Menggagas Kota Ramah Sepeda di Indonesia

Categories Uncategorized

Perkembangan penggunaan sepeda di tanah air menunjukan peningkatan yang cukup menggembirakan akhir-akhir ini. Selain ditandai dengan bermunculannya komunitas pesepeda di berbagai kota, maraknya kegiatan fun bike yang diselenggarakan pihak swasta maupun instansi pemerintah, juga mulai meningkatnya kepedulian para pemimpin daerah terhadap manfaat sepeda ini. Mungkin yang paling banyak disorot akhir-akhir ini adalah kegiatan Jokowi yang mulai aktif menggunakan sepeda setiap hari jum’at ketika beliau ngantor. Sebelumnya, program Walikota Bandung terpilih, Ridwal Kamil, terhadap transportasi sepeda juga cukup mewarnai pemberitaan di berbagai media. Penulis yakin di beberapa kota lain di Indonesia pun sudah banyak gebrakan kepala daerah terkait penggunaan sepeda sebagai sarana transportasi ini, namun tidak terekspos oleh media.

Sepeda memang sudah diakui memiliki berbagai manfaaat, baik secara personal maupun kolektif. Secara Personal, bersepeda sudah jelas memberi manfaat bagi kesehatan tubuh, sebagai olahraga yang murah, mudah dan menyenangkan. Dalam hal manfaat kolektif, penggunaan sepeda sebagai moda transportasi dapat menjadi solusi bagi masalah kemacetan lalu lintas, dapat menurunkan tingkat polusi udara yang secara langsung juga bermanfaat bagi peningkatan kualitas lingkungan kota. Beberapa penelitian telah menunjukan keberhasilan beberapa kota di dunia dalam menurunkan tingkat kemacetan dan polusi udara dengan menerapkan sepeda sebagai moda transportasi bagi masyarakatnya. Groningen, Amsterdam, dan Copenhagen  adalah contoh kota-kota di dunia yang berhasil mengimplementasikan sepeda sebagai bagian moda transportasi kota.

Bagaimana dengan kota-kota di Indonesia? sepertinya sepeda memang masih dianggap inferior dalam manajemen transportasi  di negara kita. Kebijakan transportasi kita memang lebih fokus pada penggunaan kendaraan bermotor, sedangkan moda tidak bermotor, seperti sepeda dan pejalan kaki, sedikit diabaikan. Pengamatan penulis, beberapa kota memang sudah mengakomodir jalur sepeda di beberapa ruas jalannya, seperti Jakarta, Bandung,  dan Yogyakarta. Namun, boleh dibilang mereka belum cukup serius menerapkan sepeda ini sebagai bagian integral dari sistem transportasi kota. Tapi kita boleh optimis, dengan melihat trend para kepala daerah yang mulai melirik sepeda sebagai alternatif moda transportasi kota sebagaimana dibahas di awal tulisan ini, geliat perkebangan penggunaan sepeda di kota-kota di Indonesia akan meningkat. Pertanyaannya, Ketika akan mempromosikan sepeda bagi masyarakat, bagaimana memulainya?

Secara sederhana, dalam mengimplementasikan kebijakan pembangunan, terdapat dua aspek yang wajib diterapkan, aspek fisik dan non-fisik. Aspek fisik sudah jelas, pembangunan infrastruktur sepeda untuk mengakomodir kepentingan pesepeda di jalan perlu dibangun, seperti jalur sepeda, rambu-rambu jalan dan fasilitas tempat parkir sepeda. Sedangkan secara non-fisik perlu disiapkan peraturan-peraturan baik ditingkat pusat maupun daerah, kampanye penggunaan sepeda dan dan yang tidak kalah pentingnya kampanye keselamatan tertib berlalu lintas. Dengan maraknya pengguna sepeda di jalan raya (nantinya?) akan menuntut adanya sikap toleransi diantara pengguna jalan raya, antara pengguna sepeda dan pengguna kendaraan bermotor.

Tentu saja kedua aspek ini perlu dijalankan secara bersamaan. Terkait infrastruktur sepeda, kepedulian pemerintah terhadap hak pengguna sepeda bisa ditandai dengan tersedianya fasilitas jalur sepeda untuk menjamin keselamatan pesepeda. Sedikit ulasan, tipe jalur sepeda sendiri ada berbagai macam, diantaranya (1) jalur sepeda di jalan raya menyatu dengan ruang kendaraan bermotor tanpa pembatas,(2) jalur sepeda di jalan raya menggunakan pemisah/pembatas dengan ruang kendaraan bermotor, ataupun (3) Membuat jalur sepeda di trotoar bersamaan dengan pejalan kaki.

Hanya saja, implementasi di lapangan memang patut diakui tidak mudah. Karakteristik jalan raya di kota-kota di Indonesia kebanyakan sempit, sehingga apabila ruang jalan dipakai untuk jalur sepeda, akan mengurangi ruang untuk kendaraan bermotor. Mengingat sampai saat ini volume terbesar pengguna jalan adalah pengguna kendaraan bermotor, dikhawatirkan malah akan menimbulkan konflik antara pesepeda dengan pengguna kendaraan bermotor karena ruang jalan untuk kendaraan bermotor akan berkurang. Sedangkan untuk opsi menggunakan trotoar sebagai jalur sepeda, juga akan menimbulkan kendala. Selain trotoar di Kota-kota di Indonesia lebarnya sempit, juga bentuk trotoar yang turun naik apabila bertemu dengan jalur masuk mobil ke bangunan akan menyulitkan pesepeda. Selain itu konflik antara pesepeda dan pejalan kaki berpotensi terjadi. Solusi revolusioner yang bisa diambil adalah melakukan pembebasan lahan untuk pelebaran jalan demi memberi ruang pesepeda dan pejalan kaki tanpa mengorbankan ruang bagi kendaraan bermotor. Bisakah?

Demikian pula terkait penyediaan fasilitas parkir sepeda. Sampai saat ini masih sangat sedikit gedung perkantoran, komersial, maupun area umum yang menyediakan parkir khusus bagi sepeda. Penyedia jasa parkir profesional pun masih terhitung jari yang sudah menyediakan fasilitas ini. Untuk itu, sudah selayaknya pemerintah membuat peraturan yang mewajibkan penyediaan fasilitas parkir khusus untuk sepeda bagi setiap pengelola gedung maupun provider parkir profesional.

Pilihan realistis yang bisa diambil sebagai prioritas program awal untuk mempromosikan sepeda bagi masyarakat adalah dengan melakukan kampanye penggunaan sepeda serta konsep tertib berlalu lintas. Apa yang dilakukan para kepala daerah dengan melaksanakan gowes setiap hari Jum’at bisa menjadi awal yang bagus, dengan harapan akan dicontoh oleh para staff nya dan juga warga kota. Bukankah karakter orang Indonesia termasuk yang suka ikut-ikutan? mereka akan mengikuti apa yang dikerjakan pemimpinnya, termasuk dalam hal bersepeda. Banyak program turunan yang bisa dicanangkan para kepala daerah terkait hal ini, semisal mewajibkan penggunaan sepeda untuk seluruh pegawai pemerintah pada hari tertentu, seperti setiap hari Jum’at misalnya; atau menyediakan sepeda sebagai kendaraan dinas bagi para staff pemerintah, dan lain sebagainya. Penulis yakin para kepala daerah saat ini sudah banyak yang kreatif dalam membuat program semisal ini.

Kampanye yang tidak kalah penting adalah budaya tertib berlalu lintas. Dikalangan para pesepeda sedang gencar dibicarakan pentingnya konsep share the road. Istilahnya, saling respek diantara sesama pengguna jalan. Ini hal penting terkait aspek keselamatan pengguna jalan, terutama bagi pesepeda sebagai pihak minoritas di jalan. Apabila sudah tercipta toleransi yang tinggi diantara pengguna jalan, bisa dikatakan keselamatan pengguna jalan bisa terjamin, dan ini akan meningkatkan jumlah warga yang menggunakan sepeda di jalan raya, karena mereka sudah tidak takut lagi untuk bersepeda di jalan.

Pemerintah sendiri sudah menjamin hak pesepeda  di jalan raya, sebagaimana tertulis dalam Undang-Undang No.22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Di dalam Pasal 62  mengenai hak mendapatkan fasilitas pendukung keselamatan di jalan raya dan Pasal 106 mengenai kewajiban pengendara kendaraan bermotor untuk mengutamakan keselamatan pejalan kaki dan pesepeda. Apakah pasal ini sudah tersosialisasikan dengan baik? terutama bagi pengguna kendaraan bermotor? Mungkin inilah pe-er pertama yang perlu digenjot terlebih dahulu oleh pemerintah untuk menciptakan budaya saling menghargai diantara sesama pengguna jalan sehingga diharapkan pesepeda tidak lagi takut untuk menggunakan sepedanya di jalan raya. Bukan rahasia lagi pengendara kendaraan bermotor kita masih banyak yang ugal-ugalan, ngebut karena ingin cepat sampai tanpa memperdulikan pengendara yang lain.

Pada akhirnya, apapun program yang dilaksanakan pemerintah, kita patut mengapresiasinya dengan baik, sejauh itu bisa membawa perubahan positif dalam perkembangan transportasi di Indonesia. Trend meningkatnya pengguna sepeda di Indonesia perlu direspon dengan program pemerintah yang tepat agar dapat meningkatkan aktifitas bersepeda di masyarakat, sehingga berbagai permasalahan terkait carut marutnya transportasi di Indonesia bisa sedikit terurai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *