Menjaga Bhinneka di Ruang Maya

Menjaga Bhinneka di Ruang Maya

Tidak perlu menetapkan persamaan dalam persahabatan, kamu hanya perlu menumbuhkan pengertian terhadap setiap perbedaan.

Begitu tulis istri saya dalam postingan blognya hari ini. Ia memang jago kalau soal berfilosofi. Quote-nya kali ini pastilah ngobrolin soal kisah ia dan teman-teman genk-nya.

Sejak anak saya masuk sekolah dasar, istri saya punya group emak-emak yang solid sampai kini. Awalnya mereka berkomunikasi karena sering dirempongkan dengan urusan sekolah anak. Kini setelah anak kami duduk di kelas 2 SMP, persahabatan tersebut tak jua luntur. Mereka masih sering nongkrong bareng.

Dari cerita pasangan hidup saya, ia menyebut kalau genk-nya punya latar yang beragam. Meskipun Sebagian besar orang sunda, Sisanya ada juga yang berbeda latar belakangnya. Ada yang turunan Jawa, ada yang orang Belitung, Betawi, dan ada yang asli Lampung.

Biarpun Berbeda Tapi Tetap Kompak (sumber: IG @priem.estriyana)

Soal selera mereka juga berbeda. Ada yang senang ngopi di café, ada yang senang makanan tradisional. Ada yang senang ngaliwet, ada yang maniak baso. Biarpun begitu, kalau urusan makan-makan mereka kompak ikut nimbrung kalau salah satu mentraktir. Hmm, soal yang terakhir ini mungkin karena aji mumpung ada yang bayarin ya? Wkwkwkwk…

Bagi saya persahabatan istri dan teman-temannya serupa miniatur kecil Indonesia. Betapa tidak, diantara keragaman yang ada dalam kelompok mereka, mereka bisa bertahan rukun sampai bertahun-tahun. Bukankah Indonesia itu beragam? Ia terdiri dari berbagai pulau, suku, bahasa dan budaya yang berbeda-beda.

Apakah mereka tak pernah bertengkar? Cerita istri saya katanya tentu saja ada riak-riak kecil perselisihan, cuma gak pernah lama. Selepas itu yaa akur lagi. Indonesia juga tak jauh beda. Kadang kita berseteru, tapi dilain waktu kita bergandengan tangan lagi. Bukan begitu?

So sweet yaa?

Saya merasa perlu untuk menuliskan kisah persahabatan istri saya ini. Ada sedikit pelajaran yang mungkin bisa diambil disana. Kisah diatas bisa menjadi refleksi bagaimana kita seharusnya berinteraksi dalam ruang yang lebih luas, memaknai Indonesia.

Sejak bangku sekolah dasar kita sudah diajarkan bahwa bangsa Indonesia ini dibentuk dari berbagai budaya, suku bangsa dan adat istiadat yang berbeda-beda. Katanya ada lebih dari 1340 suku bangsa, 769 bahasa, 6 agama resmi dan 187 penghayat aliran kepercayaan yang tersebar di negeri ini. Dengan semboyan bangsa yang melegenda, Bhinneka Tunggal Ika, kita percaya bahwa perbedaan itu menjadi pemersatu bangsa.

Sayangnya di era internet saat ini, keberagaman itu terancam retak akibat salah kaprah masyarakat dalam menggunakan media sosial. Kemudahan beragam fitur media sosial dalam menyebarkan informasi justru bisa menjadi boomerang bagi bangsa ini.

Pastikan Selalu Bijak Dalam Bermedia Sosial (Photo: Parmadi Budi Prasetyo)

Ya, lewat media sosial kita bisa dengan mudahnya sekali klik menyebarkan sebuah informasi baik berbentuk teks, audio maupun video. Bagaimana jika informasi tersebut salah? Bagaimana informasi yang disebarkan tersebut malah menyebabkan perselisihan?

Itu pula yang menjadi kekhawatiran salah satu Lembaga negara, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI). Bertempat di hotel Crown Plaza Bandung, hari sabtu kemarin, 18 September 2021, saya bersama 20 netizen asal Bandung lainnya diajak berdiskusi perihal The Power of Bhinneka Tunggal Ika, Bijak Bermedia Sosial Menjaga Karakter Bangsa.

Pada event tersebut, hadir Ibu Siti Fauziah selaku Kepala Biro Humas dan Sistem Informasi Sekretariat MPR RI dan Pak Budi Muliawan selaku Kepala Bidang Pemberitaan dan Hubungan Antar Lembaga Sekretariat MPR RI. Bersama keduanya, kami ngobrol santai soal bagaimana seharusnya kita menggunakan media sosial demi dalam korelasinya menjaga kebhinekaan.

Jika saat ini di dunia nyata kita sedang menghadapi pandemi covid-19, maka di dunia maya kita juga sedang menghadapi serangan infodemic yang tak kalah mengkhawatirkan. Keberlimpahan informasi yang seliweran di dunia maya bisa menjadi virus yang menggerogoti keutuhan bangsa apabila dibiarkan begitu saja. Berita bohong (hoak) , ujaran kebencian (hate speech) dan hal negatif lainnya bisa menjadi virus yang menyebar secara cepat di ruang maya akibat ketidakmampuan kita menggunakan media sosial secara bijak.

Media sosial memang membuka ruang yang besar bagi setiap orang untuk berekspesi ataupun beropini. Lewat media sosial, setiap orang bisa membuat konten tersendiri, entah itu memproduksi atau menyebar ulang dari pihak lain. Lewat akunnya, setiap orang bisa dengan mudah mengeluarkan pendapat baik dipostingan sendiri maupun orang lain.  

Sayangnya, terkadang kita kebablasan dan tak sadar bahwa konten yang kita sebar, komentar dan opini yang kita sampaikan belum tentu benar dan malah menimbulkan masalah. Maka lewat diskusi ringan dengan MPR RI ini saya Kembali diingatkan agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial, gak boleh asal sebar konten, jangan sekedar asal berkomentar.

Soal cara bijak bermedia sosial sebenarnya sudah banyak dibahas di internet, entah itu media online, blog bahkan di akun-akun personal. Kalian bisa searching aja sih. Tapi, kalau mau tahu bagaimana bijak bermedia sosial cara saya, ini dia step by stepnya:

Sadari dulu, Beda Itu Biasa

Seperti cerita persahabatan istri saya diatas, kita tentu akan berhadapan dengan berbagai orang yang berbeda dengan saya, dan itu biasa aja sih. Hidup malah lebih asyik kalau kita berbeda. Iya kan?

Agama saya menegaskan kalau perbedaan itu sudah disetting oleh Tuhan sejak awal dan saya harus menerima itu. Tidak perlu jumawa kalau saya yang terbaik dan orang lain lebih jelek. Bahkan dalam saya berinteraksi dengan orang lain saya selalu menemukan fakta unik,… Oh saya lebih baik dari dia dalam satu hal tetapi dia lebih baik dari saya dalam hal lain.

Dengan menerima perbedaan, maka saya akan bisa menahan diri ketika dalam bermedia sosial saya menemukan ada orang lain yang berbeda dari apa yang saya Yakini.

Saring Sebelum Posting

Ini sebenarnya sudah banyak dibahas dimana-mana. Jangan asal menyebarkan informasi yang belum pasti kebenarannya. Di lain pihak, saya juga berusaha memastikan apakah informasi yang saya sebar akan lebih banyak manfaat atau mudharatnya. Termasuk apakah akan membuat orang tersinggung atau tidak?

Tahan Emosi, Jangan Asal Komentar

Satu hal yang juga saya pastikan adalah bahwa saya tak mau asal komentar di status orang. Saya selalu berusaha mempertimbangkan apakah komentar tersebut pantas atau tidak? Apakah akan membuat orang tersinggung atau tidak?

Hanya Follow Akun Yang Relevan

Saya juga berusaha memastikan hanya memfollow akun-akun yang asli, dan bermanfaat bagi saya. Tahu kan saat ini ada banyak akun yang suka menyebar berita bohong? Terkadang ada akun yang memantik pertikaian. Ini termasuk teman-teman yang punya preferensi terhadap satu golongan tertentu. Saya lebih baik unfollow saja.

Tetap Gunakan Etika

Satu hal yang penting untuk saya terapkan ketika bermain media sosial adalah tetap menggunakan etika. Kalau di dunia internet ada yang dinamakan netiket yang menjadi panduan bagi pengguna internet dalam menerapkan etika dalam bermedia sosial. Ada Batasan-batasan yang perlu dipertimbangkan. Saya selalu mengingat ada undang-undang ITE yang kerap menjadi batu sandungan bagi orang-orang yang kebablasan dalam bermedia sosial.

Pada akhirnya, saya setuju bagaimana kita berinteraksi di media sosial akan menjadi cermin sikap kita di dunia nyata. Menghargai perbedaan bisa menjadi titik awal dalam menjaga keutuhan Bhinneka Tunggal Ika di ruang maya.

Menurutmu bagaimana?

Ofi Gumelar

2 thoughts on “Menjaga Bhinneka di Ruang Maya

  1. Benar banget, lewat media sosial kita bisa dengan mudahnya sekali klik menyebarkan sebuah informasi. apa lagi kalau nyebarin info hoaks cepet baget

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *