Mendamba Pelesiran ke Vietnam

Resolusi 2019: Melancong ke Vietnam (Sumber: Dokpri)

Di ruangan yang temaram, terlihat siluet seorang pria bertubuh kekar. Wajahnya sangar, sorot matanya  tajam dan rambutnya yang gondrong menambah kesan macho. Hari itu ia sedang menyiapkan peralatan untuk bertempur. Pada pinggangnya ia sarungkan pisau komando, di kedua pundaknya ia selempangkan amunisi peluru untuk senjatanya. Sebelum melangkahkan kakinya keluar, lelaki itu  mengenakan ikat kepala sebagai tanda ia siap berperang.

Misinya cuma satu, membebaskan sekelompok elit pasukan yang terjebak di medan perang. Dengan gagah berani, seorang diri sosok itu memporakporandakan pasukan musuh. Ia seperti dewa perang. Mahir menggunakan senjata api, jago menerbangkan helikopter, piawai menggunakan pisau komando, bahkan bertarung dengan tangan kosong pun jadi. Seorang diri ia bergerilya demi membela bangsanya.

Deskripsi diatas adalah potingan adegan-adegan film Rambo yang masih tersimpan rapi di benak saya. Sebagai anak yang besar di tahun 90an, saya termasuk maniak pada film yang dibintangi Silverstar Stalone tersebut. Satu seri film Rambo yang paling membekas adalah First Blood II. Film yang mengambil latar perang Vietnam tersebut menjadi jembatan yang membuat saya penasaran tentang sejarah dibalik cerita film tersebut.

yaah, wajar sih kalau saya jadi penasaran dengan Vietnam. Bukan hanya Rambo, hampir semua film perang generasi 90an selalu mengambil latar perang Vietnam. Entah itu cerita perangnya maupun latar belakang jagoan yang veteran perang Vietnam.

Perang Vietnam seolah jadi legenda yang selalu diceritakan berulang. Film-film perang ini kemudian membuka rasa penasaran saya untuk belajar sejarah terkait perang Vietnam tersebut. Dua istilah populer yang masih menempel di benak saya seputar Vietnam adalah Viet Cong, dan Saigon.

Dalam film-film Holywood yang saya tonton, Amerika terlihat begitu heroik dalam perang tersebut. Padahal, dari sejarah yang saya baca, nyatanya mereka babak belur sampai angkat kaki dari peperangan tersebut. Sejak itu saya kemudian menyadari satu hal,…. “yaah namanya juga film!

==

Kesukaan saya pada film Rambo dan film-film berlatar Vietnam bukan cuma mematik rasa penasaran tentang sejarahnya saja. Dibalik itu tersimpan keinginan untuk melihat langsung negeri yang menjadi setting fim tersebut. Gambaran saya seputar Vietnam ini kurang lebih adalah kota tua bergaya campuran pecinan dan sedikit eropa, sawah-sawah hijau yang membentang luas, warga seliweran bertopi caping dan bangunan-bangunan yang hancur bekas perang. Sebagai penyuka sejarah, Vietnam itu serupa kota yang mematik romantisme masa lalu. Bill Hayton, mantan wartawan BBC, menyebut Vietnam sebagai “Keelokan yang tersembunyi” dalam buku yang ditulisnya Vietnam Rising Dragon.

Saya penasaran ingin melancong ke sana. Tahun 2019 ini saya menargetkan diri untuk pergi traveling ke Vietnam. Resolusi ini jadi bagian resolusi besar untuk bisa keliling negara-negara Asean. Tiga negara sudah saya kunjungi tahun lalu. Thailand, Brunei dan baru saja Februari kemarin saya kembali dari Malaysia.

Setiap kali melancong ke suatu tempat, dua hal utama yang harus saya lakukan adalah mendatangi destinasi hits serta mencoba kulinernya. Khusus untuk Vietnam, saya memasukan wisata museum dan sejarah sebagai destinasi utama yang harus saya kunjungi. Yaah, selain untuk bernostalgia dengan film-film masa kecil, saya ingin melengkapi eksplorasi sejarah yang saya lakukan tentang Vietnam ini dengan mendatangi langsung situs sejarah Vietnam.

Untungnya, untuk mewujudkannya rasanya tak terlalu sulit. Selain tentunya bebas visa, biaya hidupnya juga relatif lebih murah. Secara kurs mata uangnya juga lebih rendah dari rupiah. Terus, transportasi antar kotanya juga mudah. Ada banyak angkutan publik yang mudah didapat disana. Ojek online juga katanya sudah tersedia di sana.

Satu lagi yang saya hepi soal Vietnam adalah soal ketersediaan akomodasi murah. Yap, bagi seorang backpacker traveller seperti saya, buat dapetin hotel murah dan nyaman adalah prioritas utama ketika memutuskan pergi melancong. Kalau melancong di dalam negeri, saya terbiasa menginap di jaringan hotel Reddoorz. Beruntung RedDoorz juga punya jaringan hotel di Vietnam, sehingga saya bisa sedikit tenang tak perlu repot memikirkan akomodasi hotel pas lagi di sana.

6 Alasan kenapa saya suka booking hotel di RedDoorz (sumber: dokpri)

Tau gak kenapa saya jatuh cinta sama jaringan hotel RedDoorz? RedDoorz itu murahnya kebangetan dan harganya pasti, udah include pajak maksudnya. Di Bandung, kota yang kerap saya singgahi, saya bisa menemukan hotel dengan budget 150 ribuan di jaringan RedDoorz. Harga segitu udah include toiletries, linen yang bersih, ada tv dengan channel internasional, AC yang adem, kamar mandi yang bersih, dikasih air mineral, dan yang terpenting ada Wi-Fi gratis. Lengkap bukan? Memang gak termasuk sarapan, tapi c’mon,… backpakeran mah asyiknya makan di luar hotel kan?  Ya kalau mau makan di hotel tinggal nambah aja sih.

RedDoorz Akomodasi Hotel Pilihan Keluarga Saya (Sumber: dokpri)

Nah, untuk jaringan hotel RedDoorz di Vietnam pun saya yakin kondisinya pasti tak beda jauh dengan di Indonesia fasilitasnya. Kalau diintip dari aplikasi RedDoorz, rata-rata harganya ada yang mulai 100 ribuan per malam. Murahnya kebangetan yaa…. Gak percaya? Cek deh di aplikasi RedDoorz kamu!

Akomodasi Murah RedDoorz di Ho Chi Minh City (Sumber: RedDoorz.com)

Ngapain aja?

Nah, untuk memantapkan resolusi melancong ke Vietnam, jauh-jauh hari saya kudu menyusun itinerary mau ngapain dan ke mana saja selama di sana? Destinasi utama yang wajib dikunjungi tentu saja Halong Bay. Tahu kan tempat Ini seperti iconnya Vietnam. Destinasi yang mirip-mirip Raja Ampat ini pastinya bakalan asyik diekplor. Pantainya yang jernih serta deretan pulau-pulau kecil yang eksotis bakal mantap buat dibidik kamera poket saya, terus diupload di social media. Kan keren tuh?

Halong Bay, Destinasi Wajib Dikunjungi (sumber: worldnomads.com)

Destinasi berikutnya yang mungkin akan saya kunjungi adalah Sa Pa Terraces, yang merupakan area sawah dengan teras-teras yang eksotis. Pergi ke sini sih mungkin lebih pada alasan saya untuk memuaskan rasa penasaran soal gambarang Vietnam seperti di film-film favorit saya. But hey,… tempat ini juga direkomendasikan RedDoorz lho sebagai destinasi yang wajib dikunjungi.

Tapi yang pastinya tak akan saya lewatkan adalah mengeksplor kota Ho Chi Minh. Di awal tulisan ini sudah saya sebutkan tujuan utama saya melancong ke Vietnam adalah untuk memenuhi rasa penasaran akan sejarah Vietnam. Ho Chi Minh City memiliki lanskap yang lengkap untuk memuaskan rasa penasaran tersebut.

Bangunan bergaya arsitektur eropa banyak ditemui di Ho Chi Minh (sumber: kumparan.com)

Di kota ini terdapat banyak bangunan peninggalan Kolonial Perancis yang kuat desain arsitektur eropanya. Sebut saja, ada Saigon Post Office, Gereja Katedral, City Hall, Saigon Opera, dan tentu saja yang paling epic adalah museum sisa-sisa perang (War Remnant Museum). Museum ini pastinya menjadi destinasi utama yang wajib saya kunjungi di kota ini. Ada beragam artefak sisa-sisa perang yang dapat melengkapi puzzle gambaran sejarah perang Vietnam yang jadi obsesi saya selama ini. Untuk melengkapi rasa penasaran akan suasana perang Vietnam, saya akan mewajibkan diri buat masuk ke terowongan Cu Chi. Ini adalah relik labirin terowongan yang digunakan pejuang Viet Cong dalam bergerilya. Hmmm, serem gak ya?

Tentu saja, selain tempat wisata yang wajib dikunjungi, saya juga penasaran untuk menjajal wisata kuliner di sana. Setidaknya sesuai rekomendasi dari RedDoorz, ada beragam makanan yang wajib dicicipi selama disana, sebut saja Bahn Cuon, Pho, atau Chao. Makanan-makanan ini secara nama memang sedikit asing di telinga saya, tapi justru hal itu membuat saya penasaran untuk mencobanya. Hmm,… membayangkannya saja membuat saya tak sabar ingin segera berkunjung ke sana. kalau menurut RedDoorz sih, ini adalah list kuliner yang wajib dicoba, dan yaa saya pasti bakalan mencobanya di sana :

  • Pho, mie beras berkuah kaldu dilengkapi daging
  • Xoi, beras ketan dengan tambahan buncis, kacang, jagung, telur dan daging gulung
  • Banh Xeo, crepe ala Vietnam berisi daging ayam/udang dan sayuran
  • Gỏi Cuốn, lumpia basah berisi daging babi/udang, sayur rempah dan bihun
  • Bánh Mì, roti berisi daging dan sayuran yang dipengaruhi budaya Prancis
  • Bot Chien, snack potongan adonan tepung beras digoreng, dicampur telur dan sayuran
  • Chạo Tôm, sate udang panggang
  • Bánh Cuốn, lumpia basah isi daging sapo/ayam/udang dibungkus kulit lumpia dari tepung beras yang lebih tebal
Aneka kuliner Vietnam yang wajib dicicipi (sumber: RedDoorz.com)

Aarghhh,… makin banyak saya menulis berandai-andai kalau ke sana, hasrat ini makin menggebu buat segera berburu tiket ke Vietnam. Ya sudah, sambal menunggu mimpi ini terwujud, saya lari saja dulu ke kedai kopi untuk menyeruput kopi Vietnam drip.

Sluuurrppptttt!!

 

 

 

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *