Menyemai Asa Generasi Pembaca

Categories Feature
Suasana kegiatan readathon di SD Plus 2 Al Muhajirin Purwakarta

Tepat pukul 06.45 pagi, bel sekolah berbunyi nyaring. Heidi Latisha, Siswa Kelas 4 SD Plus 2 Al-Muhajirin Purwakarta, bergegas mengikuti teman-temannya keluar kelas menuju lapangan sekolah. Tak lupa ia membawa alat tulis serta sebuah buku cerita berjudul Suster Misterius yang dibawanya dari rumah.

Sepanjang berjalan di selasar kelas, Heidi asyik bercakap dengan teman-teman lainnya. Seperti dirinya, teman-temannya juga membawa buku bacaan. Mereka saling bercerita tentang buku yang dibawa masing-masing. Bersama salah seorang teman, Heidi bersepakat untuk saling meminjam buku  setelah selesai acara di lapangan sekolah pagi itu.

Heidi Latisha dan buku cerita yang dibawanya untuk kegiatan readathon

Tak semua anak membawa buku dari rumahnya, sebagian mengambil dari koleksi buku perpustakaan mini yang ada di kelas. Di sekolah ini, selain memiliki perpustakaan sekolah yang terletak dekat ruang guru, masing-masing kelas memang memiliki koleksi buku tersendiri sumbangan para siswa saat memasuki tahun ajaran baru.

Lapangan sekolah tampak mulai ramai dipenuhi anak sekolah berseragam merah putih. Satu per satu siswa dan guru berdatangan ke lapangan sekolah. Pagi itu (18/09/2017), sekolah dimana Heidi belajar akan melaksanakan readathon. Readathon sendiri adalah akronim dari kata reading dan marathon. Kegiatan yang dilaksanakan setiap bulan di hari senin minggu ketiga ini adalah bagian dari kegiatan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) SD Plus 2 Al-Muhajirin Purwakarta yang bergabung dalam program West Java Leader’s Reading Challenge (WJLRC) yang digagas oleh pemerintah provinsi Jawa Barat.

Sesampainya di lapangan sekolah, Heidi dan teman-temannya segera menghampiri wali kelas mereka berdiri. Masing-masing siswa kemudian diberi selembar kertas putih polos beserta alas menulis. “Selesai membaca, nanti aku harus menuliskan cerita singkat buku yang aku baca ini,” kata Heidi.

Seorang guru wali kelas sibuk membagikan kertas kepada para siswa untuk menulis review buku yang dibaca dalam kegiatan readathon

Ketika semua warga sekolah sudah berkumpul di lapangan, seorang guru memberi aba-aba bahwa acara readathon akan segera dimulai. Semua siswa diminta membentuk formasi lingkaran besar. Terlihat masing-masing wali kelas ikut serta dalam formasi tersebut mendampingi peserta didiknya, sementara beberapa guru lain yang bukan wali kelas memilih mengambil lokasi di halte literasi. Sama seperti para siswa, guru pun diharuskan membawa buku bacaan dan kertas hvs untuk membuat review buku yang mereka baca.

“Mari kita mulai readathon dengan membaca senyap selama 42 menit dimulai dari sekarang,” terdengar suara guru perempuan memberi pengumuman melalui pelantang sebagai tanda dimulainya kegiatan ini. Guru yang bernama Nova Apriyanti tersebut adalah guru pembimbing GLS SD Plus 2 Muhajirin Purwakarta yang mengorganisir kegiatan readathon ini.

Nova Apriyanti, guru pembimbing WJLRC di SD Plus 2 Al Muhajirin Purwakarta, sedang menyampaikan instruksi dalam kegiatan readathon pagi itu

Mendengar komando Nova, serempak para peserta readathon membuka buku cerita yang dibawanya. Meskipun harus membaca senyap, bisik-bisik dan celoteh khas anak kecil sayup-sayup masih terdengar di beberapa sisi lingkaran. Beberapa wali murid bahkan harus mengingatkan anak didiknya untuk tidak mengobrol dan fokus membaca buku yang mereka bawa.

Sebagian guru memilih membaca buku di halte literasi

Beruntung hari itu cuaca cukup bersahabat. Sorot sinar matahari tak begitu terik sebagaimana beberapa hari sebelumnya. Udara sejuk ditingkahi dengan langit yang sedikit berkabut membuat anak-anak nyaman saja beraktifitas di lapangan. Seandainya pun terjadi hujan, pihak sekolah biasanya memindahkan kegiatan readathon ke dalam masjid sekolah yang terletak di belakang areal sekolah.

Seorang siswa asyik membaca komik dalam kegiatan readathon

Jenis buku bacaan yang dibaca para siswa di kegiatan readathon ini rupanya cukup beragam. Kalau Heidi membawa buku novel anak, beberapa anak lain ada yang membawa komik, baik komik terjemahan Jepang (manga) maupun komik lokal yang kini kian marak diproduksi. Begitu pula soal bahasa, selain buku berbahasa Indonesia, beberapa anak ada yang membaca buku bacaan berbahasa Inggris serta Bahasa sunda. Sekolah memang tidak membatasi buku yang dibaca dengan kriteria tertentu. Anak-anak diberi kebebasan memilih buku yang mereka sukai, yang penting layak dikonsumsi untuk usia mereka.

Tak terasa 42 menit telah berlalu. Nova kemudian menginstruksikan peserta readathon untuk segera membuat review buku bacaan di kertas yang telah dibagikan sebelumnya. Apa yang harus ditulis dalam review tersebut? “Pertama kami harus menuliskan Judul buku, ilustrasi, pengarang, penerbit, tahun terbit, dan jumlah halaman. Baru setelah itu aku harus menjelaskan isi cerita dari buku yang aku baca,” Heidi menjelaskan sambil mencari posisi yang enak untuk mulai menulis.

Kegiatan siswa saat menulis review buku yang dibaca dalam kegiatan readathon

Kegiatan menulis review sendiri tampak lebih bebas. Siswa diperbolehkan mencari cara dan tempat yang nyaman bagi mereka untuk menulis. Beberapa anak memilih menulis di selasar kelas. Ada yang sambil duduk, bahkan tiduran. Beberapa anak lainnya memilih menulis sambil duduk di halte literasi. Heidi dan kawan-kawan sekelasnya memilih tetap bertahan menulis di areal lapangan sekolah.

Beberapa menit berselang, melalui pelantang terdengar kembali suara Nova yang memberi kesempatan bagi siswa yang berani untuk membacakan hasil reviewnya di depan teman-temannya. Tanpa perlu didorong atau saling tunjuk, salah seorang anak kemudian maju menyambut tawaran Nova tersebut.

“Aku senang setiap ada kegiatan readathon, seru bisa membaca bareng teman-teman,” begitu kata Heidi sambil mengumpulkan tugas review kepada wali kelasnya. Sejak ada kegiatan ini, Heidi jadi senang mengoleksi buku cerita dirumahnya. “Aku punya banyak buku seri KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya), baik novel maupun komiknya,” lanjut Heidi. Katanya, ia biasa meminta ayahnya untuk membelikan buku kesukaannya ini jika sedang bertugas ke Jakarta atau Bandung. Selain itu, sebulan sekali ayahnya membolehkannya memesan buku favoritnya tersebut secara online.

Selepas acara, saya berbincang dengan Nova untuk bertanya lebih detail tentang kegiatan ini. Dari mulut Nova terurai cerita dibalik pelaksanaan readathon di sekolah ini.

Readathon Menguatkan Implementasi GLS di Sekolah

Readathon sejatinya adalah bagian dari West Java Leader’s Reading Challenge (WJLRC), program Gerakan Literasi Sekolah yang digulirkan pemerintah provinsi Jawa barat dengan mengadopsi konsep serupa dari Australia. WJLRC dipelopori oleh para guru alumni pelatihan keguruan di Adelaide. Di negara asalnya, program ini bernama Premiere Readings Challenge. Itulah mengapa ketika diterapkan di Jawa Barat, namanya masih berbau Inggris, sebagaimana tertuang dalam MoU antara pemerintah provinsi Jawa Barat dengan pemerintah Australia. Sejak Desember 2016, SD Plus 2 Al Muhajirin Purwakarta mulai bergabung sebagai salah satu sekolah peserta program ini.

Sederhananya, melalui program WJLRC ini Gubernur Jawa Barat menantang para siswa dan guru untuk membaca sejumlah buku selama 10 bulan, dengan rincian untuk siswa minimal sebanyak 24 buku dan guru minimal 10 buku. Review buku yang telah dibaca ini kemudian diupload ke website WJLRC sebagai laporan dari buku yang telah dibaca peserta WJLCR.

Dengan adanya pelaporan melalui upload hasil review ke dalam website pengelola WJLRC, maka gerakan literasi melalui program ini bisa lebih fokus dan terukur dalam mencapai targetnya. Nantinya siapa yang berhasil menuntaskan tantangan membaca tersebut akan mendapat penghargaan dari gubernur.

WJLRC pada dasarnya adalah penguatan dari GLS yang diwajibkan pemerintah pusat sebagai implementasi dari Permendikbud RI No. 23 Tahun 2015 Tentang Penumbuhan Budi Pekerti melalui kebiasaan membaca. Soal peningkatan minat baca ini memang sangat penting, mengingat minat baca masyarakat Indonesia tergolong masih rendah. Setidaknya hal tersebut tergambar dalam hasil survey “Most Littered Nation in The Word” yang dirilis Central Connecticut State University tahun 2016 menempatkan Indonesia di peringkat kedua terbawah atau posisi 60 dari 61 negara yang disurvey, hanya setingkat diatas Bostwana.

“Membaca bersama selama 42 menit ini merujuk pada jarak tempuh perlombaan lari marathon,” Nova menjelaskan mengapa readathon dilaksanakan selama 42 menit. “Selain readathon, setiap hari kami juga tetap melaksanakan Gerakan Literasi Sekolah dengan kegiatan membaca buku non pelajaran selama 15 menit sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Itulah mengapa setiap kelas memiliki perpustakaan mini,” lanjutnya.

“Dalam program WJLRC ini sekolah kami mendaftarkan 27 siswa dan 5 guru pendamping. Awalnya kami menawarkan kepada siswa yang berminat, kemudian mereka kami seleksi terlebih dahulu sebelum dipilih sebagai peserta WJLRC ini,” ujar Nova. Selanjutnya siswa dan guru yang berpartisipasi dalam kegiatan ini diberikan beberapa materi teknis, terutama soal metode penulisan review.

“Untuk peserta yang terdaftar dalam program WJLRC ini, review bukunya mengikuti metode Fishbone, AIH, dan Y Chart. Ini kita ajarkan kepada mereka diawal pelaksanaan program. Sedangkan siswa lainnya sih pada dasarnya bebas saja,” lanjut Nova menjelaskan lebih detail. Sampai saat ini, kegiatan WJLRC yang sudah berjalan kurang lebih 10 bulan sudah mendekati target yang ditentukan. “Jika diprosentase, saat ini kami sudah mencapai 97 persen,” kata Nova mengakhiri pembicaraan kami.

Readathon dan GLS hanyalah salah satu upaya menggenjot minat baca masyarakat Indonesia.  Keberhasilannya memang tak bisa diukur secara instan, ada proses panjang disana. Namun setidaknya seperti Heidi yang sudah mulai senang membaca dan mengoleksi buku cerita, melalui kegiatan ini pasti ada anak-anak lain yang juga mulai tumbuh minatnya untuk mencintai buku. Kalau sudah begini, kelak kita akan memiliki generasi pembaca yang haus akan ilmu pengetahuan.

 

Sumber Photo: Ata Ardiansyah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *