Listen More Less Critic!

Tuhan memberi kita dua telinga dan satu mata, mungkin kita disuruh lebih banyak mendengar daripada bicara.

Quote tersebut saya temukan minggu ini di dua buku berbeda. Yang pertama, buku seri pengembangan diri yang lumayan legend yang berjudul Seni Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain karya Dale Carnegie, dan yang kedua buku komik manajemen berjudul Speed, Spirit and Pray karya Joedi Wisoeda. Pada kedua buku tersebut, saya menemukan petuah yang sangat berharga.

Saya tak pernah menganggap sesuatu sebagai sebuah kebetulan. Sebagaimana saya menemukan quote diatas, saya mencoba memaknainya bagi diri saya sendiri. Ini mungkin petuah dari tuhan untuk diri saya. Mari saya uraikan insight apa yang saya dapatkan dari penjelasan kedua buku tersebut, meskipun pointnya rada beda, tapi keduanya disatukan dengan pesan yang sama.

Orang tuh gak suka dikritik. Ini salah satu petuah yang diberikan uncle Dale lewat bukunya. Iya, siapa sih yang suka dikritik? Ada sih, tapi mungkin sangat sedikit orang yang bisa menerima kritik dengan lapang dada, dan ini disadari Dale. Ketika dikritik, kebanyakan orang akan menjadi defensive daripada menerima dengan lapang dada. Ketika pun mereka menyadari bahwa iya mereka salah, selalu ada pembelaan dalam diri mereka untuk menyangkalnya. Yaa, mungkin mencari pembelaan.

Tapi saya tak setuju juga dengan sarannya uncle Dale. Katanya kalau mau banyak mencari kawan, kita jangan sekali-kali mengkritik. Saya sih yakin kalau kritik itu perlu untuk memperbaiki kesalahan yang dibuat kita, hanya mungkin bagaimana cara penyampaiannya saja yang harus lebih soft. Tahu sendiri lah, orang amrik sono memang kebanyakan lugas, kalau ngomong tuh yaa asal cablak aja, jadi yaa wajar jika Dale menyarankan jangan mengkritik. Mungkin uncle Dale perlu menyarankan cara mengkritik dengan lembut, ala-ala budaya timur kita gituh.

Ngerti kan?

Alih-alih dikritik, orang tuh lebih suka curhat. Ini yang saya dapat dari buku kedua karya Joedi Wisoeda. Sebagai seorang manajer, ia menerapkan konsep untuk lebih banyak mendengar keluhan karyawannya sebelum merumuskan suatu kebijakan. Banyak mendengar juga membuat kita mudah mendapatkan banyak input sebagai bahan pertimbangan sebelum memutuskan suatu keputusan.

Nah ini saya suka, kita memang terkadang ingin lebih banyak bicara, curcol dan mencari orang yang mau mendengar tanpa memberi intervensi berupa kritik terhadap apa yang mereka curhatkan. Bisakah kamu jadi good listener?

Saya sekarang sedang belajar untuk menjadi pendengar yang baik. Sampai saat ini saya selalu tergoda untuk memberi masukan, mengintervensi pembicaraan mereka. Tapi alih-alih niat kita baik, terkadang memberi masukan buat orang yang sedang curcol itu malah seringnya berujung pada adu argumen.

Ah, itulah seninya berkomunikasi dan bersosialisasi. Ada banyak hal yang terasa sepele padahal penting untuk kita pelajari. Salah satunya ya itu, belajar jadi pendengar yang baik.

 

 

 

Ofi Gumelar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *