Sinetron Berjudul Pilkada Purwakarta Itu Sudah Tayang

Sumber gambar: pikiran-rakyat.com

Bahwa politik itu penuh intrik, itu yang bikin unik. Meskipun kadang gak asyik gara-gara money politic, tapi ia tetap menarik untuk ditelisik. Tak seperti sinetron Dunia Terbalik, kisah politik itu penuh polemik karena disini tak berlaku hukum matematik. 

Sebagai salah satu daerah yang akan menyelenggarakan Pemilukada di tahun 2018 ini, Purwakarta mulai memasuki babak baru. Kabupaten terkecil di Jawa Barat ini mulai semarak sejak beberapa bulan lalu. Sisi-sisi jalan raya bertebaran baligo orang-orang yang merasa cakep. Masyarakatnya mulai bergosip seru dengan obrolan seputar siapa yang akan menjadi penerus Bupati Dedi Mulyadi, yang juga akan nyalon di kontestasi gubernur Jawa Barat.

Saya yang sebenarnya tak tertarik dengan urusan politik, jadi ikut-ikutan nimbrung. Iya, gara-gara semua teman nongkrong di warung kopi Ceu Popon berisik ngomongin soal calon bupati ini. Bahaya kan kalau saya  gak komen obrolan mereka saat melahap bala-bala haneut (hangat) plus kopi instan yang sama sekali gak kerasa kopinya, bisa-bisa dibilang kuper. Ugh, jangan sampai deh!

Mendadak orang-orang jadi sok tahu dan sok ahli politik,…yaa setidaknya level kabupaten laah. Saya mungkin salah satunya, hehehe…. Gaya analisanya sudah canggih, sekelas Hanta Yudha atau Efendi Ghozali mah lewat! Referensi terbanyak buat jadi bahan obrolan adalah media sosial facebook dan group WA yang khusus dibuat untuk bergosip soal pilkada ini. Validitas nomor sekian karena yang penting terasa logis, itu sudah cukup.

Selain tukang sablon dan spanduk, yang juga diuntungkan dengan riuhnya persiapan pemilukada ini mungkin pengusaha café tradisional a.k.a warung kopi. Katanya omset mereka lumayan merangkak naik. Saya aja yang biasanya menghabiskan segelas kopi dan dua potong bala-bala atau gehu saat nongkrong pagi sebelum masuk kerja, jadi naikin jatah harian. Minimal jadi tiga gelas kopi dan sepuluh gorengan, karena mendadak banyak orang yang ikutan nangkring dan minta ditraktir.

Begitulah, kalau gak ditraktir yaa gak ada yang nimbrung. Kalau gak banyak yang nimbrung gak asyik ngerumpinya. Kalau lagi ada duit yaa bayar cash, kalau nggak yaa kepaksa ngebon dulu. Tipikal karyawan mah gitu sih!

Kalau diibaratkan sinetron, gaung pilkada ini sudah terasa sejak beberapa bulan lalu. Anggap saja partai politik itu sedang mencari talent buat dicasting calon aktor pilkada, beberapa orang telah meresponnya dengan ngiklan dimana-mana. Kandidatanya lumayan beragam, ada istri bupati, birokrat, politisi, kepala desa, pengusaha, sampai akademisi.

Sayangnya tak ada artis betulan yang ikutan nimbung meramaikan khasanah pilkada Purwakarta ini. Mungkin kalau ada yang ikut jadi makin seru. Kebayang juga nanti pas kampanye bakal banyak yang bela-belain datang ke lapangan tempat digelarnya orasi. Bukan untuk dengerin ocehan tentang visi misi tentunya,..tapi nyari-nyari kesempatan buat selfie bareng. Lumayan kan buat posting di Instagram?

Sempat sih tiga empat bulan lalu terselip dalam berita seupil di koran lokal, katanya Krisna Mukti bakal ikutan nyalon, terus ada juga Lilis Karlina yang menyatakan kesiapannya maju buat jadi calon bupati. Tapi ternyata itu hanya keinginan sesaat saja. Tak ada actionnya. Btw, tahu Krisna Mukti dan Lilis Karlina gak?

Nah, sejak awal tahun 2018 ini, obrolan soal pilkada Purwakarta ini makin kencang. Anggap saja sinetron berjudul Pilkada Purwakarta ini sudah mulai tayang. Setidaknya ada beberapa episode awal yang mulai bergulir. Sebagai penyuka sinetron sekelas Tukang Bubur Naik Haji, saya mau ngasih tahu resensi episode-episode awal Pilkada Purwakarta ini. Kata saya sih seru,… entah kalau kata mas Anang!

Episode perdana mungkin saya kasih judul Duit is More Powerful than Ideology. Soal judul yang rada british,…abaikan saja. Saya nulis supaya kebaca keren saja!

Tayangan perdana ini ceritanya seputar soal pencalonan itu ya perkara duit. Soal ongkos politik itu butuh biaya besar, semua orang sudah maklum. Bukan saja soal biaya marketing diri, tapi juga tentang bagaimana mendapatkan selembar surat rekomendasi partai politik.

Nah, soal biaya untuk selembar surat rekomendasi ini, kemarin saya baru saja membaca tulisan Yusran Darmawan yang membahas soal ini. Yang terbaru dan heboh, mungkin curhatan La Nyalla yang merasa ditelikung Gerindra. Kalau Yusran tulisan khas blogger, maka curhatan La Nyalla ditulis media online dan cetak.

Narasi yang sama kurang lebih dipertontonkan dalam sinetron berjudul Pilkada Purwakarta ini. cerita bermula dari agency casting (baca, partai politik) yang mulai membuka pendaftaran bagi bakal calon bupati untuk mendaftar. Sebut saja mereka menggelar kontestasi audisi ala-ala Indonesian Idol atau X-Factor itu. Ada partai yang secara gamblang menulis Tanpa Mahar (you know who?), ada yang berkoalisi biar keliatan kompak, ada yang memilih sendirian, dan ada juga yang adem ayem gak mengundang calon luar dengan alasan punya kader yang mumpuni.

Bisa ditebak, para calon artis eh, bakan calon Bupati segera meresponnya. Ada yang berbondong-bondong daftar ke semua partai yang menggelar audisi, tapi ada juga yang adem ayem diam tak merapat ke mana pun.

Para pengamat amatiran sekelas saya and the genk yang kalau punya duit pindah nongkrong di warung sate maranggi saling bergunjing. Ada yang bilang ini bagus buat pendidikan politik warga Purwakarta. Partai menyaring bakal calon berdasarkan kualitas mereka, konsep-konsep mereka diadu untuk kemudian dicari yang terbaik. Ada juga yang skeptis, ini mah akal-akalan saja biar keliatan idealis. Katanya yang punya duit yang bakal menang.

Cerita bergulir, rupanya pendapat kedua ada benarnya juga. Menjelang pendaftaran tanggal 8 Januari 2018 lalu, tanpa dinyata ada laporan salah satu kandidat soal permintaan uang dari parpol untuk dukungan bagi dia. Jumlahnya 500 juta untuk satu parpol, dan katanya dia sudah menyerahkan kepada tiga parpol.  Rupanya dia gondok karena ternyata Cuma di-php,…dukungan gak didapat uang ingin kembali. Kurang lebih begitu laah.

Laporan ditindaklanjuti oleh Panwaslu Purwakarta dengan memanggil pimpinan ketiga parpol tersebut untuk mengklarifikasi. Sudah bisa ditebak, seperti kebanyakan politisi, semua pimpinan politik tersebut menyangkalnya.

Soal relasi uang dan penyangkalan, saya ingin mengutip pendapat … yang menyebut bahwa politik itu selalu tentang dua hal, uang dan saya tidak ingat. Nah…

Cerita selanjutnya masih belum jelas,… karena saya kehilangan jejak ceritanya, entah itu dari koran online atau dari media sosial. Tak ada yang menshare berita itu. yang pasti, obrolan di warung kopi mah sudah melebar jauh, seru pokoknya mah…

Ofi Gumelar

6 thoughts on “Sinetron Berjudul Pilkada Purwakarta Itu Sudah Tayang

  1. Kadang politik tidak bisa di hindarkan dari kata uang, yg anda katakan saya sangat menyetujuinya, tapi apakah ada cara agar money politik bisa di hentikan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *