Memaknai Sekeping Kisah di Miyazaki

Salah satu sudut kampus University of Miyazaki

Kuliah di luar negeri itu bukan soal prestise, ini lebih dari perjalanan memaknai hidup!

Udara pagi masih terasa menusuk kulit. Bandara ini tak begitu ramai sebenarnya. Hanya ada beberapa pelancong yang hendak meninggalkan kota kecil ini. Saya dan ketiga teman termasuk diantaranya.

Dia menggenggam tangan saya begitu erat. Sambil mengucap salam perpisahan, kami saling membungkuk. Memberi penghormatan sesuai budaya mereka. Tsumura adalah kakek tua yang begitu hangat pada pendatang, terutama pada orang Indonesia seperti saya. Katanya ia pernah tinggal di Jakarta beberapa tahun ke belakang. Itulah mengapa menjumpai diaspora Indonesia seperti saya di kota tempat tinggalnya seperti mengulang memori petualangannya di tanah nusantara. Bagi kami, ia serupa penolong dalam menghadapi gagap budaya sesaat tiba di Miyazaki.

Pagi ini, ia bersama beberapa teman mengantar saya pulang. Misi kami di kota ini sudah selesai. Kami harus segera kembali ke Indonesia dan mengimpelemtasikan ilmu yang kami peroleh selama modok di University of Miyazaki setahun penuh kemarin.

Setiap kali ada perpisahan, saya selalu merasa terharu. Saya harus menutup satu lembaran kisah yang menyenangkan bersama teman-teman disini dan segera memindahkannya ke album memori kenangan. Berat rasanya harus kehilangan momen bisa berinteraksi dengan orang-orang yang begitu hangat untuk kita.

But, life must go on.

ooOoo

Di ruang tunggu keberangkatan pesawat ini saya coba merenung. Otak saya mencoba memanggil kepingan-kepingan memori perjalanan hidup saya ke belakang. Perjalanan hidup di tahun 2014 ini mungkin akan menjadi salah satu momen bersejarah di hidup saya.

Benar apa yang dibilang orang, sesungguhnya kuliah itu bukan soal mempelajari ilmu pengetahuan secara teknis saja. Lebih dari itu kita belajar soal hidup, kita ditempa mengerti makna hidup ini.

Mendapatkan kesempatan untuk kuliah S2 di luar negeri secara gratis adalah suatu berkah bagi saya. Ini bukan hanya mengenai prestise kuliah di luar negeri, lebih dari itu adalah soal bagaimana kita bisa mempertanggungjawabkan apa yang sudah diamanatkan kepada kita. Ada banyak pelajaran, pengalaman, dan hikmah yang saya dapat selama menjalani petualangan hidup di sini.  Dan saya yakin, ini akan menjadi pijakan bagi saya dalam menata hidup ke depan. Pengalaman setahun hidup di sini bakal membawa impact yang besar bagi hidup saya ke depan.

Kalaulah harus mengambil pelajaran dari secuil pengalaman berharga ini, saya coba membuat beberapa catatan tentang pengalaman saya selama menjalani hidup di Miyazaki.

Nothing Imposible. Everyhing is Possibble

Dulu saya berpikir buat mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri itu seperti mencoba meraih bintang di langit. Imposible gituh. Da say amah apa atuh, di sekolah gak pernah juara kelas, Kuliah S1 juga bukan di universitas top, kurang gaul dan gak pernah aktif berorganisasi, serta kemampuan Bahasa inggris juga pas pasan. Dengan sederet kualifikasi tersebut, saya merasa tak akan bisa meraih beasiswa.

Tapi disitulah ajaibnya tuhan. Kita tak pernah tahu bagaimana Ia bekerja, seperti apa ia mentakdirkan jalan hidup kita. Ketika kita punya mimpi, secara tak sadar kita bergerak untuk mewujudkannya. Saya sebutkan mimpi ingin kuliah lagi dengan beasiswa tersebut dalam doa-do’a saya. Perlahan saya bergerak memperbaiki kemampuan Bahasa inggris , terus berusaha mengejar informasi beasiswa, dan sebagainya.

Dan cling,…. tahu-tahu saja saya mendapatkan kesempatan tersebut.

Why we should be inferior?

Di Miyazaki saya belajar menambah pede saya. Saya termasuk tipikal orang yang selalu merasa inferior jika berhadapan dengan orang lain, terutama teman yang beda negara. Saya termasuk tipikal orang yang selalu menganggap bule atau orang asing itu pasti hebat, pasti lebih pintar dari orang Indonesia. well, ternyata saya salah.

Bersama mereka yang mengejar mimpi di Miyazaki

Di sini saya menemukan kalau ternyata mereka saja saja dengan kita. Di kelas, banyak teman asing yang kemampuan akademisnya gak jauh-jauh amat dari saya. Pada beberapa mata kuliah saya bahkan bisa mengungguli mereka. saya bahkan diminta oleh pihak universitas untuk membimbing mahasiswa jepang dalam belajar Bahasa inggris, serta menjadi mentor untuk mereka yang belajar berdiskusi dalam kelas internasional. See? Pede saya meningkat.

Damn I Love Indonesia

Hidup di luar negeri kadang bikin kita kangen pada negeri sendiri. hal-hal remeh yang sebelumnya kita abaikan terkadang malah ngangenin. Kalau dipikir-pikir, ini membuat saya jadi rindu tanah air.

Soal kebanggaan, disini saya bertemu dengan orang-orang yang begitu respek terhadap Indonesia. Tsumura adalah salah satunya. Ia begitu mencintai Indonesia. ia rindu dengan keramahan orang Indonesia, Ia terkagum-kagum dengan citarasa masakan padang yang lezat, Ia begitu kangen ingin datang lagi ke Bali. Teman kuliah saya asal Slovenia terkagum-kagum dengan keragaman budaya negeri kita. Ia banyak tahu tentang suku-suku di Indonesia yang katanya jumlahnya ribuan.

Yap, apa yang saya temukan di Miyazaki membuat saya lebih mencintai Indonesia. Saya yang tadinya meniatkan kuliah sekedar belajar sambil traveling keluar negeri, jadi lebih serius belajar untuk berkontribusi bagi negeri nusantara ini selepas beres kuliah.

Learn Tolerance

Sebagai muslim yang tinggal di mayoritas penduduknya non muslim, saya bisa merasakan bagaimana susahnya menjadi orang minoritas. Mau sholat, gak ada masjid disini. Saat puasa, banyak orang berseliweran sambil membawa makanan. Bau semerbak masakan tercium dari kantin kampus.

Perlahan, saya mengerti bagaimana susahnya jadi minoritas. Selama di Indonesia , sebagai seorang muslim, saya terkadang menuntut orang-orang yang berbeda paham untuk lebih mengerti kita. ada banyak kelompok garis keras yang keukeuh memaksakan apa yang mereka Imani untuk dituruti minoritas. Sungguh, dari sini saya belajar bagaimana untuk lebih bertoleransi.

I found my passion here

Di Miyazaki juga saya akhirnya menemukan passion saya, menulis. iya karena jadwal perkuliahan yang tak begitu padat membuat saya memiliki banyak waktu untuk bersantai. Di sela-sela waktu luang tersebut saya akhirnya belajar menulis. saya coba menuliskan kisah perjalanan hidup selama di Miyazaki tersebut dalam bentuk artikel.

Keyakinan bahwa menulis adalah passion saya semakin menebal manakala tulisan saya dimuat di surat kabar Pikiran Rakyat. Dari sini saya merasa bahwa tulisan saya sudah layak baca. Dari sinilah saya semakin serius menekuni kegiatan menulis tersebut hingga saat ini.

Suara pelantang di ruang tunggu ini berbunyi. Panggilan untuk segera memasuki pesawat telah disampaikan. Saya segera berdiri membereskan beberapa barang bawaan.

Tiket sudah ditangan. Dengan berat saya melangkah menuju petugas maskapai. Saya menghitung langkah kaki ini. Ini adalah pijakan kaki terakhir saya di bumi Miyazaki. Ada banyak kenangan tertinggal di sini. Entah kapan saya akan kembali lagi…

Ketika tulisan dimuat di koran, saya merasa berada di jalur yang tepat dalam menemukan passion

 

 

Ofi Gumelar

2 thoughts on “Memaknai Sekeping Kisah di Miyazaki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *