Kepingan-Kepingan Fragmen Cinta Yang Kandas

 

13

Mau tahu bagaimana sisi sentimental kehidupan seorang penulis fiksi romantis? Buku Luka Dalam Bara bisa menjadi rujukan demi menyelami bagaimana seorang penulis fiksi menyikapi kisah percintaannya. Buku yang ditulis Bernard Batubara ini memang berisi kumpulan kisah cinta Bara, sebutan akrabnya, yang aslinya kini sudah kandas.

Luka Dalam Bara sejatinya adalah kumpulan curhatan sang penulis akan kisah cintanya. Meskipun begitu, saya tak menemukan kesan lebay dan gombal didalamnya. Rangkaian kata sarat makna terasa mengalir dari setiap kisah yang ada di buku ini. Saya memaklumi inilah kelebihan seorang penulis fiksi, yang kadang mampu memaknai suatu peristiwa yang kadang biasa saja menjadi lebih ‘dalam’. Ada sekitar 36 fragmen cerita yang dikompilasi secara apik dibuku ini. Dan saya menikmati samudera keindahan kata di setiap kisahnya.

Saya serasa membaca sebuah buku diary saat membuka lembaran demi lembaran cerita dalam buku ini. dari kumpulan fragmen-fragmen yang tak bersambung, kita seakan diajak menyelami sejauh mana rasa cinta penulis serta bagaimana karakter pujaan si penulis lewat kata-kata yang ditulis dalam kisah ini.

Dari kisah pertama, Rumah, penulis sudah memberi gambaran soal wanita yang dicintainya. Simak apa yang ditulis bara disini, “Aku mencintainya karena ia mencintai kata-kata. Rumah terbaik bagi kata-kata adalah buku. Aku mencintainya lebih karena ia mencitai buku-buku,…” Bisa ditebak jika si wanita ternyata punya interest yang sama dengan si penulis. Bukankah cinta selalu diawali oleh adanya persamaan diantara kedua manusia yang bercinta?

Di awal-awal kisah yang disajikan dalam buku ini, Bara sepertinya ingin mengeksplor catatan kesedihannya akibat cinta yang kandas. Ini terlihat di cerita kedua dan ketiga yang langsung menyajikan cerita-cerita kegalauan saat hati terluka karena hubungannya. Baru kemudian di tengah buku hingga akhir cerita kita diajak mengenang bagaimana kisah manis percintaannya.

Meskipun buku ini berisi cerita cinta, namun Bara juga mampu menyelipkan kegundahaannya akan situasi sosial politik yang berkembang saat ini. Menariknya, bara mampu menghubungkannya dengan kisah cinta yang ditulis. Ia bisa menuliskan obrolannya dengan sang mantan soal politik yang memanas, kegundahaannya terhadap teman-temannya yang bentrok akibat terpolarisasi pada dua kubu politik yang bertikai (you know laah…). Di cerita Surat-Surat Untuk J, Bara banyak menyelipkan kegundahannya akan kota tempat tinggalnya, Yogyakarta sebagai latar dari kisah cinta yang ditulisnya. Simak sepenggal tulisannya tentang kota Yogyakarta berikut : Aku menulis surat keenam ini dari kota kelahiranku, kota yang paling tersengat anas matahari, dan kota yang pohon-pohonnya habis terbakar api. Kami terbiasa hidup dengan asap….

Yang juga menarik dari buku ini adalah soal ilustrasinya. Diantara kisah yang ditulis, ada ilustrasi gambar diselipkan sebagai penguat kisah. Bara sendiri mengakui kalau ilustrasi yang disematkan dalam buku ini malahan membuatnya bisa memaknai ulang cerita yang ditulisnya. saya sendiri kadang dibuat berkerut melihat ilustrasi yang disematkan oleh @alvinxki, illustrator buku ini, dalam kisah-kisah Bara. Apa maksud gambar ini? mengapa membuat ilustrasinya begini? Begitu pertanyaan-pertanyaan yang terselip saat menemukan ilustrasi-ilustrasi di buku ini. Ah, whatever laah, bukannya seni itu kadang bisa diinterpretasikan bermacam-macam oleh setiap orang?

12

Kalau mau tahu bagian mana yang saya suka dari fragmen-fragmen cerita cinta Bara ini, saya mungkin akan merujuk pada cerita yang berjudul Mencintai Topeng Seseorang. Ada filosofi hidup disana, bahwa ternyata dalam hidup setidaknya manusia punya 3 topeng yang dipakainya. Tentu saja diuraikan juga macam dan alasannya. Menariknya Bara kemudian menunjukkan bahwa saat kita mencintai seseorang, kita perlu juga menerima segala topeng yang melekat pada pasangan kita.

Buku ini layak dijadikan sumber bacaan saat senggang. Kalau boleh menyarankan, bacalah buku ini dipinggir pantai, dengan deru ombak yang menjadi latar suaranya, dengan segelas es kelapa segar dan angina sepoi-sepoi yang membelai wajah. Dijamin kamu bakal terbawa hanyut dalam romantisme si penulis buku ini. Beuuhhh….

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ofi gumelar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *