Satu Jam Bersama Zulhasan

Categories Feature

“Merah putih kita agak koyak-koyak…”

Senin sore itu, 11 Desember 2017, langit Bandung agak mendung. Agak khawatir juga sebenarnya ketika diri ini menghempaskan diri diatas jok motor ojek online yang saya tumpangi. Hujan bisa saja mengguyur ditengah perjalanan menuju hotel Aston Tropicana, Cihampelas. Untungnya kekhawatiran tersebut tak terbukti, saya masih kering kerontang ketika tiba di tujuan.

Sore itu, saya ada janji mau ngobrol bareng pejabat tinggi negara, Zulkifli Hasan. Tahu siapa beliau? Politisi dari Partai Amanat Nasional ini adalah ketua MPR RI saat ini. Sedikit penasaran, apakah pertemuan ini akan berjalan kaku dan resmi layaknya acara pejabat negara yang penuh protokoler dan aturan baku?

Nyatanya tidak tuh. Acara Gathering Netizen MPR dan BloggerBDG yang bertajuk Ngobrol Bareng MPR RI ini berjalan dengan santai, penuh tawa dan sangat jauh dari kesan formal. Untuk acara sekelas pejabat tinggi negara, pertemuan ini sama sekali tak diisi dengan sambutan-sambutan dari beberapa orang yang jamak ditemui di acara-acara sejenis.

Awalnya saya sempat menduga kalau forum ini akan berjalan kaku dan formal. Demi menghargai pertemuan dengan pejabat negara ini, dari rumah saya memakai baju yang lebih formal dari biasanya. Untuk pertemuan hari itu, saya rela memakai kemeja, celana kain dan sepatu pantofel. Ini demi menghargai pengundang yang berasal dari perangkat negara. Well, biasanya untuk acara blogger saya lebih suka menggunakan dress code t-shirt, celana jeans dan sepatu kets.

Dugaan semakin menguat saat di meja reservasi, para blogger disodori goodie bag yang “berat”. Ada buku saku undang-undang 1945 dan ketetapan MPR RI, ada beragam brosur tentang empat pilar, tugas dan fungsi MPR dan brosur-brosur sejenisnya. Bahkan kami disodori poster dan stiker tentang empat pilar ini. satu-satunya yang mengindikasikan bahwa kami tak akan terlalu formal mungkin adanya ketentuan kaos berkerah yang harus kami pakai untuk mengikuti acara ini.

Sebagian Brosur Yang Dibagikan

Acara gathering netizen MPR dan BloggerBDG ini diikuti sekitar 50 blogger yang tergabung di komunitas BloggerBDG. Meskipun menyanding nama Bandung, namun netizen yang hadir mencakup kota-kota lain di sekitar Bandung. Saya sendiri aslinya dari Purwakarta. Beberapa teman blogger yang saya temui di acara tersebut ada juga yang berasal dari Garut dan Cianjur. Bolehlah dibilang ini bukan hanya temu netizen Bandung saja, tapi termasuk Jawa Barat.

Sedianya acara akan dimulai dari jam 3 sore, tapi kemudian jadwal sedikit molor karena Pak Zulkifli Hasan sendiri baru datang satu jam kemudian. Ya, ini mungkin yang khas dari pejabat,…sedikit ngaret. Saya sih maklum mengingat padatnya jadwal beliau. Segini juga syukur beliau mau menyempatkan diri untuk menemui netizen kota kembang ini. Btw, acara ini sedianya akan diselenggarakan sebulan lalu, namun diundur karena adanya jadwal mendadak Pak Zul yang tak bisa ditinggalkan. Tapi saya salut, komitmennya untuk menemui netizen di Bandung tetap menyala dengan menemui kami di hari senin tersebut.

“Panggil saja saya Zulhasan, jangan ketua MPR segala,…,” begitu katanya mengawali pembicaraan kami dengannya. Ini cara beliau untuk lebih mengakrabkan diri dengan kami. Hari itu, dia ingin kami tak bersekat. Sebutan nama langsung bagi saya sudah menjauhkan jarak yang ada karena sekat jabatan.

Setelah menyelami sebagian netizen yang duduk di bangku depan, Pak Zulhasan kemudian menuju kursi yang telah disediakan. Ia didampingi oleh Sekretaris Jenderal MPR RI, Ma’aruf Cahyono.

“Ayo, sekarang saya ingin teman-teman netizen yang curhat duluan, baru nanti saya ngomong…. Bebas saja mau ngomong apa, curhat, kritik, atau saran. Pokoknya kita mau ngobrol santai saja,…” lanjut Pak Zulhasan meminta kami untuk yang mengawali pembicaraan.

Wow, ini surprise! Tanpa ba bi bu, Pak Zulhasan langsung ngegas mengajak para netizen langsung bicara. Ajakan ini tentu saja disambut acungan tangan para netizen. Saya? Seperti biasa, saya yang telat panas menanti sesi kedua tanya jawab, yang justru ternyata tak ada, karena waktunya yang terlalu singkat. Hanya satu jam saja…

Salah satu netizen menyampaikan pertanyaannya pada Pak Zulhasan

Satu persatu netizen mulai curhat. Saya mencatat ada 10 pertanyaan yang diajukan para netizen kepada Pak Zulhasan. Isu yang disampaikan beragam, mulai dari kelangkaan gas yang dikeluhkan emak-emak blogger Bunda Intan Rosmadewi, tentang kesadaran akan sampah yang disampaikan blogger aktivis lingkungan, Bu maria Goestoro, atau tentang soal Pajak Penulis yang dipaparkan oleh Bang Aswi, ketua BloggerBDG. Tak beda jauh, yang lainnya pun menyampaikan isu yang terbilang menjadi permasalahan yang umum terjadi di masyarakat kita.

Setelah semua menyampaikan keluhannya, barulah kemudian Pak Zulhasan menyampaikan tanggapannya. Secara tak langsung, beliau menyebutkan bahwa keluhan semua netizen tersebut akan disampaikan kepada teman-temannya di MPR dan DPR yang kebagian menggodok regulasi terkait isu-isu yang disampaikan.

Diakhir pemaparannya, Pak Zulhasan kemudian menyampaikan kekhawatiannya mengenai apa yang terjadi pada bangsa ini. “Merah putih kita agak koyak-koyak…” ungkapnya.

Saya setuju dengan pernyataannya. Hari ini kita sedang diuji dengan lunturnya toleransi dan meningkatnya keegoan masing-masing orang. Pak Zulhasan menyebut contoh terkini, bagaimana seorang Ustad Abdul Somad mendapatkan persekusi di Bali ketika hendak berceramah disana. Pak Zulhasan menekankan keprihatinannya, menurutnya kondisi ini disebabkan karena adanya distrust diantara kita. kita sering mendahulukan rasa marah kita sehingga muncul aksi saling menista, menghujat serta menghakimi sendiri.

“mari kita jahit kembali merah putih agar kembali utuh…” pesan Pak Zulhasan mengajak para netizen untuk berperan serta membangun kembali negeri yang terkoyak ini.

Pejabat jaman now itu harus rela foto bareng dengan warganya

Pejabat Jaman Now

Saya mengapresiasi apa yang dilakukan ketua MPR RI ini, Zulhasan, untuk menyambangi netizen di Bandung serta kota-kota lainnya di Indonesia. Bukan soal mencoba menyerap aspirasi warga yang diwakilinya, tapi juga menyebar manfaat dari pertemuan tersebut.

Netizen bukan hanya sekedar warga biasa yang sebatas menyampaikan aspirasi. Dibalik itu ada kerja lebih dari mereka. iya, lewat tulisan-tulisan netizen inilah beragam informasi yang dihasilkan dari pertemuan tersebut akan disebar ulang melalui dunia maya, baik lewat tulisan mereka di blog maupun sosial media mereka.

Jaman now, membangun engagement dengan netizen adalah keniscayaan. Mereka memiliki kekuatan lebih baik dalam menyampaikan informasi kepada khalayak luas, membentuk citra ataupun sebagai penyambung lidah dengan masyarakat. Bahkan menjadi bagian dari netizen itu sendiri adalah sebuah keharusan bagi seorang pejabat jaman now.

Aktifitas netizen di sosial media mampu menyebarkan informasi lebih luas (sumber: @OfiSgumelar)

Sekedar flashback, kemenangan Barrack Obama saat menjadi presiden kulit hitam pertama di negeri adidaya, Amerika Serikat, adalah karena kerja-kerja tim kampanye melalui media sosial. Warga negara yang menjadi netizen lah yang diarah olehnya. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia, bagaimana Jokowi terpilih jadi gubernur Jakarta kemudian naik pangkat menjadi presiden, dan Ridwan kamil, si anak twitter, yang menjadi walikota Bandung adalah bukti bagaimana kekuatan mereka yang aktif di dunia maya bernama internet.

Zulhasan termasuk salah satu pejabat yang menyadari hal tersebut. Bukan sekedar menjaring komunikasi dengan netizen, tapi beliau juga menjadi netizen itu sendiri. Ia berkicau di twitter, ia aktif menyapa di jagat facebook, ia juga menjadi youtuber, dan kemudian ia pin memulis di blog personal. Bolehlah saya menyebut jika Zulhasan adalah pejabat jaman now.

Langkahnya menjadi bagian dari netizen patut ditiru oleh pejabat ataupun politikus lainnya. Apalagi mengingat geografis wilayah Indonesia yang bersebar dalam beribu pulau, internet dengan media sosialnya adalah cara paling efektif untuk menyambangi warga atau konstituten mereka. Saya tak tahu ada berapa banyak anggota DPR atau MPR RI yang telah aktif menjadi netizen, andai semua seperti Zulhasan, tentu akan sangat memudahkan komunikasi dengan masyarakat yang diwakilinya.

Bagaimana MPR Ke Depannya

Satu hal yang jadi kepikiran setelah pertemuan kemarin adalah soal bagaimana eksistensi lembaga legislative bernama MPR ini kedepannya. Lagi-lagi saya harus acungi jempol untuk mereka yang bekerja dibalik acara ini, mungkin Sekretariat MPR RI tersebut. Secara tak sadar mereka membawa wajah MPR menjadi lebih casual, hangat dan jauh dari kesan kaku.

Untuk bisa menyerap aspirasi warga, memang lembaga yang merepresentasikan suara rakyat ini tak perlu menunggu rakyatnya datang ke gedung tempat mereka bersidang. Sebaliknya, harusnya merekalah yang harusnya mendekat, dan Acara Gathering Netizen MPR dan BloggerBDG ini merepresentasikan hal tersebut. Pertemuan seperti ini perlu diperbanyak, bukan hanya dengan netizen saja, tapi juga dengan kelompok masyarakat lainnya. Saya kok jadi kepikiran, bagaimana jika tahun-tahun ke depan , sesekali sidang MPR lakukan saja diluar gedung MPR RI yang ada di Senayan itu? misalnya di salah satu pulau terluar yang sangat jarang dikunjungi pejabat pemerintah misalnya. Dari sini wakil kita di MPR bisa melihat realita yang ada, serta menyerap aspirasi warga di wilayah terluar.

Selepas pertemuan ini saya jadi bertanya-tanya, kira-kira dengan siapa lagi kami akan bertemu dalam acara sejenis?

Ayo Bapak Ibu yang diatas sana, kita ngobrol bareng. Santai aja lah, gak usah formal-formal segala…

 

2 thoughts on “Satu Jam Bersama Zulhasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *