Saya dan ODOP

Sumber gambar: mohamed_hassan/pixabay.com

Beberapa teman yang langganan membaca tulisan saya sedikit keheranan akhir-akhir ini (ciee … punya fans berat ternyata gue!). Katanya, kenapa sekarang mah tulisannya pendek-pendek dan gak terlalu berat bahasannya. Rupanya dia gak tahu kalau saya sedang ikutan program ODOP (One Day One Post). Apa hubungannya?

Begini, saya selama ini memang sering menulis artikel yang panjang, rata-rata 1500 sampai 2000 kata. Tentu saja dengan space yang demikian banyak kata, saya bisa mengeksplor tulisan sampai dalem banget. Ada banyak argumen dan fakta yang kerap saya sampaikan disana.

Kamu tahu, untuk menulis artikel dengan karakteristik seperti diatas, itu butuh waktu yang lumayan lama. Buat riset data, buat memilah data mana yang akan dipakai, terus merangkai tulisannya, dan editing biar tulisannya enak dibaca. Rata-rata untuk satu tulisan tersebut saya butuh waktu hampir seminggu.

Lama? Iya, karena saya ingin artikel tersebut bisa tuntas membahas satu tema. Saya ingin artikel yang saya tulis benar-benar mantap, menjawab tema sampai tuntas. Curiga kenapa sedemikian semangatnya nulis? Hahaha … kebanyakan artikel-artikel yang saya tulis tersebut adalah artikel yang saya ikutkan dalam blog competition. Jadi, ya kudu ajib dong tulisannya ….

Tiga minggu ini saya merubah gaya menulis saya. Iya, selama tiga minggu ini saya ikutan komunitas ODOP yang mengharuskan saya menulis satu tulisan dan mempostingnya di blog pribadi. Untungnya, komunitas ini hanya mensyaratkan minimal 300 kata untuk satu tulisan. Sebuah angka yang terbilang sedikit dibanding jumlah kata yang kerap saya muntahkan dalam artikel-artikel saya sebelumnya.

karena desakan waktu yang hanya sehari untuk satu artikel, saya tentu tak bisa menulis secara mendalam. Bisa sih, tapi harus punya banyak waktu luang. Mungkin saya bisa seharian berkutat dengan urusan menulis, karena saya pasti bakalan searching data dan fakta untuk menguatkan tulisan tersebut. Tentu saja, saya tak punya banyak waktu untuk itu sehingga akhirnya saya memutuskan menulis yang ringan-ringan saja.

Tahu gak, salah satu manfaat dari ODOP ini bagi saya adalah untuk melatih kemampuan free writing saya. Tahu free writing gak? tanya mbah google aja deh,… ini sudah lebih dari 300 kata soalnya. Sayang kalau saya ngebahas dalem soal ini hanya di satu artikel saja.

Mungkin di tulisan setelah ini saya coba membahas soal free writing ini. Kalau saya mood ya ….

Ofi Gumelar

5 thoughts on “Saya dan ODOP

  1. Ishhh nyebelin banget sih. Udah ditungguin jawabannya. Ehhh diputus sama 300 kata.

    Ditunggu lho penjelasannya.

    Trus ya biasa nulis 1000 kata? Wuihhhh aku nulis 300 kata aja ngos-ngosan. Kalau suruh ngomong ma lantjar djaja ampe beribu ribu kata ya. Padahal saya pendiem lho.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *