Menulis Ala Rowling, SGA dan Rossie Indira

Mulailah menulis hal-hal yang kamu ketahui, tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri – JK Rowling

Menulis itu mudah! Mungkin itulah yang ingin disampaikan JK Rowling dalam pernyataannya diatas. Iya, hal termudah untuk ditulis adalah menuliskan apa yang kita ketahui, pengalaman atau perasaan kita. karena berdasarkan apa yang kita ketahui dan rasakan, maka mudah saja kita menuangkannya dalam bentuk tulisan. Mungkin mirip-mirip curcol pribadi yaa?

Soal menulis berdasarkan pengalaman, saya jadi teringat pada dua buku koleksi saya. Buku pertama, judulnya Jejak mata Pyogyang karya Seno Gumira Ajidarma (SGA), sedangkan buku kedua berjudul Surat Dari Bude Ocie, karya Rossie Indira. Kedua buku tersebut menceritakan pengalaman traveling penulisnya. Ada yang unik dari kedua buku tersebut yang bisa ditiru untuk menuliskan pengalaman kita menjadi sebuah buku.

Buku Jejak Mata Pyongyang adalah buku yang bercerita tentang suasana kota Pyogyang dari kacamata Seno. Ia mengunjungi kota ini ketika menjadi juri pada festival film internasional yang digelar disana. Buku ini ditulis justru beberapa tahun setelah kunjungannya tersebut. Jadi, tidak langsung ditulis seketika.

Nah, yang unik adalah cara Seno mendapatkan ide tulisannya. Karena ia menulis dalam rentang jarak waktu yang jauh, ia menarik ingatannya melalui foto-foto jepretannya selama berkelana ke negeri Korea Utara tersebut. Iya, ia seperti menuliskan deskripsi foto. Untungnya setiap satu fotod engan foto lainnya seolah merupakan rangkaian cerita, ia kemudian bertutur bercerita sisi lain Pyongyang berdasarkan fotonya tersebut. Saya pikir, buku ini menjadi menarik karena ia bercerita tentang sebuah kota di negeri yang tertutup sehingga mengundang rasa ingin tahu pembacanya.

The point is, kita bisa menulis pengalaman berdasarkan foto-foto koleksi kita. Jadikan foto-foto tersebut sebagai panduan untuk kita membuat narasi tulisan.

Buku kedua ini bercerita tentang perjalanan Rossie melintasi berbagai negeri Amerika Latin. Ia melintas benua latin tersebut, mulai dari Cile, Peru, Argentina Hingga Uruguay. Persis seperti buku pertama, daya tarik buku ini yaa karena negeri-negeri yang dilintasinya sangat jarang dibahas, kecuali dari sisi sepakbolanya. Ia, negara-negara ini memang langganan peserta Piala Dunia, dan pemain-pemainnya melanglang buana diberbagai klub tenar eropa.

Nah, yang unik dari buku kedua adalah bagaimana cara Rossie bertutur menceritakan pengalamannya melintasi negeri-negeri yang banyak dihuni suku Indian ini. Ia menarasikan kisahnya dalam bentuk surat yang dikirimkan untuk keponakannya di Indonesia. Unik kan? kita seolah-olah diajak membaca surat dari orang terdekat kita yang sedang ada di negeri jauh disana.  Entah apakah memang benar Rossie menuliskannya atau hanya teknik unik bertutur saja? Saya tak tahu, yang pasti caranya anti mainstream. Ya, mungkin ini bisa menjadi alternatif untuk gaya bercerita di tulisan yang kita buat. Tak banyak yang membuat tulisan bergaya surat seperti yang disusun Rossie ini.

Oke, setelah memabca uraian diatas, semoga aja kamu keidean untuk membuat tulisan sebagaimana kedua buku tersebut.

Yuk, nulis…

 

Ofi Gumelar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *