Gowes Keliling Miyazaki

(Tulisan ini Pernah dimuat di Harian Pikiran Rakyat tanggal 18 Mei 2014, tentu dengan beberapa editan)

Apa sih istimewanya bersepeda keliling kota? Bagi sebagian orang mungkin ini adalah aktifitas biasa saja. Akan tetapi, bagi pendatang baru di suatu kota, apalagi di negeri orang, ini adalah pengalaman yang mengasyikkan. Kita bisa bersepeda menjelajah sudut kota yang belum kita kenal sama sekali.

Itulah yang kami (saya dan ketiga teman saya) lakukan ketika pertama kali datang ke kota Miyazaki, Jepang, salah satu prefektur di pulau Kyushu. Kebetulan kami memiliki kesamaan hobi bersepeda, sehingga kami sepakat ‘wisata’ pertama kami di negeri sakura ini harus dilakukan dengan gowes. Untuk itu, beberapa hari setelah kedatangan kami di kota ini, kami langsung membeli sepeda. Asal tahu saja, bagi masyarakat Jepang, sepeda sudah menjadi moda transportasi harian utama. Apalagi bagi pehobi gowes seperti kami, sepeda sudah menjadi barang wajib.

Hari minggu, gowes pun dilakukan. Berhubung jarak dari tempat tinggal kami ke pusat kota cukup jauh, kami memutuskan untuk naik bus terlebih dahulu. Beruntung sepeda kami adalah sepeda lipat sehingga sepeda pun bisa diangkut ke bus.

Image

Kami turun di stasiun kota Miyazaki. Sasaran pertama kami adalah konter tourism information. Kebetulan Konternya berada di dalam stasiun Miyazaki.  Berhubung ini adalah gowes pertama di kota ini, tentunya kami membutuhkan peta informasi lokasi destinasi wisata di kota ini.

Berdasarkan peta kota yang kami peroleh, cukup banyak juga destinasi wisata yang bisa dikunjungi di kota Miyazaki ini.  Ada miyazaki Science Center, Miyazaki Prefectural Art Museum, Miyazaki Jingu Shrine, Tachibana Park, dan Pantai Sun Marina. Belum lagi beberapa taman kota serta Ginza (kuil) yang banyak bertebaran di sekitar kota.

Sebagai destinasi pertama, kami memutuskan untuk mengunjungi Miyazaki Science Center karena lokasinya paling dekat dengan Stasiun Kota Miyazaki. Miyazaki Science Center ini merupakan tempat ekshibisi bagi anak sekolah khususnya dalam hal antariksa, astronomi  energi dan fisika. Landmark gedung ini sendiri adalah planetarium yang tercatat sebagai salah satu planetarium terbesar di jepang. Sayangnya hari itu tempat ini tutup untuk perawatan rutin, sehingga kami harus cukup puas melihat-lihat dari luar saja.

Berikutnya kami menuju Tachibana Street, kawasan pertokoan yang boleh dibilang sebagai pusatnya kota Miyazaki. Jaraknya sendiri tidak terlalu jauh dari lokasi Miyazaki Science Center serta cukup mudah ditemukan. Lazimnya kota besar, deretan outlet-outlet brand fashion ternama berjejer di sepanjang jalan. Beruntung kami menyusurinya di pagi hari, suasana kota masih cukup lengang.

Di kawasan tachibana ini kami menghabiskan waktu cukup lama di Miyazaki Art Center. Rupanya ada pertunjukan seni yang sedang diselenggarakan di sini. Ada semacam pertunjukan kabaret dan modern dance yang sedang dilakukan. Uniknya, pesertanya terdiri dari berbagai kalangan usia. Dari anak TK sampai nenek-nenek yang ikut berpartisipasi. Lucu juga melihat nenek-nenek ini menari dengan lincah diiringi lagu heavy rotation-nya AKB 48. Tentu tidak lupa dilengkapi dengan konsum yang cukup nge-jreng pula khas girl band jepang.

Image

Hari sudah beranjak siang, kami memutuskan gowes dengan menyusuri sungai Oyodo, sungai yang membelah kota Miyazaki dan bermuara ke pantai Sun Marina. Start pertama kami awali dari Tachibana Park, taman yang dibangun disepanjang sungai ini di Tachibana Street. Di sepanjang jalur sungai Oyodo ini disediakan jogging track dan jalur sepeda sehingga sangat memudahkan kami dalam bersepeda. Pemandangan sungai yang sangat bersih dan burung camar yang beterbangan sambil mencari makan, membuat pengalaman gowes ini semakin mengasyikkan.

Tidak terasa, hari menjelang sore ketika kami mencapai pantai Sun Marina. Disini kami berputar-putar sebentar sambil melihat berbagai spot yang ada di sini, seperti hamparan pasir putih dan dermaga tempat bersandarnya kapal-kapal berlabuh.

Image

Terakhir, gowes kami akhiri dengan kembali menuju stasiun kota Miyazaki melalui jalur yang beda. Kali ini kami memutuskan untuk menyusuri kawasan pemukiman penduduk. Sesampainya di stasiun, kami sengaja menginapkan sepeda di lokasi parkir sepeda di stasiun ini, karena kami berniat untuk melanjutkan gowes ini keesokan harinya. Masih banyak spot menarik yang belum kami singgahi.

Pengalaman gowes pertama kali di kota ini membuat kesan yang mendalam bagi kami. Kami bisa melihat sendiri betapa fasilitas infrastruktur untuk pesepeda sangat diperhatikan oleh pemerintahnya. Mereka sepertinya mengerti bagaimana cara mendorong warganya untuk bersepeda.

Jalur sepeda tersedia di sepanjang jalan lengkap dengan rambu untuk pesepeda dan pejalan kakinya. Demikian pula jalur pejalan kaki di deretan pertokoan tersedia sangat lebar. Pesepeda pun bisa menggowes sepedanya di jalur pejalan kaki tanpa perlu berdesakan dengan pejalan kaki. Kami juga melihat fasilitas parkir sepeda bertebaran diberbagai sudut kota.

Sungguh, berbagai fasilitas ini membuat saya iri dan penasaran, kapan ya kota-kota di Indonesia punya fasilitas seperti disini?

Ofi Gumelar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *