Menebar Kebaikan, Menjaring Kebahagiaan

Menebar Kebaikan, Menjaring Kebahagiaan

Alkisah, suatu hari seorang pemuda sedang berjalan-jalan di hutan. Tiba-tiba ia mendengar suara orang meminta tolong. Dilihatnya ada pemuda sebaya yang hampir tenggelam dalam lumpur. Selepas ditolong, ia mengantarkan pemuda tersebut pulang ke rumahnya.

Ayah pemuda yang ditolongnya sangat berterima kasih. Kebetulan ia seorang bangsawan. Sang ayah menyodorkan uang kepada pemuda tersebut sebagai ucapan terima kasih, namun pemuda penolong tersebut menolaknya. Ia berkata, “sudah selayaknya manusia saling menolong.” Sejak itu, kedua pemuda tersebut bersahabat.

Pemuda penolong adalah pemuda miskin, tapi ia punya cita-cita yang kuat ingin menjadi dokter. Karena kebaikannya, si pemuda dibiayai sekolah kedokteran oleh ayah pemuda yang ditolongnya. Di kemudian hari, pemuda tersebut menemukan obat Penisilin. Nama pemuda itu, Alexander Fleming.

Sementara itu, si pemuda yang ditolongnya tumbuh menjadi tantara. Di medan perang ia terluka parah dan mengalami infeksi. Dokter yang merawatnya kemudian menyuntikkan Penisilin dan ia bisa sembuh. Pemuda tentara itu adalah Winston Churchill, salah satu perdana Menteri Inggris yang terkenal.

Kebaikan itu serupa virus. Saya percaya kalau kebaikan itu menular ketika menyebar. Bukan hanya untuk orang lain, tapi balik lagi ke si pemberi. Pepatah “Barang siapa menanam pasti akan menuai” rasanya berlaku dalan hal ini.  

Siapa yang berbuat kebaikan ia akan mendapat balasan kebaikan pula. Kisah Fleming dan Churchill buktinya. Oh ya, cerita di atas saya nukil dari buku Kubik Leadership karya Jamil Azzaini, Farid Poniman dan Indrawan Nugroho.

Sependek pengetahuan saya, semua agama mengajarkan umatnya untuk berbuat kebaikan. Soal ini tertulis di semua kitab suci. Dalam Al-Qur’an, kitab suci agama yang saya anut, ada banyak ayat yang menyuruh kita berbuat baik serta berbagi terhadap sesama. Allah menjanjikan pahala untuk mereka yang berbuat kebaikan, sebaliknya ada takaran ‘dosa’ terselip di setiap kejahatan yang dilakukan.

Dilihat dari perspektif ilmiah pun sama saja. Beragam penelitian membuktikannya. Menurut riset, ketika kita berbuat kebaikan untuk orang lain secara otomatis tubuh akan memproduksi hormon endorphin, oksitosin, dopamine dan serotonin. Hormon endorphin berpengaruh pada peningkatan rasa bahagia, lega, dan perasaan nyaman. Oksitosin mempengaruhi rasa cinta kasih. Sementara itu, dopamine membawa efek pada peningkatan mood dan semangat dalam beraktifitas. Terbukti, kebaikan berbagi itu langsung terasa balasannya berupa rasa Bahagia tersebut. Ini berlaku universal, tak tersekat pada agama atau pun suku bangsa tertentu.

Sejak kecil, tentunya kita diajarkan untuk berbuat baik. Lewat dongeng yang sering dituturkan menjelang tidur, saya diajarkan budi pekerti mana yang baik dan buruk. Melalui aktifitas ngaji sehabis ashar, ustadz mengajarkan kita bagaimana akhlak yang baik. Di sekolah, tentu saja kita diajarkan norma-norma sosial.

Saya masih ingat nasihat kakek sewaktu saya kecil, katanya berbuat baik itu tak perlu menunggu kaya, lakukan saja dengan apa yang kita punya saat ini. “Kamu tersenyum pada orang pun sudah jadi kebaikan buat orang lain,” demikian petuahnya. Sementara itu, orang tua menitipkan hadist rasul untuk selalu dipedomani, “Sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain.”

Tanpa sadar, bagi saya nasihat dan petuah tersebut menjadi semacam energi untuk menebar kebaikan. Tak perlu menakar timbangan pahala atau hormon kebahagiaan di tubuh, aktifitas berbagi berjalan begitu saja seolah menjadi rutinas dalam kehidupan saya. simpelnya, seperti lagu band Armada, saya tuh bahagia “… asal engkau bahagia”.

Bagaimana Saya Menebar Kebaikan?

Kalau diingat-ingat, setidaknya ada beberapa aktivitas yang saya lakukan dalam rangka menebar kebaikan.  Bukan besar kecil yang jadi ukuran, tapi bagaimana saya bisa berkontribusi bagi orang lain. Ini beberapa kegiatan yang saya lakukan:

Berbagi ilmu. Pada dasarnya saya ini senang mengajar. Saya lahir dari keluarga guru. Tapi memang takdir menuntun saya tak menjadi guru. Tak masalah, saya masih bisa mengajar secara informal. Saya selalu senang ketika orang lain dapat mengerti suatu materi atau  ilmu ketika saya ajarkan.

Menjadi Narasumber Pelatihan Menulis, Cara Saya Menebar Kebaikan (sumber: dokpri)

Secara kebetulan saya dianggap punya skill menulis. Beberapa kali saya diminta untuk memberikan workshop menulis kepada rekan-rekan lain secara gratis. Saya sih senang saja. Bukankah ilmu itu akan bermanfaat kalau disebarkan?

Ketika berkuliah di Jepang, saya juga secara sukarela mengajarkan Bahasa Indonesia dan Inggris kepada teman-teman mahasiswa di sana. Termasuk mengenalkan budaya Indonesia kepada mahasiswa di sana.

Selain mengajar, saya juga ngeblog. Harapannya apa yang saya tulis bisa bermanfaat bagi orang lain. Siapa tahu informasi yang saya sebar lewat blog bisa menginspirasi, atau setidaknya menambah pengetahuan pembacanya.

Saya Bahagia ketika ada orang yang berkomentar atau nge-email yang mengapresiasi tulisan saya. lebih senang lagi ketika Tulisan tersebut membantu mereka. Pernah ada pembaca yang mengirim email, meminta ijin menggunakan Tulisan saya sebagai bahan skripsi mereka. Terkadang ada pula yang meminta diskusi lebih lanjut tentang suatu tema yang saya bahas lewat Tulisan.

Secara iseng pula saya coba googling Tulisan-tulisan saya. Kerap saya menemukan Tulisan saya ditulis sebagai referensi suatu artikel, laporan ilmiah maupun dikutip blog lain.

Dari situ, kebahagiaan muncul. Hormon endorphin saya bertambah.

Berbagi nasi dan sembako. Kegiatan ini sebenarnya karena terinspirasi oleh komunitas lain yang saya baca di sosial media. Beberapa pesohor pun kerap melakukannya, terutama setiap hari jum’at. Dari sini saya bersama beberapa teman-teman di komunitas maupun tetangga bergerak. Setiap jum’at, kami membagikan nasi bungkus dan sembako kepada Jemaah di masjid kami dan orang gak mampu. Sistemnya tentu saja gotong royong, kami urunan semampunya.

Aktivitas Rutin Berbagi Nasi Bungkus di Lingkungan Perumahan (Sumber: Dokpri)

Oh ya, selain di lingkungan rumah, saya juga tergerak untuk menjadi donator tetap Sebuah Yayasan di Bekasi yang melaksanakan hal yang sama. Laporan pelaksanaannya dikirim melalui aplikasi whats app.

Donasi Melalui Program Tebar Nasi Bungkus (NaBung) (Sumber: Dokpri)

Saya Bahagia ketika melihat ekspresi orang lain Bahagia.

Infaq dan Sedekah. ini juga jadi bagian aksi berbagi kebaikan yang sudah menjadi kewajiban bagi saya. Pendapatan saya memang tak begitu besar, tapi orang tua saya selalu beramanat untuk senantiasa menyisihkan rejeki yang kita dapatkan untuk orang lain. Katanya, ada rejeki orang lain yang Allah titipkan melalui kita.

Satu lagi yang menjadi kewajiban bagi saya adalah, Zakat. Ya, kalau infak dan sedekah hukumnya opsional, maka zakat termasuk yang wajib dilakukan. Islam mewajibkan kita untuk berzakat. Hitungan dan macamnya pun sudah jelas. Ada rejeki orang lain dalam penghasilan saya. Saya punya kewajiban untuk mengeluarkan zakat penghasilan saya tiap bulannya.  

Lalu bagaimana penyalurannya? Selain disampaikan kepada lingkungan sekitar, saya memilih menyalurkannya kepada Lembaga pengelola dana ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf). Soal ini, saya punya cerita tersendiri alasannya.

Tahukah kamu kalau zakat berpotensi menjadi solusi pengentasan kemiskinan di negeri ini? Begini kawan, hitungan besaran potensi dana yang terhimpun dari zakat di Indonesia ternyata lumayan gede. Ini belum termasuk infak, sedekah maupun wakaf. Menurut catatan kompas, potensi zakat di Indonesia ternyata bisa mencapai 233 triliun rupiah. Sebagai catatan, angka ini hampir menyamai besaran dana APBN 2019 untuk program pengentasan kemiskinan, 283 Triliun rupiah. Dengan besaran potensi zakat seperti itu tentu saja kalau dikelola professional diyakini mampu menjawab upaya pengentasan kemiskinan di negara kita.

Lewat internet dan media sosial, saya mendapati begitu banyak program yang diselenggarakan Lembaga ZISWAF bagi masyarakat, terutama dalam upaya pengentasan kemiskinan. Ketika dana zakat terkumpul secara kolektif, pasti bisa memberi manfaat yang besar bagi masyarakat. Sederhananya, saya pikir kebaikan berbagi yang saya lakukan akan terasa lebih besar apabila dikelola oleh Lembaga professional.

Ada banyak Lembaga pengelola Ziswaf di negara kita. Saya memilih menyalurkan zakat dan infak saya lewat Dompet Dhuafa. Setidaknya ada banyak alasan kenapa saya memilih mereka.  

Berpengalaman sejak lama. Ya, saya mengenal Dompet Dhuafa saat masih kuliah pada sekitaran tahun 2000an. Saya jadi saksi bagaimana kiprah mereka saat itu. Mereka punya program bantuan beasiswa bagi mahasiswa tidak mampu, dan teman sekampus saya menjadi penerimanya. Bagaimana dampanya begitu terasa bagi teman saya tersebut.

Beastudi, Program Beasiswa dari Dompet Dhuafa (sumber: dompetdhuafa.org)

Ternyata Dompe Dhuafa telah berdisi sejak 1993. Dalam rentang waktu 27 tahun tersebut, mereka telah membantu lebih dari 21 juta orang. Dengan pengalaman selama itu serta banyaknya masyarakat yang ditolong, bagi saya ini terhitung sangat berpengalaman. Sebagai catatan, Lembaga ini memiliki 27 Cabang Dalam Negeri, 5 Cabang Luar Negeri, 9 Kantor Layanan, 157 Zona Layanan Dalam Negeri & 29 Luar Negeri 118 Program, 19 Klinik LKC, 71 Pos Sehat, 8 Rumah Sakit,  8 Unit Pendidikan, 7 Gerai Dayamart, dan 14 Unit Bisnis. Bukankah ini bukti profesionalitas mereka?

Jangkauan Penerima Manfaat Dompet Dhuafa di Luar Negeri (Sumber: dompetdhuafa.org)

Program Pemberdayaan Masyarakat. Saat ini Dompet Dhuafa memiliki tak kurang dari 130  program pemberdayaan umat. Mereka memang berfokus pada 5 sektor, Pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial dan dakwan, kebudayaan. Yang keren adalah mereka tak sekedar memberi sumbangan, tetapi memberdayakan. Ada banyak petani, peternak maupun UMKM yang diberdayakan. Ada banyak pelajar dan mahasiswa yang dibimbing supaya mandiri, dan bantuan bagi keluarga miskin.

Ini sisi menariknya program Dompet Dhuafa. Mereka bukan sekedar memberi, tetapi juga memberdayakan sehingga penerima manfaat suatu saat bisa terlepas dari kesusahannya. Bukankah itu esensinya bantuan pengentasan kemiskinan?

Menurut data laporan keuangan Dompet Dhuafa 2019, jumlah dana yang dikelola Dompet Dhuafa dari ZISWAF pada tahun 2019 adalah 378,58 Milyar. Nilai ini setara 0,1% dari dana pengentasan kemiskinan yang dianggarkan APBN pada tahun 2019 sebesar 283 Trilyun. Dari besaran dana 278,58 Milyar rupiah tersebut, jumlah penerima manfaat program Dompet Dhuafa ini setara 9,84% masyarakat miskin Indonesia (25,14 juta jiwa) sebagaimana diproyeksikan oleh BPS.

Akuntabel dan transparan. Sebagai Lembaga yang mengelola dana umat milyaran rupiah, aspek akuntabilitas dan transparansi menjadi taruhannya. Melalui website maupun media sosial, mereka selalu meng-update laporan kegiatan mereka. Annual report pun selalu tersedia di website mereka.

Akuntabilitas mereka sendiri dibuktikan dengan diraihnya berbagai penghargaan dari instansi-instansi besar. Sebut saja, diraihnya Ramon Magsaysay Award, Baznas Award, anugarah Lembaga filantropi peduli umat yang disematkan oleh Republika, NGO favorit versi Ikatan Da’I Indonesia, dan Indonesia Middle-Class Brand Champion 2015 dalam kategori Lembaga amal zakat, infak, sedekah nasional.

Bukti lainnya juga bagaimana kepercayaan para tokoh terhadap pengelolaan dana umat oleh Dompet Dhuafa ini. Contohnya seperti komentar Ustadz Abdul Shomad, “Lembaga yang terpercaya Dompet Dhuafa, tak diragukan, transparan, tampak jelas laporannya, lembaganya jelas, diaudit dananya, legal.”

Program yang Relevan. Selain dari program rutin yang ada di Dompet Dhuafa, mereka juga tanggap dengan kondisi terkini bangsa. Seperti saat ini, ketika pandemi covid-19 melanda negeri ini, Dompet Dhuafa menggulirkan bantuan untuk membantu Pemerintah dalam menanggulanginya. Sebut saja, bantuan sembako bagi masyarakat terpapar corona, penyemprotan desinfektan, bantuan APD bagi tenaga medis.

Program Dompet Dhuafa Seputar Covid-19 (Sumber: IG @dompetdhuafaorg)

Kemudahan transaksi donasi. Dompet dhuafa memberi kemudahan bagi saya dalam menyalurkan infak dan zakat saya. Infak dan zakat dapat disalurkan melalui transfer bank maupun merchant online payment. Asyiknya lagi, dalam websitenya ada kalkulator zakat untuk menghitung kewajiban kita, termasuk jenis program donasi mau disalurkan kepada program apa. 

Buat infak atau zakat, saya tinggal membuka websitenya, kemudian klik donasi sekarang, isi data, transfer lewat mbanking, lalu konfirmasi. Dalam hitungan detik, mereka akan langsung mengkonfirmasi ulang donasi saya dalam bentuk sms dan email. Bukankah ini praktis?

Konfirmasi Donasi di Website Demi Transparansi (Sumber: Dokpri)
Kemudahan Donasi Melalui M-Banking (Sumber: Dokpri)
Bukti Penerimaan langsung terkirim ke email (sumber: dokpri)

Oh ya, soal kemudahan berdonasi ini,  kita juga bisa berdonasi di berbagai gerai Dompet Dhuafa yang tersebar di beberapa pusat perbelanjaan, termasuk lewat kasir di beberapa supermarket. Praktis juga kan?

5 Alasan Kenapa Memilih Berdonasi di Dompet Dhuafa (Sumber: Dokpri)

Pandemi Covid-19, Momentum Menebar Kebaikan

Saat ini dunia sedang menghadapi wabah virus corona, termasuk Indonesia. Penyebarannya sudah sedemikian masif saat ini. eskalasinya pun semakin meningkat. Saat Tulisan ini ditulis, pada beberapa daerah sudah diterapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sebagai antisipasi penyebaran virus ini.

Kebijakan ini tentu saja berimplikasi banyak terhadap masyarakat. Para pedagang kaki lima dilarang berjualan, karyawan terancam di-PHK, para pengemudi ojek online menurun drastic pendapatannya, belum lagi lapisan masyarakat lainnya yang akan semakin rentan, bukan hanya secara kesehatan, tapi juga dari sisi sosial ekonomi. Menteri Keuangan Sri Mulyani sendiri memprediksi akan terdapat penambahan masyarakat miskin sebesar 3,7 juta orang akibat pandemi Covid-19 ini.

Dibalik ancaman pandemi tersebut, bukankah ini adalah momentum bagi kita untuk menebar kebaikan? Kondisi masyarakat saat ini membutuhkan uluran tangan dari kita. Bagi saya, saat ini sudah menjadi wajib hukumnya bagi kita untuk menolong orang lain.

Lewat media sosial dan internet kita membaca informasi betapa banyak lapisan masyarakat yang membutuhkan bantuan. Tenaga medis kekurangan APD, masyarakat kekurangan masker dan hand sanitizer, serta masyarakat lain yang rentan teracam kehilangan pendapatannya.

Kita bisa membantu masyarakat baik sendirian maupun kolektif. Saya percaya Indonesia tidak pernah kekurangan orang baik. Inilah saatnya bagi kita untuk menebar kebaikan dalam mendukung Pemerintah menanggulangi sebaran virus corona ini.

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk itu. Saya sendiri salah satunya dengan ikutan campaign #LawanCoronaPakaiKonten. Kebetulan saya mengikuti komunitas menulis yang menggalakan kampanye ini.

Ini adalah semacam cara kami untuk mengedukasi masyarakat agar mendapatkan informasi yang tepat mengenai corona. Tahu sendiri kan, di negeri kita mah suka banyak informasi hoaks, rumor dan mitos yang menyertai suatu peristiwa. Bersamaan dengan wabah Covid-19, kita juga diserang gejala infodermik, akibat banyaknya informasi yang belum tervalidasi kebenarannya tersebut. Di situlah saya dan kawan-kawan lain mencoba memberi informasi yang benar tentang corona.

Bersama teman-teman komunitas juga, kami membagikan sembako bagi masyarakat. Tak banyak memang, tapi setidaknya ada beberapa keluarga yang terbantu dengan donasi kami. Apalagi sebentar lagi ramadhan, lumayan buat menambah amunisi dapur mereka.

Donasi Sembako Menjelang Ramadhan (Sumber: Dokpri)

Cara lainnya tentu saja kita bisa berpartisipasi dengan berdonasi kepada Lembaga filantropi yang mempunyai program-program pengentasan corona, seperti Dompet Dhuafa. Seperti saya bilang sebelumnya, mereka punya banyak program-program untuk penanggulangan dampak pandemi Covid-19 ini.

Program Dompet Dhuafa Bagi Masyarakat Terdampak Covid-19 (sumber: dompetdhuafa.org)

Apa pun Caranya, saya cuma mau menegaskan saja, tak pernah ada cerita rugi bagi mereka yang menebar kebaikan. Saya tak pernah mendengar ada orang menjadi miskin ataupun susah gara-gara keseringan menebar kebaikan. Yang ada adalah mereka mendapat reward yang positif selepas berbagi kebaikan tersebut.

Berbuat baik itu gak bikin rugi. Iya kan?

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

Ofi Gumelar

15 thoughts on “Menebar Kebaikan, Menjaring Kebahagiaan

  1. Tulisan yang menyentuh dan menginspirasi sekali, semoga akan semakin banyak hati yang tergerak untuk ikut menebar kebaikan, sesulit apa pun akan ada jalan menuju kebaikan, seberapa pun jumlahnya kebaikan kita semoga akan menjadi amal ibadah yang barokah, aamiin
    Salut buat Kang Ofi, semangat terus menebar kebaikan

      1. Tulisan yang sangat menggugah hati dan menginspirasi. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lainnya, hal ini telah Kang Ofi tunjukan melalui aksi nyata. Semoga kebaikannya bisa saya tiru dan amalkan juga, semangat berkarya, berbagi, dan menginspirasi kita. Bravo Kang Ofi.

  2. Sebagai seorang teman yang sudah mengenal penulis sejak lama, selain menebarkan kebaikan lewat aksi donasi materinya ke orang2 tak mampu, kang ofi ini selalu menebar kebaikan lewat kemampuan yg dia miliki. G pelit ilmu. Gara2 kebaikannya saya banyak dpat pengalaman baru, kawan2 baru.

    Menebar kebaikan yang sering dilakukan kang ofi juga patut diacungi jempol karena isi tulisannya selalu “ngena” di hati pembacanya.

    Jangan pernah lelah berbuat baik. Semangat Ofi…

    1. Suka dengan kutipan: “semua agama mengajarkan umatnya untuk berbuat kebaikan.”
      Maka kalau ada yang melakukan sebaliknya atau masih enggan melakukannya, kamu harus mempertanyakan apa agamamu sebenarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *