Pantai Aoshima, Tempat Melepas Penat di Miyazaki

Melepas penat di pantai Aoshima

Satu hal yang membuat saya senang kuliah di University of Miyazaki adalah karena lokasi kampusnya yang dekat dengan pantai. Sebagai orang yang di Indonesia tinggal di daerah yang jauh dari pantai, pergi ke pantai menjadi rekreasi yang mahal bagi saya. Saya dan keluarga biasa pergi ke Pangandaran setahun sekali, itu pun perlu menempuh perjalanan yang jauh dan lama.

Pantai Aoshima adalah destinasi wisata yang lokasinya hanya berjarak sekitar 5-6 km dari kampus dan dormitory saya. Jarak yang sangat pendek, sehingga bisa ditempuh cukup dengan bersepeda. Oh ya, tahu kan kalau saya ini hobi bersepeda? Kemarin saya sudah ceritakan sedikit soal hobi saya ini.

Hampir seminggu sekali saya menyempatkan diri untuk melancong ke pantai Aoshima. Terkadang saya pergi bersama teman kampus, dan kalau mereka bosan saya bisa saja pergi sendiri. biasanya saya pergi di hari sabtu atau minggu, hari libur kuliah. Tapi pernah juga kalau lagi suntuk berat dengan kerjaan kuliahan, saya akan kabur sejenak ke pantai ini untuk sekedar mencari udara segar.

Untuk menuju pantai Aoshima, ada dua jalur yang bisa ditempuh. Melewati jalan raya, atau menyusuri jalan desa melewati hamparan sawah dan kebun. Oh ya, Miyazaki boleh dibilang daerah sentra pertanian karena iklimnya yang lebih tropis dibandingkan wilayah lain di Jepang. Tak heran disini banyak ditemui sawah, ladang dan kebun.

Jalur pedesaan menuju pantai

Saya paling suka melewati opsi kedua, melewati jalur pedesaan. Selain karena lengang, saya senang jika berpapasan dengan kakek dan nenek petani di sawah atau kebun. Mereka ramah-ramah, biasa menyapa saya meskipun mungkin sekedar basa basi. Ohaiyo, konichiwa, atau otsukare samadesu adalah beberapa sapaan singkat yang sering kami lontarkan.

Melewati kebun jeruk

Pernah suatu waktu saya dan teman-teman diajak untuk panen jeruk hanya karena kami sering membeli jeruk di kebun mereka. Soal ini, nanti lah saya ceritakan lagi di blogpost selanjutnya.

Oh ya, dari kampus menuju Aoshima juga bisa ditempuh dengan transportasi umum. Ada bus kota dan kereta api yang melewati rute pantai ini. sayangnya, waktu keberangkatan kedua sarana transportasi ini sangat jarang, sehingga kurang efektif bagi saya untuk menuju ke sana.

Di depan stasiun kereta api terdekat ke pantai

Aoshima sebenarnya bukan pantai yang ramai. Beberapa kali berkunjung ke pantai ini, saya tak pernah mendapati tempat ini penuh sesak oleh turis. Justru karena pantainya yang sepi inilah yang membuat saya senang mampir ke sini.

Oh ya, ombak di pantai ini tak begitu besar.  Biar pun begitu, pantai ini sering dipakai oleh mereka yang sedang belajar surfing, meskipun saya yakin hanya untuk para pemula. Soalnya ya itu tadi, ombaknya tak begitu besar.

Satu hal yang menjadi ciri khas dari pantai ini adalah adanya pulau kecil yang terdapat kuil didalamnya. Pulaunya sih tak begitu jauh dari bibir pantai, karena telah dikoneksikan dengan jembatan batu. Asyiknya, untuk para turis disediakan semacam bajaj atau mungkin lebih mirip tuktuk di Thailand. Saya yang biasa bersepeda sih bisa menuju pulau ini langsung saja.

Jembatan menuju pulau

Kuil Aoshima biasa digunakan untuk menyelenggarakan pernikahan. Tentu buat mereka yang masih menganut kepercayaan asli Jepang. Bukan apa-apa, banyak teman Jepang saya yang justru menyatakan mereka tak percaya agama,… yaa mungkin karena mereka lebih banyak pake logika kali ya?

Pada bulan-bulan tertentu di pantai ini biasa diadakan semacam festival mencari kerang. Seru sih, dimana anak-anak dan orang tua berebut nyemplung ke pantai untuk mencari kerang. Beberapa pria bahkan menggunakan sejenis pakaian trandisional yang hanya bercawat saja. Seru!

Oh ya, di lokasi pantai ini juga terdapat botanical garden. Lokasinya berdekatan dengan kios-kios pedagang souvenir khas pantai Aoshima. Saya biasa mampir ke kebun raya ini setelah puas main-main di pantai atau kuil Aoshima. Kalau merasa panas dengan udara pantai, saya bisa sedikit berteduh di bawah pohon-pohon rindang di sana.

Btw, untuk masuk ke lokasi pantai maupun botanical garden ini kita tak dipungut bayaran, alias gratis lho. Nah, ini pula yang membuat saya nyaman sering-sering main ke sini. Gratis sih!

Oleh-oleh pantai Aoshima ini tak begitu berbeda dengan destinasi wisata umumnya. Kaos oblong bercetak nama pantai Aoshima, gantungan kunci berukir nama Aoshima atau Miyazaki, atau pun mug. Kalau mencari makanan khas, ada kue-kue berbahan mangga dan jeruk (Miyazaki terkenal memiliki jeruk dan mangga yang khas) atau sekedar olahan ikan laut. Kalau mencari ikan asin atau ikan laut, rasanya saya menemukannya disini. Pantai Aoshima memang bukan sentra nelayan, karena pelabuhan nelayan terletak pada pantai lain di sebelah selatan pantai Aoshima ini.

Menuju kuil Aoshima
Gerbang Kuil Aoshima

Satu lagi, kalau kamu searching di google, kamu mungkin bakalan menemukan pulau lain dengan nama sama, Aoshima, di Ehime Perfecture. Ini beda yaa …  kalau yang di Ehime, pulau Aoshima terkenal sebagai pulau kucing, karena banyaknya populasi hewan menggemaskan tersebut disana.

 

 

 

 

 

Ofi Gumelar

4 thoughts on “Pantai Aoshima, Tempat Melepas Penat di Miyazaki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *