Quo Vadis Industri Asuransi Jiwa Di Indonesia

Categories Opini
Revolusi Asuransi Jiwa Sudah Merambah Layanan Secara Digital

Setiap membahas perkembangan industri asuransi jiwa di negeri ini, selalu ada dua sisi yang berlawanan. Pertama, dari sisi angka statistika dan laporan keuangan, industri ini tumbuh positif setiap tahunnya. Namun jika dilihat dari kacamata masyarakat awam, asuransi jiwa belum dilihat sebagai sesuatu yang penting.

Mari kita lihat fakta yang pertama. Indikasi pertumbuhan industri asuransi jiwa terlihat dari catatan kinerja perusahaan asuransi yang semakin meningkat beberapa tahun terakhir. AAJI (Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia) menyebut pertumbuhan industri asuransi mencapai 10-30 persen setiap tahunnya. Sekedar mengutip data, investasi asuransi pada medio Januari-Maret 2017 tumbuh 21,3 persen dengan total asset mencapai 435 triliun rupiah. Ini ditopang dengan semakin banyaknya tenaga agen asuransi jiwa yang kini mencapai lebih dari 500 ribu orang.

Sementara fakta kedua bisa dilihat dari rasio pemegang polis asuransi jiwa dengan jumlah penduduk Indonesia. Data terkini, jumlah pemegang polis asuransi jiwa di negeri ini baru mencapai sekitar 18 juta jiwa dari total penduduk Indonesia yang mencapai 254 juta. Persentasenya kurang dari 10 persen. Padahal pada saat yang sama, pertumbuhan kelas menengah atas di Indonesia sebagai target konsumen asuransi jiwa kian meningkat. Dari sini pun setidaknya terlihat dua kondisi. Pada satu sisi, kecilnya rasio pemegang polis asuransi jiwa ini adalah ceruk pasar yang masih terbuka lebar bagi industri asuransi jiwa. Sementara di sisi lainnya, fakta ini menunjukkan masih lemahnya kesadaran masyarakat Indonesia untuk berasuransi. Tingkat literasi asuransi jiwa masih sangat rendah.

Pertanyaannya, apa penyebab rendahnya kesadaran berasuransi (literasi asuransi) di negeri ini?

Untuk mendapat gambaran tentang persepsi masyarakat akan asuransi jiwa di masyarakat sebagaimana disebutkan di atas, saya mencoba melakukan survei kecil-kecilan pada kerabat terdekat. Saya bertanya via Whatsapp kepada 10 orang tentang pendapat mereka soal asuransi jiwa ini. Tentu saja survey ini jauh dari kata ilmiah dan mungkin saja tak akurat, namun setidaknya dari sini saya bisa mendapat potret persepsi masyarakat terhadap asuransi.

Opini Salah Satu Responden (Urutan Baca Dari Gambar Kiri Ke Kanan)
Opini Salah Satu Responden (Urutan Baca Dari Gambar Kiri Ke Kanan)
Opini Salah Satu Responden (Urutan Baca Dari Gambar Kiri Ke Kanan)

Dari hasil survey tersebut, saya menemukan beberapa temuan. Pertama, responden sepakat bahwa asuransi jiwa itu penting sebagai proteksi keuangan mereka apabila terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Kedua, meskipun tahu pentingnya asuransi jiwa, namun banyak diantara mereka yang enggan mengambil asuransi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor; tidak tahu akan informasi lengkap tentang benefit produk asuransi jiwa lebih detail, ketakutan tidak bisa membayar premi, pernah ikut namun kecewa terhadap layanan perusahaan asuransi, serta malas karena dihubungi terus menerus oleh agen asuransi.

Bagaimana melihat permasalahan literasi asuransi ini dari sisi agen dan perusahaan asuransi? Aidil Akbar, pakar perencanaan keuangan, dalam bukunya Easy Planning mengemukakan sedikit kekeliruan dalam praktek bisnis asuransi di Indonesia. Pertama, dalam hal cara menjual asuransi, para agen asuransi masih sangat konvensional dan sangat salesman. Kejar target dan begitu agresif. Kedua, banyak agen yang tidak memahami detail produk yang ditawarkan yang berakibat salah penjelasan sehingga bisa merugikan nasabah di kemudian hari. Ketiga, hampir semua agen asuransi konvensional menjual produk asuransi bukan berdasarkan kebutuhan proteksi nasabah, melainkan kemampuan membayar premi. Boleh jadi, ini juga yang menjadi penyebab calon nasabah menjadi ‘kabur’ menjauh.

Berdasarkan kedua uraian diatas, kita bisa simpulkan faktor utama penyebab rendahnya literasi asuransi ini, yaitu edukasi asuransi yang kurang terhadap masyarakat serta strategi pelayanan agen dan perusahaan asuransi yang perlu dirubah.

Kemudian, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara meningkatkan literasi asuransi jiwa tersebut sekaligus meningkatkan jumlah nasabah asuransi jiwa di Indonesia?

Sederhananya, untuk meningkatkan literasi asuransi jiwa tersebut bisa dilakukan dengan menjawab tantangan berupa kurangnya edukasi asuransi serta perbaikan layanan bagi nasabah asuransi. Akan tetapi, untuk menentukan langkahnya seperti apa, menurut saya perlu melihat peta demografi masyarakat terkini sebagai calon nasabah asuransi tersebut sehingga tidak salah kebijakan.

Menurut Survey BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2016, populasi penduduk Indonesia mencapai 254 juta jiwa, yang lebih didominasi oleh kelompok umur produktif 15-34 tahun. Kondisi ini sering disebut sebagai era bonus demografi. Proyeksinya, komposisi ini akan mencapai puncaknya pada periode 2025-2030, atau sekitar 8 tahun ke depan.

Komposisi Populasi Penduduk Indonesia Tahun 2016 (Sumber: katadata.co.id)

Dengan melihat komposisi populasi penduduk Indonesia di atas, adalah logis jika industri asuransi fokus menggarap konsumen pada kelompok dominan, yaitu mereka yang berusia 15-34 tahun, atau biasa disebut generasi milenial. Mereka adalah calon konsumen bagi industri asuransi.

Asumsi saya, mereka yang sudah bekerja, baru menikah dan memiliki anak adalah yang mulai merasa perlu berasuransi. Kapan usia menikah? Katakanlah ada di rentang 24 tahun ke atas. Pengalaman saya sendiri, mulai merasakan perlunya asuransi setelah lahir anak saya, sekitar 9 tahun lalu dan saat itu saya berusia 28 tahun. Sementara untuk mereka yang berusia di bawah 24 tahun boleh dibilang sebagai calon nasabah potensial yang perlu diberikan edukasi asuransi sejak dini. Tentu saja biar nanti setelah menikah dan mapan tak perlu pikir panjang lagi untuk berasuransi. Kompas (15/8/2017) melansir mereka yang berada pada rentang usia 30-an lebih responsif terhadap kebutuhan asuransi dibanding mereka yang berada dibawahnya.

Strategi apa yang bisa diterapkan untuk mengedukasi serta pelayanan asuransi bagi para milenial ini? ada baiknya memperhatikan bagaimana karakteristik mereka. Generasi milenial adalah mereka yang lahir dan tumbuh saat revolusi informasi di akhir abad 20. Revolusi informasi ini ditandai dengan hadirnya internet dan teknologi informasi yang turut mengubah cara manusia berkomunikasi, mengakses pengetahuan, sampai pada cara bekerja. Kemudian, teknologi yang berperan mengubah dunia saat ini adalah hadirnya internet dalam genggaman melalui teknologi handphone. Dari sini perlu digarisbawahi, salah satu karakteristik milenial adalah keakraban mereka dengan teknologi informasi, internet dan handphone. Yorris Sebastian dalam bukunya, Generasi Langgas, mengidentifikasi beberapa sifat  milenial diantaranya instan generation (inginnya yang serba instan), efficient (praktis dan efisien), love learning (antusias dalam mempelajari sesuatu), dan information overload (merujuk beragam sumber informasi).

Statistika membuktikan betapa penetrasi teknologi informasi, terutama internet dan handphone sudah sangat tinggi bagi masyarakat Indonesia. Survey pengguna internet tahun 2016 yang dirilis APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) menyebutkan  jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta user atau sekitar 51.5% dari total penduduk Indonesia. Sementara jumlah pengguna handphone adalah sebanyak 63,1 juta users atau sekitar  47,6%.

Infografis Jenis Perangkat Yang Digunakan Dalam Mengakses Internet Berdasarkan Hasil Survey APJII 2016(isparmo.web.id)

Dari sini bisa dilihat bagaimana pendekatan yang perlu dilakukan untuk konsumen di Indonesia. Ya, dengan memanfaatkan penggunaan teknologi informasi, terutama internet dan handphone. Adalah hal yang lumrah ketika dunia mengalami revolusi informasi, maka industri asuransi pun mau tak mau harus merevolusi strategi operasional mereka, termasuk dalam hal pelayanan mereka serta kanal distribusi.

Iya, revolusi asuransi yang saya maksud adalah soal pemanfaatan teknologi informasi bagi layanan produk asuransi serta membuka kanal distribusi baru bagi calon nasabah asuransi. Layanan bisnis keuangan telah lama bertransformasi memanfaatkan teknologi informasi ini. Lihat saja, internet banking, m-banking dan e-payment sudah menjadi fasilitas dari beragam bank di Indonesia, bahkan pelayanan pembayaran pajak pun sudah bisa secara online.

Seperti apa revolusi asuransi secara digital tersebut? Setidaknya berdasarkan pengamatan saya, revolusi asuransi jiwa secara digital dimulai dengan hadirnya layanan website, dilanjutkan dengan penggunaan media sosial, dan yang terkini adalah hadirnya mobile apps untuk pengguna handphone.

Saya mencoba mengamati apa yang telah dilakukan industri asuransi dalam penerapan teknologi informasi ini. Mudah saja, ketika kita googling di internet kita akan menemukan beragam website perusahaan asuransi yang begitu interaktif. Soal tampilan website juga telah mengalami banyak perubahan. Jika dulu website hanya berisi informasi detail tentang produk serta benefit dari suatu produk asuransi, kini wajahnya telah jauh berbeda.

Beberapa website sudah memasukkan fitur kalkulator keuangan yang bisa menghitung simulasi kebutuhan asuransi calon nasabah. Dari sini, mereka juga bisa langsung mengajukan permohonan pembukaan asuransi termasuk mengajukan klaim pencairan asuransi bagi nasabah lama. Bahkan polis asuransi yang biasanya diberikan dalam bentuk hardcopy berlembar-lembar, kini cukup berupa file softcopy saja. Praktis dan tentu saja memangkas waktu dan jarak. Fitur-fitur di website asuransi seperti ini bukan hanya berguna bagi konsumen saja, akan tetapi juga bisa digunakan sebagai tools marketing bagi agen asuransi.

Untuk membangun engagement dengan nasabah maupun calon nasabah, industri asuransi juga tak ketinggalan memanfaatkan media sosial. Facebook, twitter dan Instagram bahkan whatsapp menjadi media untuk menjalin kedekatan serta mengedukasi masyarakat soal asuransi. Ketika hard selling membuat gerah calon nasabah, maka pendekatan soft selling dengan mengedukasi beragam benefit asuransi menjadi pilihan yang efektif dalam mendekati calon nasabah.

Transformasi selanjutnya adalah hadirnya layanan asuransi dalam bentuk aplikasi mobil (mobile apps) bagi pengguna smartphone. Keberadaan aplikasi ini tentu saja akan memudahkan para nasabah dalam mengelola asuransi mereka. Fiturnya begitu detail, persis seperti aplikasi m-banking dari bank swasta dimana saya menabung didalamnya. Prediksi saya, kebutuhan aplikasi mobile asuransi ini akan sangat tinggi kedepannya.

Saatnya Equity Life Indonesia Melakukan Revolusi Asuransi Digital

Salah satu perusahaan asuransi jiwa yang telah lama hadir di Indonesia adalah Equity Life Indonesia. Tahun ini, Equity menginjak usia 30 tahun. Usia dewasa yang menandakan kematangan dalam bisnis yang digelutinya.

Kalau anda mencari produk asuransi jiwa, saya sarankan untuk memilih produk Equity Life Indonesia. Bukan apa-apa, perusahaan ini terhitung moncer dalam bisnis asuransi jiwa. Jaminannya adalah beragam prestasi yang diraih perusahaan ini hampir setiap tahun. terakhir, perusahaan ini meraih best Life Insurance Tahun 2017 dengan equitas Rp. 350 Milyar – 1 Triliun dari media asuransi. Sementara untuk agennya, Equity Life Indonesia mempunyai Indriyani Sasmita yang terpilih sebagai Top Agent of The Year 2016 yang diberikan oleh AAJI. Sampai Juni 2017 lalu, perusahaan ini telah membukukan premi asuransi sebesar Rp. 317 Milyar.

Sejumlah Penghargaan Yang Diraih Equity Life Indonesia (sumber: equitylife.co.id)

Soal kinerja keuangan, Equity Life Indonesia terhitung kuat dengan mencatatkan laba komprehensif sebesar Rp. 42.695 Miliar pada tahun 2016, dengan tingkat solvabilitas perusahaan (RBC) sebesar 240,93% jauh di atas ketentuan minimum yang disyaratkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar 120%. Jadi, dengan melihat catatan-catatan ini, saya  yakin bahwa Equity Life Indonesia adalah salah satu perusahaan asuransi jiwa terbaik di Indonesia.

Perusahaan asuransi jiwa asli Indonesia ini memiliki beragam kanal distribusi yang menjadi andalan dalam penjualan produk asuransi jiwanya, antara lain melalui Agency, Group Business, Bancassurance, Retail Insurance, dan Community Market. Back up teknologi informasi juga disiapkan untuk mendukung nasabah dalam mengakses produk dan layanan dari perusahaan ini.

Dalam dunia bisnis, sebuah perusahaan tak bisa mengandalkan kematangan dan berpaku pada pattern lama saja. Sebuah perusahaan yang hebat adalah mereka yang dinamis, yang mampu mengikuti perkembangan jaman, selera pasar dan kebiasaan konsumen. Banyak kasus bagaimana sebuah perusahaan yang tak mau berubah, pada akhirnya tersalip perusahaan lain yang lebih dinamis. Kodak, Nokia, yahoo dan Friendster adalah beberapa contoh bagaimana mereka akhirnya harus menyerah pada kompetitornya yang terus berinovasi mengikuti perkembangan jaman.

Maka ketika industri asuransi jiwa ramai-ramai melakukan revolusi asuransi dengan memanfaatkan teknologi informasi, Equity Life Indonesia pun perlu melakukannya. Setidaknya, komitmen tersebut ditegaskan oleh presiden direkturnya, Samuel Setiawan pada saat konferensi pers dan temu blogger yang bertema “30 Tahun Equity Life Untukmu Indonesia” beberapa waktu lalu.

Direksi Equity Life Indonesia Berkomitmen Melakukan Revolusi Asuransi Jiwa Secara Digital Di Perusahaan Mereka (sumber: equity.co.id)

Lalu apa yang perlu dilakukan perusahaan yang meraih Juara I Kompetisi Inklusi Keuangan 2015 dari OJK ini dalam rangka menjalankan komitmennya tersebut? Bagi saya, setidaknya ada dua hal besar yang perlu dilakukan Equity yaitu merubah website agar lebih atraktif, dan menghadirkan layanan asuransi dalam bentuk aplikasi handphone (mobile apps). Sementara untuk pemanfaatan media sosial, mereka  terhitung aktif dalam membangun kedekatan dengan follower di masing-masing kanal media sosial mereka.

Equity Life Indonesia sendiri sudah memiliki website yang beralamat di www.equity.co.id. Sebagai seorang konsumen dan user internet, saya mencoba mengamati tampilan website Equity ini. Boleh dibilang websitenya begitu sederhana, kurang fitur dan terkesan kaku. Beragam informasi produk asuransi memang tersedia di sana, namun hanya berupa informasi umum. Di sana tak tersedia fitur chat online yang memudahkan konsumen untuk menghubungi langsung via website. Tak ada fitur call to action yang memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan data pengunjung website sebagai prospek calon konsumen. Bahkan ketika saya mencoba meng-klik logo media sosial perusahan, ternyata tak terhubung ke akun media sosial, alias fitur link ini tak berfungsi.

Tampilan Eksisting Website Perusahaan Equity Life Indonesia (sumber: equity.co.id)

Merujuk pada uraian sebelumnya, saya mencoba membandingkan dengan website kompetitor. beberapa perusahaan asuransi lain telah melengkapi websitenya dengan fitur yang lengkap, seperti kalkulator finansial, simulasi produk, chat online dan fitur call to action yang bisa menangkap calon nasabah yang berkunjung ke website mereka.

Tapi, tampilan yang sedikit berbeda terlihat pada microsite equitylife30.com. Microsite yang dibangun untuk mengelola kompetisi foto dan blog dalam rangka 30 tahun perusahaan ini malah terasa lebih interaktif. Desainnya cukup eye catching. Saat membuka microsite ini, ada fitur yang langsung menyodori kita untuk memberikan data personal dengan imbalan asuransi gratis untuk jangka waktu 30 hari dengan tanggungan sebesar 30 juta rupiah. Saya mencoba mengisinya, dan responnya pun sangat cepat. Tak kurang dari 5 menit saya sudah langsung mendapatkan polis asuransi saya dalam bentuk softcopy yang dikirim ke email saya. Link media sosialnya pun ternyata hidup. Belajar dari sini, website utama Equity bisa dibongkar ulang agar lebih semenarik micrositenya.

(Tampilan Atraktif Microsite equitylife30.com)

Satu hal yang menurut saya mendesak untuk dibuat oleh Equity Life Indonesia adalah aplikasi layanan asuransi dalam handphone atau mobile apps. Beberapa perusahaan asuransi lain sudah mulai melengkapi kanal distribusinya dengan mobile apps, bahkan ada yang memang fokus pada tools ini. Tak mengherankan sebenarnya, hari ini orang akan lebih dekat dengan handphonenya dibanding laptop atau personal computer mereka.

Saya percaya, tak lama lagi revolusi asuransi digital di Equity Life Indonesia akan segera terwujud, hanya tinggal menunggu waktu. Karena bagaimana pun, revolusi asuransi jiwa secara digital adalah keniscayaan. Yakin saja, pada saat itu terwujud, Equity Life Indonesia akan semakin meningkat prestasinya. Sekarang saja sudah moncer, apalagi nanti?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *