Every Moment Counts: Buku Antologi Pertama Saya

Ketika pertama kali mencoba ikut-ikutan ngeblog, saya sama sekali tak kepikiran untuk membuat buku. Bisa nulis konsisten saja sudah syukur, apalagi sebagai penulis pemula saya kerap dilanda penyakit mogok nulis, entah karena mood yang jelek atau memang kepentok habis ide.

Demikian pula ketika banyak teman blogger yang satu persatu merilis buku karya mereka, saya tak bergeming. Cuek saja. Sama sekali belum kepikiran untuk ikut-ikutan menulis buku. Lha, mau nulis apa? Saya terbuasa menulis satu tema hanya dalam satu tulisan pendek. Paling panjang 2000 kata, saya sudah ngos-ngosan. Kalau untuk menulis buku, saya mungkin akan ngos-ngosan untuk menuntaskan sampai beres.

Belakangan saya tahu ternyata selain satu buku yang ditulis penuh, teman-teman saya terbiasa ikutan proyek buku antologi. Buku yang ditulis keroyokan. Tiap orang rata-rata menulis satu artikel, dan jadilah satu buku tebal yang terdiri dari kumpulan tulisan bersama. Dari sini saya kemudian sedikit tertarik. Well, buat nulis satu artikel mah gampang lah. Dari satu artikel kemudian menjelma menjadi satu buku? Lumayan kan bisa diakui sebagai buku kita,….iya buku bersama.

Kesempatan kemudian datang juga. Pada blog sosial storial.co ada tawaran untuk membuat buku antologi non fiksi yang dikurasi oleh Muhammad Assad, penulis dan sekaligus pengusaha beken. Saya sudah mengagumi tulisan Assad ini lewat bukunya Notes from Qatar. Keren deh.

Faktor Assad lah yang membuat saya tertarik untuk mencoba ikutan. Mencoba? Iya, Karena untuk bisa ikut mejeng tulisan di buku project Storial dan Assad ini, ada seleksi dulu. Mereka akan memilih 16 tulisan terbaik dari penulis storial.co. Tak mengapa, saya sih senang jika ada seleksi dulu, kualitasnya kan lebih terjamin ya?

Singkat kata, tulisan saya terpilih menjadi salah satu dari 16 tulisan yang dikompilasi menjadi buku berjudul Every Moment Counts ini. Ini memang buku antologi, jadi boleh dong ini juga diklaim sebagai buku saya? Kan saya berkontribusi di sana?

Selain dikurasi oleh penulis beken, faktor lain yang membuat bangga dari buku ini adalah buku ini dicetak oleh penerbut Mayor, Elex Media Computindo. Bagi saya ini sudah prestasi lebih dong. Tulisan saya bisa mejeng di salah satu gerai toko buku Gramedia dong? Wuihhh…

Every Moment Counts berisi tulisan-tulisan bertema syukur. Karena kompetisinya diselenggarakan selama bulan Ramadhan 2016, kami diminta menulis tentang pengalaman berharga selama menjalani puasa di bulan Ramadhan. Assad ingin mengambil hikmah yang dirasa masing-masing penulis selama menjalani puasa wajib tersebut.

Saya sendiri menyumbang cerita tentang pengalaman menjalani puasa di negeri sakura, tepatnya di kota Miyazaki. Saya uraikan beragam hikmah yang saya rasakan selama menjalani puasa di sana. Di storial, saya menulisnya dengan judul Ketika Ramadhan Tak Terasa Istimewa, namun di buku antologi ini kata Ramadhannya dipangkas. Kalau kamu tertarik membacanya, kamu bisa baca disini. Kalau tertarik ingin membaca tulisan-tulisan lainnya di buku ini, ya beli dong!

Begitulah, biar pun tak disengaja, saya surprise banget bisa menelurkan buku antologi ini. asyik lah, untuk portofolio saya bisa menyebutnya sebagai buku pertama saya.

Btw, kelahiran buku ini juga memantik semangat saya untuk segera menulis buku sendiri. niat sudah ada, dan sekarang saya sedang mencoba mewujudkannya. Tentang apa? Ada dehh…

 

Ofi Gumelar

10 thoughts on “Every Moment Counts: Buku Antologi Pertama Saya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *