Secuil Kisah Mang Ade: Potret Usaha Mikro dan Peranannya

simulasi 6

Ditengah gempuran berbagai korporasi bermodal besar, ada banyak individu yang berbisnis dengan daya modal seadanya. Dengan mengandalkan konsep konvensional, tanpa target muluk-muluk mereka hadir melayani warga. Tanpa disadari, banyak dari mereka memberi peran penting bagi masyarakat yang menjadi konsumennya. Ini adalah salah satu kisah diantaranya.

Perkenalkan, namanya Mang Ade. Demikian kami mengenalnya. Keberadaannya selalu dinanti, ketiadaaannya selalu dicari. Tanpanya, hidup kami akan terasa repot. Tanpa banyak yang menyadari, ia menjadi orang penting. Ia telah menjadi penolong bagi warga perumahan dimana saya tinggal. Ya, ia adalah tukang sayur di komplek perumahan kami.

Sebagai seorang pedagang, konsep bisnisnya sungguh sederhana. Cukup menyediakan bahan kebutuhan pokok bagi warga komplek perumahan dan menggelarnya di pagi hari saat aktifitas kehidupan baru dimulai. Ia mengerti, kebutuhan paling awal bagi ibu-ibu di pagi hari adalah bahan masakan.

mang ade.jpg
Mang Ade Saat Menggelar Jualannya

Dengan ditemani sang istri, setiap pagi ia selalu menggelar dagangannya di sekitar ruko kompleks perumahan. Beraneka sayur dan daging yang dibutuhkan warga ia gelar disini. Hanya berselang setengah jam dari jam sholat Shubuh, ia sudah dikerumuni oleh beberapa ibu-ibu yang mencari bahan untuk memasak.

Selepas pembeli berkurang, tugasnya belum selesai. Ia akan segera memindahkan sayuran yang tersisa pada bakul di motornya. Dari sini ia kemudian berkeliling ke blok-blok rumah di komplek kami, menawarkan sayurannya door to door, karena ternyata ada juga warga yang lebih memilih menunggunya datang menghampiri rumah mereka.

Saya, yang telah tinggal di perumahan ini selama 10 tahun lebih, tahu banyak bagaimana perkembangan usahanya. Dari yang mulanya hanya menjajakan beberapa item sayuran, kini variasi dagangannya semakin banyak. Perkembangan paling mencolok yang saya lihat adalah motor yang kini menjadi andalannya dalam berjualan. Dulu, ia menggunakan motor bebek Grand Astrea,…yang entah keluaran tahun berapa (saking tuanya usia motor tersebut). Kini, motornya telah berganti, masih merk yang sama, tapi berubah menjadi type keluaran terbaru.

motor mang ade.jpg
Motor Tunggangan Mang Ade

Beberapa waktu lalu saya sempat menanyakan soal motornya. Bukan tanpa alasan ia mengganti motornya dengan keluaran terbaru. Selain karena sering mogok, ia juga perlu memastikan bisa berbelanja ke pasar dan segera menggelar dagangannya secara tepat waktu. Menurutnya akan sangat merugikan apabila ia terlambat menggelar dagangannya di setiap pagi hari. Selain potensi kehilangan pembeli, ia kasihan pada ibu-ibu yang bisa kelabakan tak punya bahan untuk keperluan memasak mereka.

Dari sini pikiran saya menerawang. Kelihatannya ia hanya seorang pedagang kecil yang berusaha mencari nafkahnya dengan menjajakan sayuran. Sepertinya sepele. Tapi dibalik itu, jasanya sangat besar bagi warga. Andai tak ada dia, kami bisa saja kerepotan menyiapkan kebutuhan makanan sehari-hari.

Terlalu lebay? Mungkin. karena sebenarnya bisa saja kami membeli sayuran di supermarket. Atau pergi ke pasar tradisional. Kedua tempat tersebut tak begitu jauh dari kompleks perumahan kami. Pasar hanya sekitar 5 Km, dan supermarket terdekat pun tak jauh dari kisaran jarak segitu.

Well, sebenarnya bisa saja tiap hari kami pergi ke kedua pilihan tempat tersebut untuk sekedar berbelanja kebutuhan masakan kami. Kalau malas, bisa juga membeli sekaligus untuk keperluan stok seminggu penuh.

To be honest, buat tiap hari belanja ke pasar atau supermarket, ini termasuk pemborosan buat saya. Boros waktu plus boros uang juga dong buat bensin kendaraan kita. Tambahannya, males juga dong tiap pagi harus pergi ke pasar. Kemudian, saya dan isteri termasuk malas membeli stok sekaligus. Selain tidak lagi segar sayuran yang disimpan tersebut, kami termasuk penganut paham spontanitas dalam mempersiapkan masakan yang akan kami masak.  Kami lebih senang menentukan akan masak apa hari ini berdasarkan apa yang tersedia di jualan Mang Ade. Yakin deh, banyak juga orang yang setipe seperti kami. Itulah mengapa, keberadaan penjual sayur seperti Mang Ade ini menjadi begitu penting bagi kami.

Menuntaskan rasa penasaran, saya menanyakan kembali bagaimana bisa mendapatkan uang untuk membeli motornya. Dijawabnya ia bisa membelinya dengan menyisihkan sebagian keuntungannya dari berdagang. Sedikit demi sedikit akhirnya bisa terkumpul cukup untuk membeli motornya.

Wow, keren!

Katanya lagi, ia kini sedang menabung sedikit demi sedikit. Selain untuk menambah modal ke depannya, katanya menabung bisa mempersiapkan segala keperluannya di masa depan. Cita-citanya ingin memiliki warung sendiri. Entah kapan terwujud, ia sedang mencicil mimpinya dengan menabung di Bank.

Soal ini, saya 100% setuju. Menabung merupakan aktifitas penting bagi perencanaan keuangan kita. Selain pelan-pelan memupuk mimpi, tabungan tentu saja berguna sebagai dana cadangan, apabila sewaktu-waktu perlu sesuatu yang diluar perkiraan.

Ah, tapi bukankah ada cara cepat untuk menambah modalnya. Kenapa pula tak mengajukan pinjaman kredit ke Bank? Mang Ade Cuma menggeleng, katanya mustahil Bank mau memberi pinjaman modal buat usaha selevel dia. Tak mungkin ada katanya.

Tunggu dulu mang! Setahu saya kini banyak kok institusi perbankan yang menggulirkan kreditnya untuk UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah). Bahkan ada satu Bank, yaitu Bank BTPN yang memfokuskan visi usahanya pada pengembangan mass market. Hebatnya, Bank BTPN ini juga melibatkan nasabahnya untuk turut membantu para pelaku usaha mass market ini. salah satunya melalui salah satu produk tabungan yang dikeluarkan Bank ini.

Apa hubungannya menabung dengan pemberdayaan usaha mikro atau mass market ini? iya, produk tabungan BTPN ini  rupanya memiliki program khusus pemberdayaan bagi mikro atau kecil yang termasuk usaha mass market.

Simpelnya sih, dana yang kita tabungkan akan digulirkan untuk program pemberdayaan mereka yang bergerak di usaha level UMKM. Selain berupa bantuan kredit, pemberdayaan juga diberikan dalam bentuk pemberian seminar kewirausahaan . Dari sini, diharapkan mereka bisa memperoleh bekal ilmu untuk pengembangan usaha mereka.

Oke, apa sih produknya? Namanya tabungan Taseto Mapan dari BTPN Sinaya. Dari websitenya, www.menabunguntukmemberdayakan.com  kita  bisa mendapatkan simulasi bagaimana pengembangan uang yang kita simpan di tabungan ini sesuai perencanaan keuangan kita. Misal nih, saya sempat membuat simulasi dengan plan menabung 1 juta setiap satu bulannya,dengan target selama 4 tahun. Nah, dari simulasi ini kita diberi tahu nanti diakhir periode target berapa uang yang akan kita dapatkan. Asyik kan, ini bisa membantu perencanaan keuangan kita.

Oh ya, soal bagaimana menggunakan simulasinya gak ribet kok. Cukup masukkan data kita, atau kalau mau, kita bisa login dengan akun Facebook kita. Seterusnya tinggal mengikuti langkah langkah yang ada di website tersebut. So Simple

SIMULASI4
Hasil Simulasi Tabungan BTPN yang Saya Lakukan

Di situs ini pula, ada banyak informasi mengenai kiprah pengusaha skala mikro dan kecil yang sudah terbantu dengan program pemberdayaan BTPN ini. Mulai dari pembuat kue onde-onde, warung nasi, hingga usaha pembuatan kripik singkong. Ah, semoga saja nanti Mang Ade juga bisa menjadi salah satu dari mereka yang mendapat bantuan pembedayaan dari bank ini.

Bank BTPN memang termasuk salah satu institusi perbankan yang concern pada pengembangan mass market. Sampai tahun 2012 saja, sudah lebih dari 800 ribu pelaku usaha mass market yang dibina melalui berbagai aktivitas dan pelatihan. Terkait hal ini, BTPN ternyata memiliki program Daya, yang fokus pada isu ini. dan jenis tabungan Taseto Mapan ini termasuk dalam salah satu aplikasi dari program daya ini.

Bagi saya, produk tabungan BTPN Sinaya Ini termasuk istimewa. Saya setuju, kini sudah saatnya bank perlu melirik usaha sejenis UMKM ini. Kasih modal buat pengembangan usaha mereka. Banyak model bagaimana sebenarnya pemberdayaan bagi jenis usaha ini akan mampu menopang kestabilan ekonomi negara. Menurut data kompas.com, total dana yang telah digulirkan BTPN untuk pengembangan jenis usaha mass market selama tahun 2011 saja mencapai 30 triliun rupiah.

Kok mau sih BTPN memberikan modal pada jenis usaha kecil ini? apa untungnya? Bagaimana pula dengan resiko kredit macet dari ketidakmampuan mereka mengembalikan kredit yang diambilnya?

Jangan salah, biarpun tergolong jenis usaha dengan perputaran modal yang bisa dibilang ‘gurem’, namun secara total justru jenis usaha inilah yang banyak menguasai perekonomian kita. Menurut data Bappenas, total UMKM yang ada di negeri ini mencapai 57,9 Juta usaha, paling banyak dibanding negara-negara lain di dunia. Sektor UMKM ini memberi kontribusi PDB sebesar 58,92 persen dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 97,30 persen. Jadi, boleh dibilang kekuatan ekonomi Indonesia ada di sektor UMKM ini.

Soal kredit macet? Ternyata rasio kredit macet di Bank BTPN pada tahun 2011 dari penyaluran kredit bagi pelaku UMKM ini hanya 0,7 persen. Sangat sangat kecil.

Jadi teringat bagaimana badai krisis ekonomi tahun 1998 telah merontokkan bisnis para konglomerat. Tapi katanya jenis usaha UMKM ini tak terhempas badai krisis, malah menjadi sektor penyelamat ekonomi  negara ini dengan menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat ditengah banyaknya PHK melanda industi besar yang  kolaps ditejang krisis moneter.

Lagipula, kita perlu juga berkaca pada kesuksesan program pemberdayaan masyarakat kecil yang dirintis peraih nobel Muhammad Yunus dengan Grameen Bank-nya di Bangladesh. Konsepnya yang berani memberi modal bagi masyarakat miskin berhasil mengangkat perekonomian mereka tanpa membuat Bank itu sendiri menjadi bangkrut. Konsep Grameen Bank ini kemudian menjadi role model pemberdayaan bagi masyarakat kecil.

grameenfoundationorg
M Yunus ditengah Nasabah Grameen Bank (Sumber: grameenfoundation.org)

Nah, bagi teman-teman yang memiliki niat ingin membantu pengembangan UMKM di negeri ini, tak ada salahnya menabung di produk tabungan Sinaya BTPN ini. Saya juga punya niat yang sama kok untuk membuka tabungan ini. Ini tak lain karena melihat sendiri bagaimana sebuah usaha kecil di depan saya sehari-hari bisa akan bisa terbantu dengan jenis program pemberdayaan serupa yang digagas BTPN ini.

Yuk, nabung dan bantu pemberdayaan usaha sejenis Mang Ade dan kawan-kawannya!

Referensi:

BTPN Konsisten ke “Mass Market”. http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/02/29/08482588/BTPN.Konsisten.ke.Mass.Market.

Jumlah UMKM Indonesia Terbanyak dibanding Negara Lain. http://jejakmu.bappenas.go.id/berita/87-jumlah-umkm-indonesia-terbanyak-dibanding-negara-lain

Ilustrasi Foto Header dan Simulasi: www.menabunguntukmemberdayakan.com

 

#LebihBerarti BTPN #MenabungUntukMemberdayakan

 

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *