Menyoal Energi Surya

Setiap kali saya berangkat ke kampus di University of Miyazaki, ada sesuatu yang menarik perhatian saya. Setiap berjalan kaki dari asrama mahasiswa menuju ruang kelas, saya harus melewati sebuah instalasi panel surya yang sangat besar. Menarik karena sebelumnya saya belum pernah menemukan instrumen sebesar ini di Indonesia. Begini Penampakannya :

ImageImage

Lebih jauh mengamati kondisi di sekitar kampus, ternyata gedung-gedung di lingkungan kampus juga rata-rata memasang instrumen panel surya ini di atapnya. Bahkan vending mesin minuman ringan pun memakai panel ini.

ImageImageImage

Sedikit penasaran, saya mecoba mencari informasi tentang ini. Ketika saya tanya kepada salah seorang mahasiswa teknik di sini, ternyata University of Miyazaki ini memang menjadi pusat penelitian energi surya di Jepang.  Sejak terjadinya tragedi bocornya instalasi nuklir di Fukushima akibat tsunami beberapa tahun lalu, Pemerintah Jepang memang intensif mengembangkan energi alternatif untuk menggantikan ketergantungan akan energi nuklir. Kampus ini dipilih karena kota Miyazaki memang kota yang intensitas sinar mataharinya paling tinggi di Jepang. Pantaslah ada instalasi panel surya sebesar itu di kampus ini. Instalasi ini sampai sekarang bisa menghasilkan energ listrik sebesar 179 Kilowatt. Menurutnya, jumlah ini bisa mensuplai 3% dari kebutuhan energi di kampus. Lumayan juga yaa…

Pikiran saya langsung menerawang jauh ke negara saya, Indonesia. Letak geografis Indonesia yang berada di daerah khatulistiwa memberikan keuntungan tingginya intensitas sinar matahari di Indonesia. Semua kota di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar terkait hal ini. Coba kota mana di Indonesia yang curah mataharinya sedikit, mungkin kalau pun ada bisa dihitung dengan jari. Andai saja kita bisa memanfaatkannya dengan optimal untuk penggunaan energi surya ini, saya yakin potensinya akan sangat besar sekali. Sudahkah pemerintah kita menyadari hal ini?

Karena saya bukan ahlinya di bidang energi, namun saya penasaran akan hal ini, saya coba-coba cari keterangan mengenai hal ini.

Kebijakan penggunaan energi alternatif terbarukan (termasuk energi tenaga surya tentunya) ternyata sudah digagas sejak 30 tahun yang lalu oleh pemerintah Indonesia. Dalam berita di detik.com (*) disebutkan bahwa menurut Wakil Ketua Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia, Surya Darma, kebijakan ini sudah digagas sejak tahun 1980-an. Pada era itu, Indonesia sudah memiliki roadmap mengenai diversifikasi energi termasuk energi terbarukan. Namun, hingga kini pengimplementasiannya dinilai masih sangat kurang.

Pertanyaannya, sudah sampai dimana implementasi roadmap tersebut?

Menurut kacamata pengamatan saya, Indonesia masih belum memperhatikan dengan serius akan potensi energi terbarukan ini. Padahal jelas, Indonesia adalah negara yang memiliki sumber daya yang melimpah, termasuk untuk bahan energi terbarukan. Contohnya intensitas sinar matahari yang sangat tinggi di Indonesia. Untuk energi terbarukan lain, sama saja, kita kaya akan sumber dayanya. Tenaga ahli? waah, orang pintar di Indonesia banyak, yakinlah banyak akademisi dan praktisi yang sangat mumpuni di bidang ini. Negara kita juga punya banyak perguruan tinggi yang levelnya sudah mendunia. Apa lagi coba?

Ketika saya mengintip laman situs ESDM (**) tentang kebijakan energi terbarukan, ternyata kebijakan penggunaan energi surya dan energi alternatif lainnya sudah tertuang secara tegas dalam pokok-pokok kebijakan energi Indonesia. Poin-poinnya pun sudah sangat komprehensif untuk pengembangan energi surya ini di Indonesia. Artinya secara kebijakan sudah sangat oke,.. kembali yang jadi pertanyaan, bagaimana implementasinya?

Jika kita mencermati keterangan dari Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia diatas, roadmap yang disusun sejak 30 tahun yang lalu hanyalah sebatas dokumen rencana yang mandek, tidak berjalan sebagaimana mestinya. Fokus bangsa ini sepertinya tidak beranjak dari kebijakan lama, prioritas lebih ditekankan kepada energi minyak dan gas bumi, yang sebagaimana kita tahu lama-lama akan habis dan sekarang pun kita sudah mengimpornya dari negara lain.

Beberapa alasan mungkin bisa menjadi pembenaran akan tersendatnya kebijakan ini. Pertama, alasan finansial. Pengembangan energi alternatif ini jelas memerlukan dana besar, baik untuk komponennya, operasionalnya maupun riset dan inovasinya. Kedua, masih tumpang tindihkan kebijakan di level pusat. Kadang kebijakan di suatu kementerian bisa bentrok dengan kementerian lain. Institusional nya masih lemah istilahnya, hehehe…ketiga?waaahhh kebanyakan entar saya cari-cari alasannya.

Saya, yang berharap agar kondisi ini bisa berubah, bermimpi suatu saat akan ada perubahan besar-besaran dalam pola pandang bangsa ini terhadap energi,…bergeser dengan fokus utama pada energi alternatif terbarukan, yang jelas-jelas ramah lingkungan, renewable,..dsb. Sedih juga melihat potensi besar bangsa ini tidak dimaksimalkan secara penuh. Lagi-lagi kita harus melihat bahwa kita tertinggal lagi dari negara lain, katakan lah Jepang, yang ‘kesadarannya akan energi alternatif’ baru beberapa tahun belakangan.Lagi-lagi kita hanya jadi penonton,..

Sudah dulu ahh,…nanti makin jauh melanturnya.

Salam dingin (disini lagi dingin soalnya!!),

OSG

*) http://finance.detik.com/read/2013/10/02/171612/2375868/4/pemanfaatan-energi-terbarukan-di-indonesia-selama-30-tahun-mandek

**) http://www.esdm.go.id/news-archives/56-artikel/3342-pokok-pokok-kebijakan-energi-nasional.html

Ofi Gumelar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *