Hello NY: Jelajah Kota Big Apple Lewat Kata dan Grafis

Now You’re in New York. These Streets will make you feel brand new.  Big Lights will inspire you … (Jay Z & Alicia Keys)

Amerika itu New York dan New York itu amerika. Tak salah menyebut kalau kota ini sebagai iconnya budaya negeri adidaya tersebut. Beberapa film Holywood paling banyak mengambil setting di kota ini, sehingga secara tak langsung kota ini menjadi etalase Amerika Serikat.

Saya yang selama ini hanya melihat kota New York lewat film dan serial drama, menemukan cara baru menjelajah kota ini lebih detail. Lewat buku Hello NY, Julia Rothman mencoba mengajak kita menelusuri sudut-sudut kota Big Apple.

Buku ini tergolong buku ringan, tak banyak narasi ditulis disitu. Hello NY malah lebih fokus bicara lewat gambar-gambar grafis. Tak heran, karena Julia Rothman sendiri sejatinya adalah seorang illustrator beberapa koran beken di sana, dan kini jadi menjadi praktisi desain grafis.

Kombinasi narasi kata dan grafis menjadikan buku Hello NY ini menarik untuk ditelusuri

Saya justru lebih suka model buku seperti ini. kalau Cuma cerita lewat rangkaian kata, rasanya sudah begitu banyak model buku seperti ini. Pun demikian buku yang lebih menyodorkan narasi lewat karya foto. Saya pernah menyinggung soal ini di artikel ini, bagaimana Seno Gumira Adjidarma bercerita tentang Korea Selatan lewat foto. Tapi kalau bercerita lewat gambar grafis? Saya baru menemukannya pada buku Hello NY ini.

Hello NY mencoba menceritakan sudut-sudut kota New York dari sisi pengalaman sang penulis. Ia memulai cerita tentang wilayah City Island, daerah dimana ia lahir, hingga kemudian menelusuri sisi New York lainnya dimana ia kini tinggal.

Secara detail ia menuliskan keadaan New York sejak jaman ia masih kecil, juga sisi kota lewat persepsi ayahnya. Jadi buku ini sebenarnya merentang sejarah kota sejak jaman dahulu hingga saat ini. ia bercerita soal Restoran langganannya, stasiun kereta api bawah tanah yang sering dilaluinya, atau perpustakaan yang menjadi tempatnya mencari referensi. Selain itu, ia juga menceritakan bagaimana masa kecilnya dilalui dengan bermain bola di jalanan.

Bertutur lewat gambar grafis, begitulah kekuatan buku ini

Gambaran New York sebagai kota multinasional diceritakan lewat deskripsi daerah Queen, dimana warganya terdiri dari berbagai suku bangsa. Katanya disana kita akan mengenal variasi ungkapan hanya untuk menyebut kata, Halo. Ada juga cerita Rasheed, sopir taksi asal Mesir, yang lari ke Amerika gara-gara revolusi Arab Spring beberapa tahun lalu.

Pokoknya mah buku ini asyik deh buat dibaca. Menurut saya sih buku ini kombinasi antara catatan personal dengan narasi sejarah budaya kota New York.

Ah, saya tak mau cerita banyak lagi soal buku ini. Yang pasti saya ingin menikmati gambar-gambar grafis yang disajikan Julia di buku ini. Oh ya, sambil mengagumi kreatifitas yang disajikan Rothman, rasanya paling asyik membaca buku ini sambil mendengarkan lagu New York-nya  Jay Z dan Alicia Keys.

 

 

 

 

 

4 Comments

  1. sangkila February 4, 2018 Reply
  2. ratihprida February 5, 2018 Reply

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *