Koperasi Digital Untuk Anak Milenial

Koperasi Digital Untuk Anak Milenial
Digitalisasi Koperasi sudah menjadi keniscayaan pada era industri 4.0 (sumber: Dokpri)

Koperasi ditengarai sangat cocok dengan model bisnis pada era industri 4.0 yang ditandai dengan adanya kolaborasi. Di sisi lain, koperasi juga klop dengan karakter generasi milenial yang senang berinvestasi. Emang iya?

Saya baru saja selesai membaca buku Agility karya Rhenal Kasali. Katanya, saat ini dunia dihadapkan pada perkembangan yang serba cepat. Kunci untuk bertahan di era ini adalah dengan bergerak lebih lincah, cepat dan liat dalam merespon setiap perubahan. Kasali menyebutnya dengan kata: agility.

Dunia yang serba cepat ini melahirkan masa yang disebut revolusi industri 4.0. Era ini ditandai dengan tiga hal : Digitalisasi, Disrupsi dan Kolaborasi.

Perkembangan teknologi membawa perubahan peta bisnis. Kini, bisnis dilakukan serba digital. Perkembangan Teknologi informasi, telepon genggam dan internet menjadi penyebabnya. Mulai dari soal memesan ojek, makanan, sampai kepada metode pembayaran semua dilakukan secara digitalisasi.   

Siapa yang tak mampu beradaptasi dengan perubahan ini siap-siap tergilas atau istilah kerennya disrupsi. Banyak bukti bagaimana perusahaan-perusahaan yang keukeuh dengan pola lama pada akhirnya disalip oleh perusahaan rintisan yang berbasis digital.

Menariknya, kerja bisnis saat ini pun dibangun dengan konsep kerja sama. Para pebisnis saling bekerja sama dengan mengandalkan sumber daya yang mereka miliki dan saling melengkapi. Apakah Gojek punya armada transportasi sendiri? No. Mereka join dengan pemilik kendaraan bermotor untuk menghadirkan layanan transportasi murah bagi masyarakat. Apakah Buka Lapak punya toko sendiri? Nggak juga. Mereka berpartner dengan beragam pedagang sehingga bisa menawarkan jutaan jenis produk bagi konsumennya. Inilah yang dinamakan kolaborasi. Para ahli ekonomi menyebutnya sebagai collaboration economy.

Soal digitalisasi dan kolaborasi pada era industri 4.0 ini sedikit banyak dipengaruhi oleh karakter masyarakatnya. Mayoritas populasi dunia kini dihuni oleh kaum milenial atau mereka yang berusia pada rentang 19-39 tahun. Anak milenial itu selain suka gaul dan berkomunitas, mereka terkenal dengan sifatnya yang kreatif, serba cepat, praktis dan sangat mengandalkan teknologi. Itulah kenapa mereka sangat digital minded. Apa-apa yang berbau digital akan direspon cepat.

Hal lain yang menarik dari milenial ini ternyata mereka melek investasi dan senang menabung. Biar pun katanya suka menghabiskan uang untuk membeli kesenangan dan pengalaman, mereka peduli dengan asetnya. Data Kementerian Keuangan menyebut anak milenial menduduki porsi 51,25 persen yang berinvestasi pada instrument Surat Berharga Negara (SBN) ritel  yang diterbitkan pada tahun 2019 ini.  Investasi pada SBN memungkinkan anak milenial untuk berinvestasi dengan nominal yang relatif kecil.

Sebaran Investor SBR Menurut Kemenkeu (sumber: kompas.id)

Kompas menyebut anak milenial lebih idealis dalam berinvestasi. Mereka mempertimbangkan berinvestasi yang memiliki dampak positif, semisal yang bersifat sosial, mendukung pembangunan infrastruktur atau kelestarian lingkungan.

Sebagai milenial (saya berusia 37 tahun), saya sepakat dengan catatan kompas tersebut. Saya tak ingin hanya sekedar berinvestasi untuk mencari laba saja, tapi sebisa mungkin bermanfaat untuk sekitar. Apa salahnya selain menabung uang, juga menumpuk kebaikan?

Dengan membaca trend industri 4.0 serta karakter milenial di atas, saya melihat koperasi memiliki peranan besar untuk menjadi penghubung keduanya. Koperasi bisa menjadi model bisnis yang mampu memfasilitasi idealisme anak milenial berinvestasi dan menabung serta berkontribusi positif bagi masyarakat. Bukankah koperasi dibangun dengan menghimpun simpanan anggotanya untuk pengembangan usahanya dengan tujuan untuk mewujudkan kesejahteraan bersama? Ada kolaborasi dan tujuan mulia didalamnya. Ini modal awal koperasi untuk merebut hati milenial.

Koperasi Digital di antara milenial pada era industri 4.0 (sumber: dokpri)

Untuk menarik minat milenial berkoperasi, koperasi harus berubah. Seperti yang dibilang Rhenald Kasali, koperasi harus punya Agility dalam merespon trend terkini. Koperasi harus bertransformasi menjadi serba digital. Gaya pembukuan dan operasional manual sudah usang serta tak cocok lagi untuk zaman now.

Pertanyaannya, memangnya ada koperasi yang memenuhi kriteria tersebut? Banyak. Salah satunya koperasi yang saya ikuti saat ini.

***

Sudah lebih dari lima bulan ini saya tergabung dalam Koperasi Magnet Rezeki (KMR). Awalnya sih tak begitu tertarik untuk bergabung. Paradigma koperasi yang kolot, ketinggalan jaman dan sekedar untuk simpan pinjam membuat saya ragu untuk segera bergabung. Barulah setelah dijelaskan lebih jauh konsep KMR, saya memutuskan untuk bergabung.

KMR diinisiasi Ust. Nasrullah bagi komunitas pembaca buku Magnet Rezeki. Visinya: Berjaya di Negeri Sendiri. Misinya memberdayakan anggotanya dengan melakukan aktivitas usaha yang memberi manfaat banyak bagi masyarakat. Caranya dengan mengembangkan usaha UMKM anggota didalamnya. Sementara anggota yang belum punya usaha bisa berinvestasi dalam pengembangan unit usaha tersebut atau sekedar menjadi buyer saja.

Saat ini KMR mempunyai MRStore, semacam marketplace online, tempat anggota yang memiliki produk untuk berjualan. Ada banyak produk anggota koperasi yang dijual di sana. Selain sesama anggota, masyarakat umum pun bisa berbelanja di MRStore ini. Waah, milenial banget ya?

KMR juga mengembangkan unit usaha D’Besto (sosis), Rotte (Toko Roti), Property (Rumah), dan Sekolah Magnet Rezeki (Sekolah Dasar). Modal selain berasal dari Simpanan anggota, juga dari penyertaan modal anggotanya (investasi) secara urunan. Pada titik inilah saya melihat bagaimana KMR manjadi platform kolaborasi antar anggotanya untuk berinvestasi.

MRStore, Unit usaha KMR berbentuk e-market place (sumber: telegram KMR)
SD Magnet Rezeki, Dibangun dengan investasi anggota KMR (sumber: telegram KMR)

Anggota koperasi ini tersebar di seluruh nusantara. Sebagai koperasi zaman now, operasionalnya sudah berbasis digital. Komunikasi pengurus dan anggota dilakukan melalui group Whatsapp dan Telegram, setoran wajib/pokok maupun penyertaan modal dilakukan by transfer, dan laporan keuangan dilakukan melalui website KMR.

Rotte, salah satu unit usaha Koperasi Magnet Rezeki (sumber: Telegram KMR)
KMR Mengembangkan unit usaha Property perumaha (sumber: telegram KMR)
Mekanisme Penyertaan Modal (investasi) yang disebut Syirkah di KMR (sumber: telegram KMR)

Adanya kolaborasi dan digitalisasi inilah yang membuat saya tertarik bergabung di KMR. Bagi saya, pengembangan Sekolah Dasar mencerminkan bagaimana idealisme KMR berkontribusi bagi pengembangan Pendidikan, sementara D’besto, Rotte dan property menunjukkan andil dalam membantu UMKM.

Di KMR, saya merasa semua serba mudah. Tak ada pertemuan rapat anggota secara langsung. Saya hanya perlu aktif memantau percakapan di group medsos, sementara laporan keuangan bisa dipantau di website KMR. Begitu mudah. Saya bisa memantau lewat laptop maupun handphone saya.

Di KMR, laporan keuangan anggota dapat dipantau lewat laptop maupun handphone (sumber: dokpri)

Mungkin kekurangannya, KMR belum punya aplikasi berbasis android. Kalau punya tentu bakalan lebih asyik. Kabarnya sih dalam waktu dekat ini, KMR akan memfasilitasi anggotanya dengan aplikasi berbasis android ini.

Sebenarnya aplikasi koperasi berbasis smartphone sudah banyak tersedia di pasaran dan tinggal pakai. Salah satu contohnya produk coopRASI yang dikembangkan perusahaan Multi Inti Sarana. Aplikasi ini menyediakan fitur-fitur yang ada dalam sebuah koperasi, seperti SHU atau catatan transaksi dalam satu aplikasi smartphone. Jadi, koperasi-koperasi Indonesia yang akan go digital tak perlu repot membangun aplikasi sendiri, tinggal plug and play saja memakai produk coopRASI ini untuk mendukung operasional mereka.

Btw, mumpung kabinet pemerintah baru terbentuk, semoga saja Menteri Koperasi baru dapat lebih mendorong koperasi-koperasi di Indonesia untuk go digital. Kalau milenial sudah tertarik berkoperasi digital, yakin deh koperasi akan semakin berkontribusi bagi peningkatan ekonomi masyarakat.

Ofi Gumelar

4 thoughts on “Koperasi Digital Untuk Anak Milenial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *