Mamachari

Membaca judul diatas mungkin teman-teman sedikit bertanya-tanya, apa itu mamachari?hehehe,..ini bukan nama orang memang, tapi nama jenis sepeda yang paling banyak dipakai di Jepang.

Jepang sudah dikenal sebagai kota dengan budaya bersepeda yang tinggi. Bahkan survei dari copenhagenize fame menyebutkan bahwa tingkat penggunaan sepeda di Jepang menduduki peringkat ketiga terbanyak di dunia,  setelah Belanda dan Denmark. Penggunaan sepeda di semua kota mencapai rata-rata 20-30 persen dari semua total perjalanan dibandingkan dengan moda lainnya. Tingginya prosentase ini sebenarnya ini tidaklah mengherankan, mengingat sebagai negara maju, Jepang telah memasukkan sepeda sebagai bagian penting dalam perencanaan transportasi mereka sejak 30-40 tahun yang lalu.

Mencermati kondisi persepedaan di Jepang tentu banyak hal yang bisa diamati. Selain dari sisi infrastruktur jalan yang telah saya ceritakan dalam postingan sebelumnya, saya mencoba mengamati jenis sepeda apa yang paling banyak digunakan di Jepang. Ini menarik sebenarnya, karena dari jenis sepeda ini bisa diperkirakan apa yang menjadi alasan dan tujuan orang-orang memilih menggunakan moda sepeda untuk bepergian.

Saya mengamati ternyata jenis sepeda yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Jepang adalah sepeda yang disebut ‘mamachari’. Kalau di Indonesia, jenis sepeda ini sama dengan sepeda yang biasanya banyak digunakan oleh para wanita pada umumnya, dengan model leher angsa, ada boncengan tempat duduk di belakang, dan dilengkapi dengan keranjang. Hampir disetiap parkiran saya menemukan sepeda jenis inilah yang paling banyak nongkrong di tempat parkir.

ImageImage

Kata mamachari berasal dari suku kata ‘mama’ yang berarti ibu dan ‘chari’ yang berarti sepeda. Pada awalnya jenis sepeda ini memang ditujukan untuk mengakomodir kebutuhan para ibu dalam memudahkan mereka berbelanja serta mengantar anak-anaknya pergi ke sekolah. Yang menarik ternyata jenis sepeda ini tidak hanya digunakan oleh para ibu-ibu semata, tetapi banyak pula digunakan oleh anak muda, baik cewek maupun cowok, anak sekolah, kuliah, maupun para pekerja. Saya sering melihat mahasiswa baik cewek maupun cowok banyak yang menggunakan jenis sepeda ini.

Tidak ada kajian ilmiah mengenai mengapa jenis sepeda ini lebih famiiar bagi masyarakat Jepang dibanding jenis lainnya, seperti MTB ataupun sepeda lipat. Alasan utama mungkin dari harga. Dibandingkan jenis sepeda lainnya, mamachari ini memang relatif lebih murah. Saking murahnya jenis ini, sepeda ini banyak yang sengaja dibuang, digeletakkan begitu saja ditempat parkir. Hal ini pula yang menyebabkan ‘sampah’ sepeda banyak ditemui hampir di setiap kota.

Alasan berikutnya, jelas dari sisi kepraktisannya. Dengan keranjang di depan, maka pesepeda bisa membawa banyak barang ketika dia bersepeda. Hal ini akan memudahkan mereka bagi yang bepergian membawa tas ataupun barang belanjaan. Alasan ini bisa dibuktikan bahwa berdasarkan trip survey yang dilaksanakan secara berkala oleh setiap pemerintah kota, kebanyakan tujuan bersepeda bagi masyarakat jepang adalah untuk pergi ke sekolah dan bekerja, shopping dan perjalanan bisnis. Semua aktifitas ini biasanya membawa banyak barang bawaan, dan ini bisa diakomodir dengan mamachari.

Berikutnya, tentu kita bisa mengambil kesimpulan bahwa mereka tidak memperdulikan aspek ‘gaya’ ataupun model. Masyarakat Jepang lebih melihat kepada fungsi dibandingkan gengsi, gak peduli apakah mereka anak muda ataupun tua, wanita atau pria. Kalau boleh mengkritisi, ini jelas berbeda dengan masyarakat Indonesia. Kita kebanyakan lebih memperhatikan model dan merk dibanding dengan mempertimbangkan sisi fungsinya.

Terakhir, saat ini banyak negara yang mulai mengimpor mamachari ini dari Jepang sebagai cara untuk meningkatkan  aktivitas bersepeda di negara mereka. New Zealand, Inggris dan Amerika banyak mendatangkan jenis mamachari ini ke negaranya, ataupun memproduksi jenis yang sama untuk didistribusikan kepada rakyatnya. Tujuannya jelas, untuk mengadopsi langkah Jepang dalam mempromosikan sepeda sebagai alternatif mode bersepeda. Menarik yaa…

Salam Gowes,

OSG

 

 

 

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *