Free Writing, Latihan Mengalirkan Tulisan

Di postingan kemarin, saya sempat menyinggung soal ODOP dan free writing. Apa itu free writing? Kenapa kamu perlu mengasah skill free writing?

Kewajiban Nge-ODOP itu membuat saya harus memposting satu tulisan setiap hari. Sejak awal saya meniatkan ikutan komunitas ini adalah untuk memecut diri ini agar lebih konsisten menulis. Iya dong, dengan adanya paksaan untuk membuat blogpost setiap hari otomatis saya bisa menjadikan menulis sebagai habit positif yang saya lakukan.

Sebagai pemanasan, sebelum memulai aktifitas ODOP ini kami diberi tahu para senior untuk menulis yang ringan-ringan saja, gak usah terlalu berat. Dengan kewajiban minimal 300 kata, harusnya sih ini menjadi mudah. Btw, artikel yang  saya buat rata-rata berkisar 1000-2000 kata.

Ketika memulai aktifitas ini, saya mencoba menerapkan konsep free writing Natalie Goldman dan juga Hernowo Hasyim. Keduanya memiliki konsep yang mirip, meskipun mungkin mereka menulis dalam dua buku berbeda dan tak saling interaksi. Jadi, free writing itu kurang lebih aktifitas menulis yang dilakukan sesukanya kita, mengetik secara spontan kata-kata yang dipikirkan otak tanpa intervensi edit atau jeda karena merasa kurang sreg. Soal edit, itu soal belakang setelah satu tulisan utuh selesai dibuat.

Kelihatannya mudah, tapi bagi yang sering gak pede (bahkan pada diri sendiri) akan tulisannya, kadang penyakit jeda, edit dan baca ulang terus menghinggapi. Padahal, katanya ini gak bagus, karena intervensi ditengah-tengah membuat tulisan itu malah bisa ide-ide yang muncul spontan menjadi lepas. Katanya lagi nih, ide yang muncul spontan justru ide yang berkualitas.

Saya bisa berargumen seperti ini yak arena saya merasakannya sendiri. selama pekan pertama, saya masih dihinggapi penyakit mengedit tulisan ditengah jalan saat tulisan dibuat. Dampak paling simpel sih, banyak waktu yang terbuang karena proses penulisan selalu dihiasi jeda dan jeda.

Kabar bagusnya, ketika free writing semakin diterapkan, kini perlahan penyakit suka mengedit tulisan ditengah proses pembuatan tulisan itu semakin terkikis. Kini, di pekan ketiga saya ng-ODOP saya sudah mampu mengalirkan tulisan tanpa lihat-lihat lagi ke belakang, Justru kini saya malah males ngedit, begitu tulisan dirasa beres, dan tentu saja jumlah kata sudah lebih dari 300 kata, saya akan berhenti dan langsung memposting di blog saya. Bodo amat kalau tulisan itu jelek, … hehehe.

Jangan ditiru ya, karena harusnya kita tetap harus melakukan editing setelah tulisan itu beres. Itu mah akunya yang sering males aja.

Balik lagi ke pertanyaan awal tulisan ini, apa perlunya kita melakukan free writing? Ini mah subjektif ya, karena ini menurut saya saja. Setidaknya, ada tiga alasan mengapa saya (dan juga kamu) perlu mengasah kemampuan free writing ini.

Pertama, free writing mengasah kemampuan saya dalam mengalirkan ide yang melintas di benak ini ke dalam tulisan. Patut diakui, ide yang spontan itu lebih berasa ‘greng’ dibanding yang dicari-cari, diimpleng, dipikirin terus-terusan.

Kedua, free writing membantu saya membuat tulisan cepat. Yap, untuk artikel 300 kata, rata-rata saya bisa menuliskannya dalam waktu kurang dari setengah jam. Tentu ada limitasinya. Karena spontan, tulisan-tulisan free writing yang saya buat terkadang tak kuat data atau didukung fakta yang banyak. Tapi ini kan wajar, karena saya mengeliminasi proses riset data sebelumnya.

Ketiga, ini masih berhubungan dengan alasan kedua, free writing membantu saya mengasah kemampuan menulis saat kondisi mepet dan di buru waktu. Emang kapan saya sering dilanda kondisi mepet waktu dan diburu waktu yang sedikit? Saat saya ikutan lomba flash blogging. Ini semacam lomba blog competition yang dilakukan on the spot dan hanya diberi jeda waktu yang sedikit, rata-rata cuma satu jam, untuk membuat tulisan dan segera posting di blog. Saya sih belum menjajal flash blogging lagi semenjak ikut ODOP ini. tapi membayangkan betapa saya mampu meningkatkan kecepatan menulis dan kemampuan menangkap ide dan mengalirkan tulisan, rasanya saya makin pede ikutan flash blogging.

Btw, mau tau lebih banyak soal flash blogging? Sabar,…tulisan berikutnya nanti saya coba ceritain lebih detail. Itu pun kalau saya mood yaa ….

 

 

 

Ofi Gumelar

4 thoughts on “Free Writing, Latihan Mengalirkan Tulisan

Leave a Reply to Ananda Musdalifah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *