Merokok Itu Keren

Categories Uncategorized

Siang itu, di sebuah angkot yang saya tumpangi, lima anak laki-laki berseragam SMP sedang asyik bercanda bersama. Di tengah percakapan mereka, salah seorang anak mengeluarkan sebungkus rokok merk terkenal. Tanpa merasa malu, anak tersebut menyalakan rokoknya seraya mengajak teman-temannya. “kemon bro, lo belum keren kalo gak ngerokok” demikian ucapnya. Seolah mengamini, satu persatu temannya menyalakan rokok dan akhirnya mereka pun merokok berjamaah.

***

Mungkin pengalaman saya diatas bukanlah hal yang aneh lagi saat ini. Suka tidak suka, kita boleh menunjuk hal ini sebagai “kesuksesan”  iklan rokok yang gencar berpromosi di tengah kehidupan kita. Kenyataan miris ini menunjukkan bahwa rokok bukan lagi domain orang dewasa, tapi anak sekolah pun sudah tidak sungkan lagi untuk mengkonsumsi rokok.

Tahukah anda bahwa Indonesia merupakan negara ketiga dengan jumlah perokok tertinggi setelah Cina dan India? Fakta ini tidaklah mengejutkan mengingat berdasarkan data dari Kementerian kesehatan Republik Indonesia, prevelensi konsumsi rokok meningkat tajam hampir 700% dalam kurun waktu 40 tahun terakhir.  Pada tahun 1970 konsumsi rokok di Indonesia mencapai 30 milyar batang sedangkan pada tahun 2009 jumlahnya meningkat drastis menjadi 260 milyar batang.

Berdasarkan data diatas, jangan kaget jika para pengusaha rokok masuk dalam 10 besar orang terkaya di Indonesia. Menurut majalah forbes, di tahun 2013, pemilik perusahaan Djarum Group (salah satu produsen rokok ternama di Indonesia) menduduki posisi nomor wahid orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan 203 triliun  rupiah. Sedangkan posisi kedua ditempati oleh bos PT. Gudang Garam (produsen rokok juga) dengan total asset sekitar Rp. 98,5 triliun. Wow!!

Seremnya, fakta ini diikuti dengan fakta yang tidak kalah mencengangkan. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, Perokok pemula remaja usia 10-14 tahun naik 2 kali lipat dari 9,5% pada tahun 2001 menjadi 17,5% pada tahun 2010. Sedangkan perokok pemula usia 15-19 tahun menurun dari 98.9% menjadi 43.3%. Artinya, terjadi pergeseran usia orang mulai menggunakan rokok dan mengarah pada usia belia.

Dampak lain yang cukup mengerikan adalah semakin meningkatnya angka kematian dari penyakit akibat merokok. Tahu sendiri, dampak buruk rokok bukan hanya dirasakan oleh perokok aktif, tapi juga mereka yang ikut menghirup asap rokok. Di Indonesia tingkat kematian akibat penyakit yang disebabkan oleh rokok mencapai 239 ribu kematian per tahun. Kemudian, lebih dari 70 persen anak dibawah 15 tahun termasuk perokok pasif yang terus menerus terpapar asap rokok. Tidak heran jika biaya pengobatan penyakit akibat rokok di negara kita bisa mencapai Rp. 2,9 triliun sampai Rp. 11 triliun per tahunnya.  Ini bukan Basa Basi!

Paradoks yang ditampilkan dari fakta-fakta diatas adalah konsekuensi yang timbul akibat semakin massifnya penyebaran iklan rokok di negara kita. Lihatlah betapa mudahnya kita menjumpai iklan rokok dimana-mana. Di televisi, kita bisa menemukan iklan rokok berseliweran disela tayangan favorit. Di Koran kita bisa dengan mudah menjumpai iklan-iklan rokok, dengan space yang lebar. Demikian pula di jalan raya, billboard segede layar bioskop banyak menghiasi jalanan di kota-kota di Indonesia. Perhelatan olahraga, musik, pesta sekolah, bahkan acara keagamaan pun tidak luput dari sponsorship perusahaan rokok. Hal ini menunjukkan betapa mengguritanya industri rokok di negara kita.

Bukan hal mudah untuk menekan penyebaran iklan rokok di negara kita. Jika di lihat dari aspek ekonomi, uang yang bergulir dari bisnis iklan rokok ini memang menggiurkan. Setiap tahunnya, produsen rokok mengalokasikan sekitar Rp. 1,6 triliun untuk belanja iklan. . Bentuk iklannya sendiri bermacam-macam, bisa melalui iklan langsung di televisi, sponsorship event akbar (olahraga, musik dll) atau dalam bentuk CSR.

Bisa ditebak, resistensi terhadap pembatasan peredaran iklan rokok kemungkinan bakal muncul bukan hanya dari perusahaan rokok semata, namun juga dari pihak lainnya. Sebut saja perusahaan periklanan, televisi, koran maupun industri musik. Pemerintah pun tidak bisa menutup mata terkait besarnya pendapatan pajak yang bisa diperoleh dari aktivitas periklanan ini. Namun, melihat betapa mengerikannya dampak dari rokok seperti diuraikan di atas, tentu saja pembatasan iklan rokok wajib dilakukan.

Kabar baiknya, upaya pengendalian iklan rokok rupanya sudah dilakukan pemerintah kita. Melalui Permenkes RI no.40 tahun 2013 tentang Peta Jalan Pengendalian Dampak Konsumsi Rokok bagi Kesehatan, disebutkan beberapa langkah yang diambil pemerintah untuk pengendalian dampak rokok, diantaranya mencakup pembatasan iklan rokok.

Salah satu contoh pengendalian iklan rokok yaitu penayangan iklan rokok di televisi hanya boleh disiarkan di atas jam 21.30 sampai jam 5 pagi. Selain itu, iklan rokok juga dilarang menampilkan gambar orang yang sedang merokok atau tampilan fisik dari rokok yang diiklankan.

Mungkin kebijakan yang cukup menggebrak yaitu kewajiban pencantuman gambar bahaya merokok dalam kemasan produk rokok. Dengan space gambar hampir setengah dari bodi kemasan, produsen rokok wajib menampilkan gambar seram orang yang organ paru-paru atau tenggorokan yang rusak akibat rokok lengkap dengan gambar tengkorak.

Sampai saat ini sih saya belum menemukan kajian ilmiah efektifitas penerapan dua kebijakan ini terhadap omset perusahaan rokok. Namun, jika memperhatikan sampai saat ini tidak ada berita satu pun perusahaan rokok teriak-teriak protes mengenai kebijakan diatas, boleh dibilang kebijakan ini tidak berpengaruh besar terhadap omset mereka. Dengan kata lain orang tetap saja mengkonsumsi rokok.

Jika memperhatikan isi roadmaps pengendalian rokok diatas yang menyebutkan bahwa upaya pengendalian akan mengarah pada pelarangan total terhadap berbagai bentuk iklan rokok, bolehlah kita berharap bahwa kebijakan ini akan konsisten dilakukan. Bagaimana pun kita tidak bisa menutup mata bahwa iklan memiliki daya persuasif yang tinggi untuk membujuk orang mengkonsumsi rokok.

Pemerintah tidak perlu ragu untuk memberlakukan pelarangan total iklan rokok di media apapun. Kita mungkin perlu berkaca pada pengalaman negara-negara yang sudah menerapkan hal ini. Ambil contoh, di Hongkong larangan iklan rokok di tv dan radio sudah diberlakukan sejak tahun 1990. Pada tahun 1996, keuntungan iklan di dua stasiun TV justru meningkat tajam 500% pada tahun 1996. Sementara itu, di Thailand larangan menyeluruh iklan rokok berlaku sejam 1992, dan setahun berikutnya keuntungan iklan meningkat 42% setahun berikutnya. Artinya, pelarangan iklan rokok tidak akan berdampak besar terhadap penurunan keuntungan kegiatan periklanan secara keseluruhan.

Lagian, kita perlu malu, diantara negara ASEAN lainnya hanya Indonesia yang masih memberi peluang bagi perusahaan rokok untuk beriklan dalam bentuk apapun. Beberapa negara lain, seperti Malaysia atau Singapura sudah melarangiklan rokok di negara mereka.

Semoga saja jika pelarangan iklan rokok ini total diberlakukan dalam bentuk apa pun sedikit demi sedikit pengguna rokok akan menurun, terutama anak remaja usia belia. Tentu saja hal ini perlu dibarengi dengan melakukan edukasi akan bahaya rokok bagi kesehatan. So, gak ada lagi tuh image bahwa merokok itu keren.

banner ga

“Tulisan ini di sertakan GA Mukhofas Giveaway – Penyebaran Iklan Rokok di Indonesia dan Dampaknya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *