Pada Mulanya Coba-Coba

Pertamanya sih coba-coba, lalu penasaran, kemudian ketagihan!

Petualangan menulis saya dimulai sejak September 2014. Hobi membaca mungkin berpengaruh pada keputusan untuk mulai ngeblog. Kebanyakan membaca blog orang lain serta kebiasaan membuka-buka tulisan orang di kompasiana membuat saya penasaran ingin juga menulis. Saya ingat, artikel pertama saya tayang perdana di kompasiana, blog keroyokan yang kemudian menjadi rumah saya untuk menulis.

Seiring waktu, saya menyadari ternyata ada begitu banyak lomba menulis di blog (blog competition) yang diselenggarakan setiap bulannya, baik di kompasiana maupun di situs lainnya. Sebagai pemula, saya awalnya minder untuk ikutan, da aku mah apa atuh? Tapi kemudian hati ini berbisik, “ikutan aja, biar kamu bisa mengukur sejauh mana kualitas tulisanmu. Anggap saja jadi ajang buat belajar menulis,…” begitu katanya. Sejak itu, saya mulai nyemplung ikutan blog competition.

Saya masih ingat, blog competition pertama yang saya ikuti adalah lomba membuat resensi buku Gerakan Membangun dari Desa, karya Bupati Malinau, sebuah kabupaten di Kalimantan. Hadiahnya cukup menggiurkan, Juara 1 diganjar 10 juta rupiah, juara 2 mendapatkan 7 juta rupiah, dan juara 3 hadiahnya 5 juta rupiah. Ada lagi 60 tulisan favorit juga mendapatkan 500 ribu rupiah.

Juara? Nggak,… hahaha kalau langsung menang ya nggak seru kali. Tapi dari sini saya mulai menyusun pola perjalanan saya dalam mengikuti blog competition. Iya, saya yang nyadar kualitas tulisan saya alakadarnya sadar akan kekurangan ini. Saya kemudian mulai belajar mengamati seperti apa sih artikel juara blog competition itu.

Saya kemudian membaca, mengamati bagaimana struktur kata penulisnya, bagaimana konstruksi tulisannya, serta peperentilan lainnya. Setiap kali kalah, yaa saya amati apa yang menjadi kelebihan para juara tersebut. Pelan-pelan saya kemudian memahami artikel yang bagus itu seperti apa, lalu menerapkannya.

Emang artikel yang bagus dan juara itu seperti apa? Sabar,…nanti saya jelaskan.

Yang pasti, sejak ikutan blog competition perdana tersebut saya semakin penasaran untuk ‘pecah telor’ jadi juara. Kemenangan pertama itu kemudian terjadi pada lomba review produk penelitian Puslitbangkim Kementerian PUPR, itu pun juara kedua.

Sungguh gak bisa saya bayangkan bagaimana rasanya saat itu, bangga, senang dan rasa puas bercampur aduk. Hidung ini kembang kempis seharian, hehehe…

Pada akhirnya selepas momen juara perdana tersebut saya malah jadi ketagihan untuk terus ikutan blog competition. Gak peduli apakah hadiahnya besar atau kecil, yang pasti saya ‘hajar saja”.

Begitulah, sampai saat ini saya masih dalam tahap menuntaskan rasa ketagihan jadi juara blog competition tersebut. Pun demikian, saya masih terus belajar untuk terus memperbaiki kualitas tulisan saya. Biar pun begitu, sedikit-sedikit saya sudah punya pola bagaimana membuat artikel ciamik untuk blog competition.

Mau tahu? Stay tune di blog ini yaa…

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *