Makan Dulu Baru Tanya…

Categories Uncategorized

Hidup di negaradengan masyarakat yang mayoritasnya non-muslim seperti Jepang memang sedikit menyulitkan bagi saya dan teman-teman sesama muslim lainnya. Selain fasilitas tempat ibadah, kami juga harus berjuang untuk lebih selektif dalam memilih makanan karena susahnya mencari halal food. Memang ada website khusus yang memberi tahu makanan apa saja yang bisa dikonsumsi oleh komunitas muslim, dalam arti tidak mengandung bahan yang diharamkan, namun ini tetap saja cukup merepotkan bagi kami ketika membeli makanan yang dioleh seperti di restoran-restoran di sekitar kota.

Dulu saya beranggapan bahwa makanan yang patut diwaspadai hanyalah ‘butaniku’ atau daging babi, beserta makanan yang dimasak memakai minyak babi. Ternyata tidak sesimpel itu, ternyata banyak bahan makanan yang ‘porbiden’ untuk warga muslim. Sebagai contoh bahan daging sapi dan ayam ternyata juga tidak bisa dimakan disini. Katanya prosesnya tidak sesuai syariah, mereka disembelih dengan cara di setrum. Hiii, serem juga yaaa…Alhasil, kami hanya bisa makan bahan yang mengandung sayuran serta ikan-ikanan.

Beruntung di Miyazaki ini saya memiliki teman-teman senior yang sudah mengetahui secara detail jenis makanan apa saja yang boleh dimakan, serta tempat mana saja yang representatif bagi kaum muslim. Jadi ketika pergi ke suatu tempat dan memutuskan mau masuk ke sebuah restoran, saya cukup bertanya kepada senior tersebut sekiranya bisa atau tidak kami makan di sana.Thats what friends are for,…hehe

Saya teringat pada waktu dulu, tahun 2008 ketika pertama kali ke Jepang, tepatnya Tokyo untuk mengikuti sebuah training selama 3 minggu. Kami yang berangkat memang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang makanan yang bisa dimakan atau tidak. Jadi apapun dimakan asal tidak mengandung babi. Kebetulan di tempat kami menginap semua makanan dikasih tanda. Jadi kalau mengandung babi ada gambarnya di depan makanan tersebut.

Salah satu hal yang menyulitkan adalah ketika kami jalan-jalan keluar dan harus mencari makan di restoran-restoran. Berhubung kemampuan bahasa Jepang kami pas-pasan, jadi kami masuk saja dan dengan modal nekat makan di tempat yang kira-kira ‘aman’. Prinsip kami waktu itu, ‘makan dulu baru tanya’, supaya bisa makan terlebih dahulu,…jadi pikiran piciknya kan kalo itu ternyata tidak halal tidak apa-apa karena tidak tahu,…hahaha

Prinsip tersebut sempat saya praktekkan di awal-awal kedatangan ke Miyazaki. Berhubung keinginan yang sangat banyak untuk mengeksplore kuliner di sini, maka saya biasanya tanpa ba bi bu masuk ke restoran yang mau di coba. Baru setelah itu tanya ke senior apakah tempat tersebut makanannya aman untuk dikonsumsi kaum muslim seperti saya,…dan kalau pun tidak?well, saya kan tidak tahu,…hahahha

Jelas ini prinsip yang salah yaaaa,…sekarang mah sudah insaf, mending tanya dulu deh baik itu ke senior ataupun cari referensi di web.

Salam Lapar,

OSG

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *