RISHA, Si Cantik Yang Tak Begitu Banyak Dilirik

 

RISHA itu cantik, sederhana, dan punya daya tarik tersendiri untuk memikat banyak orang. Kalau kamu sudah kenal dekat dengannya, yakin deh bakal kepincut. Tapi ia sepertinya masih malu-malu, sehingga tak begitu atraktif menarik perhatian banyak orang.  

Saya masih ingat, pertama kali berkenalan dengannya di Graha Wiksa Praniti, Bandung pada tanggal 7 Mei 2015. Saat itu saya dikenalkan dengan RISHA oleh para peneliti di Puslitbangkim (Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman) yang berada di bawah Balitbang Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat). Kebetulan saya diperkenalkan dengannya dalam acara Kolokium Puslitbangkim Kementerian PUPR. Dia itu cantik, sederhana dan mudah dibongkar pasang.

Jangan keliru, RISHA disini bukanlah cewek, meskipun namanya memang feminin. RISHA adalah singkatan dari Rumah Instan Sederhana Sehat. Sebuah inovasi pembangunan rumah sehat hasil kerja peneliti di Puslitbangkim tersebut. RISHA diharapkan bisa menjadi solusi penyediaan perumahan yang sehat dengan biaya yang murah.

pus
Rumah Konsep RISHA (sumber: puskim.pu.go.id)

Iya, sebagai negara dengan jumlah penduduk lima besar di dunia, salah satu konsekuensi permasalahan dari membludaknya jumlah penduduk di Indonesia adalah semakin tingginya kebutuhan akan rumah sehat yang biaya pembangunannya dapat dijangkau masyarakat. Mengutip data dari Bappenas, saat ini Backlog atau kekurangan rumah di negeri ini mencapai 13,5 juta unit dan pada saat yang sama, kebutuhan akan rumah baru mencapai 800 ribu unit setiap tahunnya. Ini tentu saja menjadi PR tersediri bagi pemerintah.

RISHA kemudian lahir untuk menjawab masalah tersebut. Dikembangkan sejak 2004, RISHA dirancang sebagai rumah yang dibangun secara knock down. Layaknya permainan lego, rumah RISHA dibangun dengan menyambungkan panel-panel beton menggunakan baut, tanpa perlu semen dan bata. Asyiknya, karena bisa dibongkar pasang, panel-panel RISHA bisa digunakan kembali saat akan merenovasi atau malah pindahan rumah. Konsep sambung menyambung panel ini begitu praktis, dimana tiap panel beton bisa berfungsi sebagai pondasi, balok, kolom, sloop, dan kuda-kuda. Ekonomis banget yaa?

ruma.com1
Panel-Panel RISHA siap dirangkai (sumber: rumah.com)

Untuk membangun sebuah rumah tipe 36, RISHA dapat selesai disusun hanya dalam tempo 3 hari dengan pekerja kurang dari 5 orang. Cepat kan? Total biaya yang diperlukan untuk membangun rumah setara tipe 36 ini sekitar 35-40 juta rupiah. Murah banget kan? Perbandingannya dengan rumah yang dibangun secara konvensional bisa sekitar 1:1,5. Wow, hari gini dengan uang segitu bisa dapat rumah?

RISHA sendiri telah mendapat sertifikasi SNI. Panel-panel RISHA terbuat dari beton bertulang (precast concrete) yang kuat dan tahan gempa. Karena itulah, Rumah berkonsep RISHA ini digunakan untuk merenovasi rumah-rumah di Aceh saat terjadi gempa tsunami, hampir satu dekade yang lalu. Oh ya, panel-panel ini bisa digunakan untuk membangun rumah dua tingkat lho.

Saya masih ingat, waktu itu salah seorang peneliti di Puslitbangkim menyebut bahwa RISHA dikembangkan dengan prinsip BMW. Biaya Murah, Mutu terjamin, dan Waktu pembuatan yang cepat.

Asyiknya lagi, Puslitbangkim kemudian membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menjadi aplikator rumah RISHA ini. Aplikator ini nantinya yang akan memproduksi panel-panel untuk konstuksi rumah RISHA, termasuk mereka yang akan membangun rumah dengan konsep RISHA. Bukankah ini akan membuka lahan pekerjaan baru? Ada banyak warga yang bisa direkrut untuk menjadi pekerjanya. Total di Indonesia kini ada lebih dari 60 aplikator RISHA.

Tahun lalu, saya juga diajak mengunjungi salah satu aplikator sekaligus pusat pelatihan bagi calon aplikator RISHA. TLG (The Little Giant) begitu nama aplikator ini, berada di desa Cimanggung, Sumedang. Saat berkunjung, saya sempat bercakap-cakap dengan pekerja disana. Rata-rata mereka asalnya pengangguran di desa itu. Kini, adanya aplikator TLG, mereka bisa mendapatkan penghasilan tetap. Dari sini terlihat RISHA ternyata bisa berpotensi untuk membuka lapangan kerja baru.

Oh ya, kalau teman-teman tahu kampung deret yang digagas Jokowi selama menjabat sebagai Gubernur Jakarta, bangunannya menggunakan konsep RISHA lho. Terlihat kan bagaimana produk inovasi keluaran Balitbang PUPR ini bisa menyulap daerah yang tadinya kumuh menjadi lebih sehat. Tentu saja ini jadi contoh bagaimana inovasi Balitbang PUPR bisa berpotensi menyulap suatu kawasan lebih baik lagi.

fakta risha
Infografis Seputar RISHA (sumber: dokpri)

Kenapa Sepi Peminat?

Dengan segala kelebihan RISHA yang disebutkan diatas, harusnya Indonesia sudah bisa bebas masalah backlog perumahan. Kurang apa coba? RISHA itu mudah membangunnya, murah biayanya, kuat dan dijamin mutunya. Faktanya, penetrasi RISHA terbilang rendah dan kita masih saja berkutat dengan kekurangan rumah layak huni. RISHA memang banyak dibangun, tapi kebanyakan diprakarsai oleh kementerian PUPR saja, selaku ‘pemilik’ si cantik RISHA. Sementara masyarakat umum belum begitu melirik. Faktanya, Hunian kumuh masih banyak tersebar dan ribuan orang masih berkutat ingin mendapatkan rumah sehat.

Kenapa RISHA tak banyak dilirik? Menurut saya ada beberapa faktor yang sepertinya menjadi penyebab mengapa RISHA belum juga sukses dalam implementasinya.

Pertama, RISHA kurang begitu popular di masyarakat. Tak banyak orang yang begitu mengenal akan konsep rumah instan sistem knock down ini. Padahal, minat orang untuk memiliki hunian yang murah namun memenuhi standar rumah sehat sedemikian tinggi.

Tahun lalu, Saya pernah menulis di blog saya tentang reportase kunjungan ke acara kolokium Puslitbangkim di Graha Widya Pinasti, dan focus tulisan tersebut lebih banyak mengulas RISHA. Di sana, banyak teman-teman yang berkomentar dan bertanya soal RISHA, penasaran ingin mengetahui lebih jauh soal RISHA. Buat saya ini evidence kalau banyak orang yang ingin tahu lebih banyak soal RISHA. Fakta ini juga saya temui saat blogwalking ke berbagai situs yang membahas soal RISHA, saya sering menemui banyak orang yang bertanya soal RISHA.

Kedua, RISHA belum menarik minat pengembang untuk mengaplikasikannya. Sebagai pihak penyedia perumahan, Developer perumahan bisa menjadi sarana untuk semakin mengenalkan RISHA serta memenuhi kebutuhan warga akan rumah tinggal. RISHA meskipun diklaim sudah banyak dibangun dalam jumlah ribuan, tapi sebarannya belum merata ke berbagai daerah. Padahal, bisa dipastikan di setiap kota/Kabupaten pasti terdapat pengembang perumahan. Tak perlu jauh-jauh, dikota saya, Purwakarta, saya belum menemukan ada rumah ataupun perumahan berkonsep RISHA . jumlah aplikator yang kurang dari 100 di seluruh Indonesia bisa menjadi bukti jika RISHA ini sedikit peminat.

Ketiga, masyarakat kita sepertinya belum terbiasa dengan sistem pembangunan rumah secara bongkar pasang. Masyarakat kita belum terbiasa untuk membangun rumah secara temple menempel layaknya puzzle atau lego tersebut. Terlebih, kita masih ragu dengan kualitas terhadap produk yang bisa jadi secara instan dalam waktu cepat. Mana bisa bangun rumah kurang dari seminggu? Mana bisa ada rumah kuat tanpa perlu menggunakan semen untuk perekatnya?

Padahal, merujuk pada cara pembangunan di negara-negara eropa ataupun Jepang, model bangun rumah secara bongkar pasang ini sudah lazim diaplikasikan. Bahkan kini di negera-negara tersebut pembangunan rumah sudak lazim menggunakan sistem prefabrikasi ini, dimana bahan sudah dibuat di pabrik dengan ukuran standar, dan si pembangun rumah tinggal menempel-nempelnya saja. Tugas besar Kementerian PUPR adalah bagaimana meyakinkan masyarakat bahwa rumah berkonsep RISHA ini kuat dan aman bagi mereka. Ini bukan hal mustahil, mengingat dahulu pun batako sempat gak dianggap oleh masyarakat dibanding bata merah. kini, banyak yang menggunakan batako sebagai bahan rumah mereka.

Keempat, masalah desain rumah RISHA. Iya, meskipun cantik, ada beberapa kekurangan dari model RISHA ini. Sambungan-sambungan panel beton yang menggunakan baut tampak sedikit mengganggu estetika. Tonjolan bentuk baut yang terlihat diluar menjadikan rumah ini sedikit kurang asyik dilihat. Ibarat wajah cantik seorang gadis, penampakan baut-baut ini layaknya jerawat yang membuat wajah tak sedap dipandang.

ipans wordpress
Baut-Baut Sambungan Panel Sedikit Mengganggu Estetika Rumah (sumber: ipans.wordpress.com)

What to do?

Untuk mengatasi beberapa problem diatas, sepertinya kementerian PUPR yang menaungi Puslitbangkim harus melakukan beberapa upaya agar RISHA menjadi lebih atraktif. Dengan mempertimbangkan berbagai kendala seperti tersebut diatas, mungkin beberapa poin dibawah bisa dipertimbangkan.

Pertama, promosi RISHA lebih intensif. Kementerian PUPR sepertinya perlu melancarkan berbagai strategi untuk memperkenalkan RISHA pada masyarakat. Jika dibandingkan dengan komposter yang juga dikembangkan Puslitbangkim, RISHA memang kalah populer. Tapi bukan tak mungkin kan untuk bisa mendongkrak popularitasnya? Bagi saya, aspek pemilihan nama RISHA yang begitu catcy sudah menunjukkan bahwa para peneliti di Puslitbangkim memang kreatif dan inovatif. Ayolah, pastti banyak cara buat memperkenalkan RISHA.

Salah satu cara beriklan yang efektif, mungkin konsep RISHA bisa digunakan untuk membangun bangunan-bangunan di ruang publik. Semisal, bangunan masjid, gazebo atau bangku taman bisa dibangun dengan menggunakan panel-panel RISHA. Di desa Cimanggung, saya menemukan prototif taman kecil yang terdiri dari bangku meja, gazebo serta tempat MCK yang berkonsep panel-panel RISHA ini. Tampilannya tetap kece kok! Panel-panel beton yang terkesan kaku namun tegas, terlihat unik ketika disulap menjadi bangku dan meja taman lho…

bangku taman

mck sehat desa sindang pakuon sumedang
Taman Warga Desa Cimanggu, Sumedang berkonsep RISHA (sumber: dokpri)

Bagaimana jika hal ini diterapkan di taman-taman kota? Tahu kan, taman kota kini sedang menjadi tren di mana-mana sejak demam Ridwan Kamil yang menyulap Bandung dengan berbagai taman tematiknya. Tinggal bikin MoU saja dengan para walikota atau Bupati untuk membangun taman mereka berkonsep RISHA, yakin deh masyarakat nantinya akan penasaran dengan panel-panel ini.

Kedua, membuat kebijakan insentif pembiayaan perumahan model RISHA. Ya, salah satu faktor yang membuat para developer alergi terhadap konsep RISHA ini adalah soal pembiayaan. Kabar yang saya peroleh saat berbincang dengan salah satu peneliti RISHA, katanya bank-bank di Indonesia belum mau menyalurkan dana mereka terhadap pengembang yang mau menggunakan konsep RISHA ini. Pihak Bank belum yakin akan kekuatan dari rumah yang dibangun dengan panel-panel temuan peneliti Puslitbangkim ini. Padahal kan sudah sudah ada garansi SNI ya?

Hal inilah yang menyebabkan para developer menjadi tak melirik RISHA. Perlu pendekatan yang efektif dari pihak Kementerian PUPR agar pihak bank mau menggulirkan dana mereka untuk membiayai pembangunan perumahan dengan konsep RISHA ini. Soal kebijakannya seperti apa, yaa saya gak tahu. Teknisnya mah saya serahkan pada para ahli perbankan atau dari kementerian PUPR sendiri. Hehehe…

Ketiga, mengintensifkan kerjasama dengan berbagai instansi, baik itu Pemda, NGO maupun pihak swasta dalam berbagai proyek terkait pembuatan bangunan atau perumahan. Salah satu contoh sukses adalah ketika Jakarta dibawah kepemimpinan Jokowi yang membuat kampung deret Petogogan yang menggunakan konsep RISHA ini. Bukan tidak mungkin kan bisa dibangun berbagai kampung deret di kota-kota lainnya. Toh banyak pemda yang sedang getol-getolnya memperbaiki infrastruktur mereka, termasuk soal pengentasan kawasan kumuh serta penyediaan rumah sehat bagi warganya. Selain itu, banyak NGO dunia ataupun pihak swasta melalui dana CSR mereka yang membangun bantuan perumahan atau bangunan publik bisa dibujuk untuk menggunakan konsep RISHA. Bisa kan sekolah, masjid, atau bangunan kantor bisa dibangun dengan konsep RISHA?

Saya sih yakin kalau semakin banyak bangunan publik dibangun dengan konsep RISHA, akan banyak orang yang tertarik untuk menerapkannya juga dalam membangun rumah mereka. Tahu sendiri, sifat orang Indonesia tuh latah,… apa yang dipakai banyak orang akan ditiru mereka. Pada akhirnya, jika banyak bangunan yang menggunakan konsep rumah RISHA, ke depannya sistem knock down atau prefabrikasi akan menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat kita.

tempo co
Kampung Deret Petogogan, Contoh Perumahan Berkonsep RISHA (sumber: Tempo.co)

Keempat, mengembangkan desain panel-panel RISHA agar lebih menarik lagi. Iya, soal baut-baut sambungan panel ini sedikit men-distract tampilan bangunan rumah RISHA secara keseluruhan. Jangan lupa, orang Indonesia selain latah juga fashionable lho. Soal baut yang kelihatan sepele malah bisa membuat orang jadi mundur untuk memakai konsep RISHA ini. jadi, please perlu rekayasa dikit lagi bagaimana caranya biar tampilannya nanti bisa lebih cantik lagi.

Pada akhirnya, saya sih yakin kalau ke depannya akan lebih banyak lagi rumah-rumah RISHA terbangun di berbagai pelosok negeri ini. Suatu hari nanti, kita tak akan lagi menemui rumah tidak layak huni, atau pemukiman kumuh. Iya, semua berkat RISHA dan inovasi dari balitbang PUPR ini.

 

 

 

 

 

5 Comments

  1. Dzulfikar August 10, 2016 Reply
  2. mia maria nita August 18, 2017 Reply
    • ofi gumelar October 1, 2017 Reply
  3. Abadi Atmanagara May 17, 2018 Reply

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *