Catatan Hati Seorang Buzzer

Bersama teman-teman blogger lainnya di salah satu acara instansi.

Seminggu ke belakang dunia blogger sedikit dihebohkan oleh postingan Paul Stenson, manager Charvele Lodge Hotel di Irlandia. Dalam postingannya tersebut ia mengunggah tawaran kerjasama seorang blogger dan influencer, Elle Darby, yang menawarkan promosi dan review hotelnya dengan imbalan akomodasi gratis selama 5 malam di hotelnya. Di postingan tersebut, Stenson menuliskan penolakannya disertai sedikit cibiran kepada si blogger.

Tak anyal, postingan ini menuai sambutan yang gegap gempita. Beberapa media bahkan merilis beritanya, termasuk kompas.com. Ada yang pro dan tentu saja ada yang kontra. Tak sedikit yang membela si blogger, tapi banyak juga yang menganggapnya tak panas, belagu dan sebagainya laah.

Kalau dilihat dari dua sisi, saya sih ngerti apa yang dikeluhkan Stenson. Ia mungkin jengkel dengan penawaran Darby yang terkesan ‘songong’ minta-minta akomodasi 5 malam gratis di hotelnya. Siapa elo? Begitu mungkin pikir Stenson. Sementara, Darby sendiri menilai ia bisa jadi influencer yang mumpuni. Dengan data follower yang bejibun di media sosialnya, ia mengklaim ia adalah promoter yang bisa menaikkan rating hotelnya si Stenson.

Saya tak ingin membahas soal polemik Stenson dan Darby diatas. Toh sudah banyak blogger yang membahasnya. Kalau kamu tertarik ingin membaca lebih jauh soal ini, saya rekomendasikan kamu buat baca tulisan teman kompasianer saya, bang Gapey Sandy, silahkan klik DISINI.

Disini saya cuma mau curhat dikit soal relasi antara blogger dan institusi yang jadi klien si blogger. Tahu kan ya jaman now mah banyak perusahaan yang memanfaatkan para blogger dan pegiat media sosial untuk membantu marketing mereka.

Ceritanya, saya sudah beberapa kali ikutan bareng blogger lain untuk ikutan nyemplung nge-buzzer beberapa instansi atau perusahaan. Terkadang saya ditawarin teman, terkadang pula saya daftar ketika ada penawaran nge-buzzer tersebut di komunitas blogger yang saya ikuti.

Motivasinya tak melulu soal bayaran, karena toh terkadang tak ada fee uang, dan kebanyakan cuma dikasih goodie bag atau makan siang. Saya tak masalah. Niat saya hanya ingin mencari sumber berita, ide buat tulisan sekaligus nambah-nambah informasi tentang produk yang dibuzzer tersebut.

Tahu kan, kewajiban para buzzer tuh biasanya nge-tweet atau posting foto di Instagram saat aktifitas kegiatan berlangsung, dan kemudian bikin blogpost reportasenya. Biarpun bayarannya cuma goodie bag, saya sih gak peduli. Saya termasuk blogger yang disiplin melunasi kewajiban blogpost tepat waktu.

Tapi tahu gak, terkadang saya juga suka meradang. Saya kerap dibikin jengkel oleh beberapa klien. Untuk beberapa aktifitas buzzer yang dikasih fee uang, dan nominalnya gede, biasanya si klien suka rewel. Mereka meminta posting dengan syarat kata kunci tertentu, harus ada foto tertentu, dan hashtag tertentu. Tentu jadwal posting begitu ketat, kudu tepat waktu.

Akan tetapi, rupanya masih banyak perusahaan atau instansi yang abai soal pelunasan. Yap, ini beberapa kali sering saya temui. Saya gak nyebut semuanya ya,…

Live tweet udah,posting instagaram udah, posting tulisan di blog udah,…pas bagian pembayaran suka di molor-molor. Duh, suka sebel deh kalau di-php-in mereka. Bilang di transfer hari ini, terus zong,…. Saya complain lagi, dibilang dua hari lagi,…terus bohong lagi…. Beuuhhh, hayati lelah bang!

Terus apa relasinya dengan kasus si Stenson itu? gak ada sih. Cuma terkadang ada banyak instansi atau perusahaan yang seringkali meremehkan soal kewajiban mereka membayar jasa para buzzer. Pada titik ini saya jadi melihat pada satu sisi, soal perusahaan yang menganggap remeh kerja buzzer. Oke lah, kalau kasusnya kayak si Darby yang menawarkan diri, dan kemudian Stenson bilang, siapa elo? saya bisa sedikit maklum.  Tapi kalau mereka sendiri yang nawarin ke kita (ehh, gue kali!) terus setelah semua dilunasi, kemudian mereka mengulur-ngulur pembayaran hak kita, disitu aku merasa da aku mah apa atuh? Hahaha… ngerti kan?

C’mon, hargailah jerih payah kami para buzzer ini. iya kalau kondisinya nge-buzzer itu cuma sekedar sampingan, lha teman-teman saya malah banyak yang menggantungkan hidupnya sebagai blogger/buzzer professional.

Jadi begitulah, saya seringkali merasa bete kalau si klien suka php kalau mau ngirim fee, gak jelas kapan ngirim-ngirim fee nya. Ah, anggap saja ini mah catatan hati seorang buzzer yang seringkali dibikin bete sama klien.

Kamu, apakah punya pengalaman serupa?

 

 

Ofi Gumelar

6 thoughts on “Catatan Hati Seorang Buzzer

Leave a Reply to Winda Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *