membeli plastik sendiri, dan masyarakat menggunakan plastik lama yang mereka simpan. Lumayan tidak menambah demand plastik kan?

Sebenarnya masih banyak cara lain yang bisa diambil untuk mensiasati agar tidak menggunakan plastik dalam mendistribusikan daging kurban besok. Yang jelas, butuh kemauan yang kuat berdiet plastik dalam diri kita sendiri.

Saya gak mau bilang, “Diet Plastik itu berat,… kamu gak bakal sanggup, biar aku saja.!” Instead, diet plastik itu mudah kalau kita melaksanakannya bareng-bareng. Siap?

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *