Membumikan Energi Baik Dari Perut Bumi

Categories Opini
Pemanfaatan gas alam sebagai sumber energi di sektor transportasi (Sumber: aktual.com)

Tak bisa dipungkiri, kebutuhan energi bangsa Indonesia masih ditopang oleh energi fosil. Ketika kebutuhan minyak bumi dan LPG harus dipasok dari luar negeri, gas bumi hadir memberi solusi. Keberadaannya berlimpah di negeri ini, tapi belum digunakan secara optimal. Padahal dengan beragam keunggulannya, gas bumi serupa energi baik yang diberikan perut bumi bagi penghuni bumi diatasnya.  

Jarum di jam tangan saya menunjukkan angka 07.45 ketika roda kereta api Malabar Express berhenti melaju di Stasiun Senen, Jakarta. Saya segera beringsut keluar dari gerbong ular besi yang membawa saya dari kota dimana saya tinggal, Purwakarta. Hari itu saya memang ada sedikit urusan di Jakarta.

Dengan santai, saya keluar dari stasiun yang tak pernah sepi pengunjung ini. Sembari kaki melangkah, jari tangan lincah membuka aplikasi ojek online di smartphone.

Entah kenapa saya tak segera memesan ojek online tersebut. Sedikit melamun, otak saya malah memutar memori ingatan tujuh tahun silam. Iya, masa itu saya sempat merasakan hidup di Jakarta saat menuntut ilmu di salah satu institusi pendidikan di kota metropolitan ini.

Dulu kalau kemana-mana, saya paling sering naik transportasi umum berukuran kecil warna merah yang aslinya berasal dari negeri Shah Rukh Khan. Apa kabarnya Bajaj hari ini?

Saya urungkan niat naik ojek online. Saya ingin bernostalgia naik Bajaj lagi. Kabarnya ia sudah bersalin rupa. Bukan lagi berwarna merah menyala, tapi sudah berbaju biru. Katanya ia sudah tak lagi berisik, tak ada lagi asap mengepul dari knalpotnya, meskipun cerita soal kebut-kebutan dan nyelip-nyelip masih menghiasi kabar dari teman-teman yang tinggal di ibukota.

Kebetulan di Stasiun Senen ini banyak Bajaj yang mangkal di dekat gerbang kawasan stasiun. Segera saja saya memanggil salah satu Bajaj yang sedang antre menunggu penumpang. Setelah nego sedikit soal harga, tak lama saya sudah duduk manis di dalam Bajaj. Dan Bajaj pun meluncur menuju kawasan Abdoel Moeis, tempat tujuan saya. Impresi pertama, ternyata benar tak terdengar lagi suara berisik khas Bajaj jaman dulu!

Pak Kusno dan Bajaj Biru Yang Lebih Ramah Lingkungan (Sumber: dokpri)

Memecah kebosanan, saya ajak ngobrol pengemudi Bajaj ini. Maka meluncurlah sedikit cerita dari mulutnya. Sebut saja namanya Pak Kusno. Asli Klaten, Jawa Tengah. Katanya ia sudah cukup lama menjadi pengemudi Bajaj, lebih dari 10 tahun.

“Bajaj ini hasil peremajaan Bajaj lama yang berwarna merah itu,” kata Pak Kusno ketika saya tanya soal bajajnya yang beda banget dengan Bajaj lama yang sering saya tumpangi dulu.

“Sekarang bahan bakarnya pakai gas mas, biarpun bisa juga diisi pakai bensin. Makanya ia gak berisik kayak dulu. Kalau dulu kan pakenya bensin campur oli,” lanjutnya.

Kata Pak Kusno, mesin Bajajnya memang telah dimodifikasi dengan menambah Konverter gas, sehingga bisa diisi dengan gas.

Mengulang Memori Naik Bajaj (Sumber: dokpri)

“Pantesan gak berisik lagi ya pak, … knalpotnya juga bebas asap ya,” saya menimpali ucapannya. “Iya mas, banyak yang juga bilang begitu. Ibu-ibu yang naik habis belanja jadi pada gak komplain lagi, hehehe…,” kata Pak Kusno terkekeh.

“Yang paling terasa sih soal iritnya itu lho mas. Harga seliter gas cuma tiga ribu seratus rupiah, bandingkan dengan bensin yang mencapai enam ribu lebih. Uang yang bisa saya bawa ke rumah bisa lebih banyak,” ujarnya lagi.

“Sehari saya cukup keluar uang dua puluh lima ribu udah cukup buat muter-muter Jakarta. Kalau pake bensin, duit segitu paling cukup buat muter cuma dua jam saja,” sambungnya menerangkan.

“Saya biasa ngisi gas di sekitar Monas,” kata pak Kusno ketika saya tanya soal tempat mengisi gas tersebut.

Bajaj Antre Mengisi Gas (Sumber: merdeka.com)

Tiga ribu rupiah untuk 1 liter gas? Wah murah banget. Sayangnya Pak Kusno tak bisa memperkirakan perbandingan jarak tempuhnya untuk setiap 1 liter gas dengan 1 Liter bensin tersebut. Hanya saja ia menekankan kalau pengeluarannya berkurang secara signifikan.

Pikiran saya menerawang. Andai saja mobil di rumah dipakai konverter gas, saya bisa menghemat pengeluaran untuk bensin setiap bulannya. Namun yang saya ragu adalah soal ketersediaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG). Dibandingkan SPBU, saya jarang menemukan ada SPBG tersedia dipinggir jalan.

Iseng saya mengetik “lokasi SPBG” di mesin pencari google. Dari situs pgn.co.id saya menemukan salah satu lokasinya ternyata ada di Purwakarta, kota dimana saya tinggal.

Ah, jalan menuju penghematan sudah terbuka.

Satu-satunya SPBG yang berada di Purwakarta (Sumber: dokpri)

==

Gara-gara ngobrol soal gas dengan Pak Kusno, saya jadi kepikiran pada tabung gas di dapur rumah. Seperti diketahui, urusan masak memasak, kini kita menggunakan bahan bakar berbasis gas. Apalagi selepas konversi minyak tanah ke gas pada tahun-tahun sekitar 2008 atau 2009, pemerintah menghapus subsidi minyak tanah menjadi tabung melon 3 kg bersubsidi. Praktis, sumber utama yang membuat dapur kita ngebul berasal dari gas.

Bagaimana dengan pasokannya? Untuk saya dan anda yang menggunakan tabung 12 Kg atau 5 kg, mungkin tak masalah. Tabung gas jenis ini mudah didapat. Masalah mungkin hanya di harganya yang lumayan mahal! Saya perlu menyisihkan 170 ribu rupiah untuk kebutuhan membeli 1 tabung gas 12 kg per bulan.

Sementara itu, tetangga yang menggunakan jenis tabung melon 3 Kg bersubsidi kerap dirundung masalah terkait ketersediaannya di masyarakat. Bukan rahasia lagi jika kuota tabung gas 3 Kg bersubsidi ini memang terbatas, sementara penggunanya membludak. Beberapa kali saya mendengar keluhan tetangga soal susahnya mereka mencari tabung gas melon ini. Kerap saya membaca  beberapa daerah bahkan sampai harus mengadakan operasi pasar untuk mensuplai kebutuhan tabung gas melon 3 kg ini.

Antrean warga demi mendapatkan tabung gas LPG bersubsidi (Sumber: dokpri)

Cerita berbeda datang dari kawan yang tinggal di Cirebon. Katanya, sejak 2014 ia beralih menggunakan gas bumi yang dialirkan melalui pipa-pipa gas oleh perusahaan PGN. Soal harga, kawan saya menyebut gas pipa jauh lebih irit dibandingkan dengan gas tabung, dan yang pasti tak perlu pusing mencari tabung ke warung. Tak ada cerita kehabisan gas, begitu katanya.

Petugas PGN sedang memasang instalasi pipa gas di rumah pelanggan (sumber: antara)

“Pakai gas alam PGN itu murah bro, sebulan paling ngabisin 50-60 ribuan buat bayar gasnya. Apinya biru dan bersih. Coba deh cari info, siapa tahu di kotamu udah ada jaringannya,” kata kawan saya lewat pesan whatsapp.

Ketika saya tanya apakah tidak takut bocor, teman saya cepat menjawab, “aman kok, selama ini dirumahku gak ada masalah, lagian petugas PGN sering melakukan pengecekan secara rutin tiap bulannya. Kalau pun ada masalah, kalau dipanggil mereka responsif kok.”

Hmmm, jaringan pipa gas alam? PGN?

Dari laman pgn.co.id saya menemukan produk jaringan pipa gas untuk rumah tangga sebagaimana diterangkan kawan saya di Cirebon tersebut. Namanya GasKita. Ini adalah layanan PGN bagi pengguna rumah tangga dengan cara membuat saluran jaringan pipa gas ke ke rumah-rumah pelanggannya.

Apa sih keunggulan GasKita? Saya coba membuat list-nya sebagai berikut:

  1. Harganya murah. Tanpa subsidi pemerintah, harga 1 kg GasKita PGN berkisar sekitar tiga ribu rupiah. Untuk LPG bersubsidi saja, harga tabung melon 3 kg di daerah saya sekitar Rp. 16.000, jadi per kilogram bisa mencapai Rp. 5.300.
  2. Praktis. Kita tak perlu repot mencari tabung ke warung tetangga, karena distribusinya yang disalurkan melalui pipa gas ke rumah kita. soal pembayarannya pun bisa lebih mudah lewat aplikasi ataupun toko online pada smartphone kita.
  3. Aman. Selain jaminan pipa gas yang paten, jika dilihat dari komposisi kimianya, gas alam terdiri dari rantai karbon metana yang bersifat ringan di udara. Jika pun bocor, ia lebih cepat menguap ke udara dibanding gas LPG yang massa jenisnya lebih berat.
  4. Efisiensi tinggi. Apinya lebih biru sehingga akan cepat matang jika digunakan untuk memasak.
  5. Ramah lingkungan. Emisi yang dihasilkan gas alam relatif lebih rendah dibanding energi fosil lainnya.

Saya coba cari informasi apakah di kota saya, Purwakarta, sudah ada jaringan pipa gas alam ini. Sayangnya, Purwakarta belum terjangkau jaringan pipa gas PGN ini, paling hanya punya SPBG untuk pengisian gas kendaraan. Kota terdekat yang sudah dialiri jaringan gas ala mini adalah Kawarang.

Ah, saya sedikit kecewa. Keinginan untuk berhemat pengeluaran urusan dapur harus tertunda. Ya mau gimana lagi? Kota saya belum tersedia jaringan distribusinya. Tapi saya sedikit terhibur, setidaknya saya bisa memasang konverter kit gas untuk mobil saya, kan SPBG-nya tersedia di kota saya. Minimal untuk penggunaan dalam kota, mobil saya tak perlu menggunakan bensin. Bisa irit kan?

Menariknya, di situs pgn.co.id disediakan Kalkulator EnergiBaik untuk mengukur penghematan yang bisa kita lakukan kalau beralih menggunakan layanan gas dari PGN ini, baik untuk keperluan dapur maupun mobil.

Saya coba menghitung penghematan biaya yang bisa saya lakukan seandainya saya sudah berlangganan gas PGN ini. karena Purwakarta belum masuk dalam jaringan pipa gas PGN, saya coba masukkan kota yang terdekat dengan Purwakarta, Kawarang.

Simak video berikut ini dari simulasi Kalkulator EnergiBaik yang saya lakukan:

Hasil perhitungannya cukup mencengangkan. Dengan asumsi saya menggunakan 1 tabung gas 12 Kg per bulan, serta kebutuhan 20 liter bensin premium untuk urusan transportasi, saya bisa berhemat sekitar 177 ribu per bulan, atau dua jutaan per tahunnya. Lumayan juga ya?

Hasil print out simulasi kalkulator EnergiBaik yang saya lakukan (Sumber: dokpri)

Melihat hasil simulasi perhitungan kalkulator EnergiBaik ini, saya jadi semakin tertarik untuk jadi berlangganan gas alam. Harganya murah, praktis dan juga aman.

Lalu, kapan dong kota saya bisa dilayani jaringan pipa gas alam tersebut?

==

Tertarik karena murahnya penggunaan gas pada kendaraan seperti Pak Kusno serta gas pipa teman saya di Cirebon, saya coba mencari informasi lebih detail soal gas ini. Pertanyaannya sih simpel, kenapa ada dua gas yang dijual beda, lewat tabung dan lewat jaringan pipa? Kenapa pula tak semua mobil menggunakan bahan bakar gas?

Beruntunglah saya hidup di jaman now, segala informasi bisa ditemukan berkat mesih pencari google. Tak disangka, saya menemukan fakta menarik seputar gas ini. Ternyata ada dua jenis gas berbeda yang beredar di negeri kita. Saya ajak anda untuk menelusirinya!

Saya yakin anda familiar dengan istilah elpiji (LPG) yang identik dengan tabung gas di dapur kita. Pernah dengar istilah LNG? Saya sih pernah, tapi tak tahu detail. Ternyata, gas yang digunakan oleh Bajaj Pak Kusno serta armada Transjakarta menggunakan gas jenis LNG, termasuk jaringan gas pipa yang sudah dinikmati kawan saya di Cirebon, itu termasuk gas LNG atau gas alam.

Sebagai orang awam, dulu saya pikir LPG dan LNG ini sama saja. Ya,.. sama-sama gas. Ternyata keduanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Komponen utama gas LPG (Liquefied Petroleum Gas) didominasi oleh propana dan butana, sementara LNG (Liquefied Natural Gas) terdiri dari Metana dan Etana.

Beda LNG dan LPG (Sumber: instagram gasnegara)

Karena massa jenis propana dan butana lebih berat dibanding metana dan etana, komponen gas LPG lebih mudah dikemas dalam tabung dibandingkan gas LNG. Sementara LNG dalam penyalurannya harus melalui pipa gas. Mungkin ini pula alasan mengapa pemerintah memilih LPG untuk mensubsidi kebutuhan gas rumah tangga. Karena mudah dikemas, distribusi LPG lebih mudah menjangkau pelosok negeri.

Kemudian, jika dilihat dari sumbernya juga berbeda, LPG sesuai namanya, petroleum, diperoleh dari hasil sampingan kilang minyak bumi, sementara LNG, natural gas, memang berasal dari kilang gas gas alam. BUMN yang menanganinya pun beda. LPG saat ini dikelola oleh Pertamina, sementara LNG dipegang oleh PGN (Perusahaan Gas Negara).

Berikutnya, ada hal yang bertolak belakang antara LPG dan LNG dalam hal ketersediaan dan kebutuhannya. Pertama, kapasitas produksi LPG dalam negeri hanya mencapai 1,4 juta metrik per tahun, sementara  kebutuhan LPG dalam negeri kita mencapai 5 juta metrik per tahun, ini termasuk untuk memenuhi kebutuhan gas rumah tangga yang kita pakai. Tentu saja untuk menutupi kekurangannya, kita perlu mengimpor LPG.

“Konsumsi LPG itu 6,5-6,7 juta ton setahun. Sekitar 4,5 juta ton dari itu kita impor,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, sebagaimana dilansir tirto.id.

Sebaliknya dengan LNG, Indonesia mempunyai cadangan gas bumi yang berlimpah, sehingga lebih banyak diekspor dibanding untuk memenuhi kebutuhan domestik. Indonesia sampai saat ini tercatat sebagai salah satu eksportir gas alam terbesar di dunia. Mengutip data detik.com, pada tahun 2012 Indonesia mengekspor gas alam sebesar 3.631 BBTUD (Billion British Thermal Unit per Day), sementara konsumsi domestik sebesar 3.550 BBTUD. Konsumsi domestik tersebut sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan industri dan pembangkit listrik yang mencapai 97.26%, sementara untuk kebutuhan rumah tangga masih dibawah 1%.

Distribusi pelanggan PGN (Sumber: pgn.co.id)

Oke, dari sini kita bisa menarik fakta soal distribusi gas di negeri ini. Satu sisi, ada kebutuhan gas LPG yang  besar sehingga harus dipasok dari impor. Ini termasuk kebutuhan gas LPG untuk mensubsidi gas rakyat lewat penyediaan tabung gas melon 3 Kg. Disisi lain, kita memiliki stok LNG berlimpah yang belum digunakan secara maksimal di dalam negeri, sehingga lebih banyak dijual ke negara lain. Bukankah ini ironi? Lucu saja, kita harus membeli barang yang kita butuhkan, sementara kita sendiri punya barang sejenis yang berlimpah namun malah dijual kepada orang lain.

Melihat fakta tersebut serta dengan dua testimoni yang saya ceritakan sebelumnya, saya pikir untuk mengurangi ketergantungan pada impor LPG, termasuk untuk mengatasi kelangkaan tabung gas 3 Kg bersubsidi, adalah logis jika Indonesia perlu meningkatkan penggunaan gas alam untuk konsumen individu atau rumah tangga, baik untuk gas dapur maupun kendaraannya. Tahu sendiri kan, bensin kita juga masih diimpor kan?

Pertanyaannya, langkah seperti apa yang bisa diambil pemerintah untuk intensifikasi penggunaan gas alam tersebut? Sebagai orang awam, saya mencoba menganalisa dengan kacamata sederhana saya.

Pertama, tentu saja pemerintah perlu memperluas infrastruktur  di seluruh wilayah Indonesia. Ini termasuk jaringan pipa gas, terminal penampung gas, serta SPBG. Ini memang tak mudah, karena dibutuhkan investasi yang nilainya tak main-main. Kompas menyebut jika investasi yang diperlukan untuk membangun infrastruktur gas tersebut hingga tahun 2030 mencapai Rp. 650 triliun.

Jumlahnya memang terlihat fantastis, namun saya yakin nilai sebesar ini mempunyai multiplier effect yang juga menguntungkan. Sebut saja, pembukaan lapangan kerja selama pembangunannya, penggerak ekonomi rakyat, seperti pak Kusno dengan Bajajnya, maupun UMKM dan industri besar yang menggunakan energi gas alam dalam produksinya, terpenuhinya kebutuhan gas masyarakat, hingga anggaran subsidi gas yang bisa dikurangi.

Kabar baiknya, pembangunan infrastruktur gas alam ini terus digenjot tiap tahunnya. Tahun ini saja, kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) Republik Indonesia menganggarkan pembangunan jaringan pipa gas baru untuk rumah tangga sebanyak 56.000 sambungan. Penambahan jaringan pipa gas ini akan terus dianggarkan tahun-tahun ke depannya. Semoga saja ini juga mencakup pembangunan jaringan gas di kota saya, Purwakarta.

Komitmen perluasan infrastruktur jaringan pipa gas alam juga ditunjukkan oleh PGN. Saat ini, panjang pipa gas yang sudah terbangun sekitar 7.100 Km, dan direncanakan akan bertambah 1.685 Km sampai tahun 2019. Sementara untuk menunjang penggunaan gas sektor transportasi, PGN akan membangun 60 SPBG tambahan diberbagai daerah. PGN mengklaim, tahun 2019 nanti dengan infrastrukur yang terbangun tersebut, akan menghemat anggaran negara sebesar Rp. 110 triliun. Wow!

Kabar baik lainnya, PGN saat ini juga berencana menjual gas alam dalam kemasan tabung layaknya LPG. Produk yang diberi nama Gaslink ini menggunakan prinsip kompresi gas alam (Compressed Natural Gas) sehingga bisa dikemas dalam tabung seukuran 12 Kg dan 50 Kg. Kehadirannya tentu bisa memberi pilihan bagi masyarakat untuk mendapatkan kebutuhan gas mereka.

Kedua, sosialisasi dan edukasi tentang keuntungan penggunaan gas alam di kota-kota yang sudah tersedia jaringan pipa gas alam. Sambil menunggu berjalannya pembangunan jaringan gas pipa sebagaimana disebut pada poin pertama diatas, pemerintah dan juga PGN perlu mengedukasi masyarakat untuk mau menggunakan gas alam ini.

Saya pikir, masih banyak masyarakat yang belum mengerti akan benefit dari penggunaan gas alam ini. Masih terdapat persepsi keliru di masyarakat soal jaringan pipa gas alam ini, terutam kekhawatiran akan aspek keamanan dari jalur pipa gas di rumah mereka.

Beragam benefit gas alam PGN (Sumber: pgn.co.id)

Ketiga, membuat peraturan tentang anjuran penggunaan konverter kit gas pada mobil dinas plat merah. Peraturan ini mungkin bisa diberlakukan untuk kota-kota yang sudah tersedia SPBG. Penggunaan gas alam sebagai BBM oleh mobil dinas aparatur pemerintah bisa bisa jadi langkah baik untuk mensosialisasikan penggunaan gas bagi masyarakat umum disekitarnya, sekaligus juga bisa menghemat anggaran pemerintah untuk tunjangan bahan bakar mobil dinasnya. Untuk lebih mudah, PGN bisa menempatkan MRU (Mobile Refill Unit) di dekat kantor-kantor pemerintahan, sehingga memudahkan untuk pengisian gas bagi kendaraan dinas tersebut.

Saya membayangkan, ketika masyarakat sudah semakin banyak yang menjadi pelanggan gas PGN, maka tak akan ada lagi cerita tentang susahnya masyarakat mencari tabung gas untuk urusan dapurnya. Saat rumah warga kota sudah terinstal pipa gas alam, maka tabung melon 3 Kg bersubsidi yang jumlahnya terbatas itu bisa disalurkan bagi masyarakat kurang mampu, juga mereka yang lokasinya sulit terjangkau jaringan pipa gas alam ini. Disamping menghemat anggaran subsidi, intensifikasi penguna gas alam juga menunjang program pemerintah dalam hal subsidi gas bisa tepat sasaran.

Pertanyaan saya yang masih tersisa, kapan atuh kota saya bisa tersedia jaringan pipa gas alam PGN?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *